1. Tawaran

132 20 1
                                        

Jihoon benar benar membenci bagaimana dunia bertindak tidak adil pada yang lebih lemah. Bagaimana dia terus saja harus bekerja lebih keras untuk bisa makan setiap harinya. Tapi di sisi lain ada manusia yang kurang bersyukur bisa makan atau bahkan membuang makanan yang ada di depan mereka.

Jihoon menghela nafas lelah ketika menghitung uang kasir yang kurang beberapa won. "Sial, kemana perginya barang barang itu, kenapa aku harus menggantinya setiap hari," Gerutu Jihoon lelah.

"Kenapa lagi?" Tanya seorang pemuda yang sedang bersiap menggantikan Jihoon, Kang Taehyun.

"Hilang seperti biasanya, padahal yang masuk sedikit tapi aku selalu kehilangan." Jelas Jihoon.

Taehyun terkekeh kecil, "preman sekitaran sini memang cerdik, mungkin kita memang harus mengajukan perbaikan cctv toko ini." Sahut Taehyun sambil melirik cctv yang berada di sudut toko, tapi sama sekali tidak berguna.

"Sajangnim pasti menolaknya, aku muak dengan semua ini," Sahut jihoon.

Taehyun tertawa mendengarnya, "mungkin ini sudah keseratus kalinya kau mengucapkan hal itu," Sahut Taehyun.

Jihoon hanya menghela nafas lelah, dia sendiri pun juga tidak paham kenapa dia masih saja bertahan di sana. Mungkin karena dia tidak pernah menemukan pekerjaan part-time lain di luar sana. 

"Aku pergi dulu hyung, aku masih punya jadwal part-time lain," pamit Jihoon setelah menyelesaikan shiftnya.

---

Lagi-lagi dunia tidak berpihak dengan Jihoon. Dia baru saja menerima pesanan dari seseorang yang mengaku pelancong ke kafe tempatnya part-time. Mereka memesan beberapa makanan yang untungnya bisa Jihoon pahami. Tapi entah apa masalah orang itu, tiba-tiba meminta refund kepada Jihoon dan pergi begitu saja setelah pesanannya selesai. Manager kafe memarahinya dan juga memotong upahnya yang tidak seberapa itu. 

Jihoon pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak ke belakang setelah berpamitan dengan rekan seshiftnya saat melihat keadaan kafe sudah tidak terlalu ramai. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya. Jujur saja dia sangat tidak suka merokok, tapi entahlah, hari ini sepertinya dia membutuhkannya.

"Kukira mahasiswa komunikasi yang berbakat itu tidak paham nikotin,"

Suara yang datang dari ujung lorong samping kafe membuat Jihoon melirik kecil. Tidak memperdulikan entah siapa itu. Tapi mungkin seseorang dari kampusnya.

"Kau cukup sombong ternyata, padahal katanya kau ramah," Ujar seorang pemuda lalu mendekat ke arah Jihoon dan tanpa permisi duduk di sebelah Jihoon sambil memainkan pemantik yang dia keluarkan dari sakunya.

"Aku tidak mengenalmu, tapi sepertinya kau tau banyak hal tentangku," sarkas Jihoon.

Pemuda itu terkekeh pelan, "Ya tentu saja, aku perlu mengenal orang-orang yang akan aku ajak kerja sama," Sahut pemuda itu. "Aku punya tawaran menarik, jika kau tertarik," Lanjut pemuda itu.

Jihoon hanya melirik kecil, "Jika itu tentang mengerjakan tugasmu, cari saja orang lain, aku tidak tertarik," Sahut Jihoon.

Pemuda itu mengganguk paham, "Aku bisa mengerjakan tugasku sendiri, aku tidak butuh orang lain untuk hal itu." Sahut pemuda itu.

"Oh ya, kita perlu perkenalan sepertinya, aku Hanzhen, mahasiswa seni lukis," Pemuda tadi memperkenalkan dirinya.

"Han Jihoon," sahut Jihoon sekenanya.

Mereka diam cukup lama, sebelum Hanzhen memulainya lagi, "Kudengar kau photograper handal," lalu dia diam lagi. "Aku butuh seorang photographer, gajinya yang akan kuberikan bisa menutupi semua gaji part-time mu." Jelas Hanzhen.

Sparkz Blue: The Hunter's GameStories to obsess over. Discover now