Suasana panas memenuhi kamar apartemen Bara. Nafas Alvero berat, tubuhnya gemetar tak terkendali. Wajahnya memerah, keringat bercampur air menetes di pelipisnya. Bara menggeram pelan, frustasi.
"Pas lo sadar nanti. Lo harus bayar mahal, Alvero!"
Bara menarik kasar kaki Alvero. Desahan tertahan keluar dari bibir Alvero. Bara tertegun, lalu mengangkat kaki Alvero. Perlahan tangannya menyentuh penis kecil Alvero.
Alvero mendesah pelan. "Ststhhh... pe..lan.."
Kini wajah Bara ikut memerah "Nggak usah berisik!"
Bara mulai menaik turunkan tangannya. Ia terlihat bingung. Meski pernah beberapa kali bermain dengan wanita, tapi ini kali pertama ia lakukan bersama laki-laki.
Bara mengupat tanpa henti. "Brengsek kenapa gue bantu sih"
Alvero meringis kesakitan karena Bara melakukannya tanpa tempo dan pelumas. "Sak..it ughh".
Bara frustasi "terus gue harus apa kalo lo teriak sakit mulu !"
Alvero terbata-bata "mu..mu..lut"
Bara terkejut "hah gila loooo!!! Lo sadar gue ini siapa?"
Alvero pelan "Lo.. Ba..ra"
Bara terkejut mengetahui Alvero kini sadar siapa dirinya. Suasana diam sesaat hanya desahan Alvero yang memanas,
Bara menatap wajah merah Alvero dengan bibir yang sedikit terbuka serta puting yang menegang , jantungnya berdegup kencang. "Persetan dengan kenormalan!"
Entah ide gila apa yang ia lakukan. Ia meludahi penis mungil Alvero dan terus membantu dengan tangannya.
Alvero mendesah "shhhsssss te..rus"
Bara terseyum tipis.
Desahan Alvero membuat jantungnya semakin berdebar. Ia mencoba mengontrol dirinya, tapi pandangnya tertarik dengan lubang anus Alvero.
Sejujurnya Bara sempat penasaran karena dulu temannya pernah cerita bahwa lubang anal lebih nikmat ketimbang vagina.
Bara mencoba membuang pikiran kotornya. Tapi ia melihat wajah Alvero membuat libidonya meningkat.
Bara menghentikan aktivitasnya. Lalu mencoba memasukan jarinya ke lubang pink itu, membuat Alvero mengeluh hebat. "Ugh.. sa..kit.. ja..ngan"
Bara tidak perduli.
Alvero mencoba memberontak, tanpa pikir panjang Bara memasukan penis kecil Alvero ke mulutnya .
Kesakitan dari jari yang di masukan Bara dan kehangatan mulut Bara membuat Alvero sulit membedakan antara sakit dan kenikmatan.
Tubuh Alvero mulat mengenjang penuh kenikmatan "ughh.. gue.. mau.. ke..luar.." tapi dengan cepat Bara menghentikan aktivitasnya.
Membuat Alvero frustasi dan semakin tersiksa. "Ke..napa berhenti?" Suara Alvero serak.
Bara menyeringai tipis, tapi matanya gelap. "lo pikir gue bakal bantu lo semudah itu?" katanya pelan.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.