PROLOG

50 2 0
                                        



Di sebuah desa kecil di Kuningan Jawa barat, hidup berjalan tanpa banyak ambisi. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada hiruk pikuk kendaraan, hanya jalanan sederhana dan orang-orang yang saling mengenal... bahkan sebelum sempat berkenalan.

Di tempat seperti itu, rindu bukan sesuatu yang dramatis. Ia hadir diam-diam—di sela makan malam tanpa ayah, di kursi kosong yang tak pernah benar-benar dibahas.

Ada seorang anak laki-laki yang tumbuh bersama itu semua.

Namanya Sabinda.

Putra sulung. Status yang terdengar gagah, tapi seringkali berarti: harus kuat duluan, harus mengalah duluan, dan harus mengerti... bahkan saat dirinya sendiri belum sepenuhnya paham hidup.

Ayahnya bekerja jauh di luar kota. Pulang sesekali, pergi berkali-kali. Sementara ibunya, adalah tipe wanita yang lebih memilih terdengar galak daripada terlihat rapuh.

Dan Sabinda?

Ia memilih tertawa.

Bukan karena hidupnya selalu ringan, tapi karena ia tahu—kalau ia ikut berat, rumah itu bisa benar-benar terasa kosong.

Lahir di bawah naungan Sagitarius, katanya ia adalah jiwa bebas. Suka pergi, suka mencoba, suka mencari arti.

Tapi sejauh ini, pencarian terbesarnya baru satu:

Mencari alasan... kenapa harus bangun pagi.

Dan tanpa ia sadari, hidupnya akan segera berubah. Bukan karena sesuatu yang besar.

Tapi karena hal-hal kecil... yang datang di waktu yang tidak pernah ia duga.

SABINDA SANIKAWhere stories live. Discover now