Fattah Syach, 17 tahun. Siswa kelas 2 SMA yang dikenal tampan, pintar, dan berprestasi. Tapi di balik itu semua, dia juga dikenal sebagai pembuat masalah. Perkelahian, pelanggaran, dan wajah babak belur seolah sudah jadi bagian dari hidupnya. Bukan tanpa alasan. Semua itu adalah cara Fattah melampiaskan kesepian dan luka yang dia pendam sejak kecil. Lahir di keluarga kaya, tidak pernah berarti dia bahagia. Orang tuanya terlalu sibuk untuk sekadar hadir. Kasih sayang diganti dengan tuntutan—nilai harus sempurna, sikap harus sesuai harapan. Hingga akhirnya, sang ayah, Jordan, mengambil keputusan sepihak. Menikahkan Fattah. Dengan seorang gadis bernama Aqela Callista— siswi di sekolah yang sama, tapi dunia yang berbeda. Aqela dari kelas IPS. Fattah dari IPA. Mereka tidak dekat. Bahkan tidak saling mengenal dengan baik. Dan yang paling jelas— mereka sama-sama menolak. Namun, penolakan mereka tidak berarti apa-apa di hadapan ego orang tua. Bagi Jordan, ini solusi. Cara untuk mengendalikan anaknya yang dianggap terlalu “liar”. Tanpa pernah benar-benar mencoba memahami— bahwa semua yang dilakukan Fattah… adalah akibat dari luka yang tidak pernah disembuhkan.
................................. Aqela Callista. Gadis yang dikenal cerewet, penuh kata, dan selalu berbicara dengan logika. Di luar, dia terlihat kuat. Selalu punya jawaban. Selalu terlihat “baik-baik saja”. Tapi tidak ada yang tahu— bahwa semua itu hanya cara Aqela bertahan. Karena pada kenyataannya, dia tidak pernah benar-benar punya tempat untuk pulang. Aqela bukan anak kandung. Dia adalah anak angkat dari seorang wanita bernama Mayang. Dibesarkan bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan tuntutan dan tekanan. Semua yang Aqela miliki… ada harga yang harus dibayar. Jika dia tidak menuruti keinginan Mayang, maka biaya hidupnya akan diungkit. Bahkan, hukuman bukan hal yang asing baginya— kesalahan kecil pun bisa berujung pada luka. Aqela dituntut untuk selalu sempurna. Nomor satu. Tanpa celah. Dan sekarang— dia dipaksa menerima sesuatu yang bahkan tidak pernah dia pilih. Pernikahan. Bukan karena cinta. Bukan karena keinginan. Melainkan demi ambisi. Sebuah kesepakatan antara Mayang dan seorang pria bernama Jordan— ayah dari Fattah. Akad itu sah. Tapi bukan berarti hatinya ikut menerima. Air mata Aqela jatuh… bukan karena bahagia, melainkan karena lelah. Lelah hidup di bawah tekanan. Lelah menjadi alat. Lelah… menjadi kuat sendirian.
Ups! Ten obraz nie jest zgodny z naszymi wytycznymi. Aby kontynuować, spróbuj go usunąć lub użyć innego.
Ups! Ten obraz nie jest zgodny z naszymi wytycznymi. Aby kontynuować, spróbuj go usunąć lub użyć innego.