chapter 0: persiapan

4 0 0
                                        

Di kota jawa, ada seorang anak bernama Yanto. Yang mana Yanto lakuin aktifitasnya seperti biasa.

Bangun tidur, kuterus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi, kutolong ib-eh bentar. WOI YANTO! PAKE DULU BAJU-

"ALAMAK YANTO!"

...

Oke aku cabut dari narasinya. Bercanda, kalau aku gak nulis, terus siapa yang lanjutannya dong?

Oke lanjut. Nah, pas Yanto selesai berbaju oleh ibunya, Yanto pergi ke dapur untuk masak sarapannya. Ya, dia bisa masak, gak seperti yang satunya sudah minta makan, makannya di rumah temennya pula.

Ketika selesai makan dari masakannya, Yanto pun pamit pergi keluar, tapi lewat jendela karena pintunya terkunci oleh ayahnya yang lupa kunci.

Yanto pun berjalan menuju rumah temannya. Di perjalanan, Yanto pun berpapasan ke beberapa orang di luar sambil berjalan.

"Halo mbak raule. Tuh monyet yang di pohon kelapa ngapa bawa bh ya?"

"Halo juga Yan-eh bentar. We Jute, udah gua bilang jangan bawa jemuran loh, sini turun lu monyet cabul."

Dan pada akhirnya turun juga jute

"Halo kek."

"Halo Yanto. Anak muda jaman sekarang sudah mulai cepat ya," kata kakek sambil naik motor tuanya yang lambat bahkan jarak 1mm saja gak sampai itu motor.

Yanto pun sampai di rumah temannya, Panji. Rumahnya lumayan bagus yang memiliki dua lantai dan kandang kuda di sampingnya, kudanya juga masih terawat dengan bulu putih yang lumayan halus.

Ketika di depan pintu, Yanto panggil temannya dari jendela lantai dua.

"We panji, lu bangun gak?"

Dan Panji pun keluar jendela, rambutnya berantakan dan wajah seperti orang kecapekan.

"Ugh, siapa nih, owalah Yanto. Ngapain kesini? Perasaan libur deh hari ini?" Kata Panji yang mengantuk

"Lah libur? Perasaan sekolah deh hari ini," ucap Yanto

"HAH! SEKOLAH!?" Sontak Panji kaget dan melihat jadwal di handphonenya

"Temen biji, bisa-bisanya dia bohong kalo ini libur, mana belum persiapan pula. Gue balik bentar buat mandi, dan jangan lu sentuh kuda gue ya."

Ketika menunggu mandi, Panji balik sambil membawa delman pakai kudanya. Ketika Yanto pengen naik, Panji hentiin dan tanya soal makanan yang Yanto bawa, Yanto kasih makanan yang pernah dia masak dan merekapun pergi sekolah.

Mereka sampai di sekolah SMP 579 negeri, sekolah dengan gedung tiga lantai dan kondisi sepi. Panji memarkirkan delman dan mereka masuk menuju kelasnya.

Sesampainya di kelas, dua temannya yaitu Riana memanggil mereka kemari dan Hendra berdiam di kursinya.

"Hey Yanto Panji kesini, gua mau bahas game yang menarik loh."

Riana adalah cewek yang ceria, terkadang polos dalam suatu permainan, dan suka bahas game, sedangkan Hendra adalah cowo pediam yang gak diketahui darinya.

Ketika Yanto dan Panji duduk deket mereka, terdapat sebuah suara dari speaker yang disuarakan oleh guru.

"Pemberitahuan para murid, hari ini sekolah bakal jamkos karena rapat dari para guru. Harap ditunggu ya."

Setelah berita tersebut, para murid langsung senang kegirangan. Sedangkan temennya Yanto masih duduk buat diskusi, Yanto sendiri lagi bakar sate di mejanya

"Woilah, rapat pula nih guru," kata Panji yang mulai bosan sambil mengambil satu sate dari Yanto.

"Lah bukannya bagus ya? Biar kita bisa lakuin sesuatu di jamkos," balas Diana yang kelihatan bingung.

"Iya sih, tapi kalo terus terusan rapat, tar nih sekolah bakal jadi sekolah rapat jadimya," katanya yang sedang menyindir ke suatu seri anime.

Tiba-tiba terdapat reporter dan kamerawan yang datang ke kelas.

"Oke, saya dari reporter ngebahas tentang sekolah yang selalu jamkos, apakah nih sekolah cikal bakal jadi spin off dari anime teensaru?"

"WOILAH! SEJAK KAPAN ADA REPORTER DI SEKOLAH?!" Teriak Panji yang kaget.

Di sisi lain, dari ruang rapat. Terdapat para guru yang membahas pak Satrio yang bakal pergi ke tokyo untuk belajar bahasa jepang, tapi pak Satrio kelihatan gak pede untuk pergi.

"Oke pak, lu siap buat pergi ke tokyo," kata temen Satrio yang mendukung.

"Tapi Ris, meskipun gua udah siap, tapi aku gak yakin bisa pergi sendirian apalagi ngobrol dengan orang jepang," bales nya yang ragu.

"Ahh, iya juga ya, ya tar--" katanya terpotong oleh suara pintu terbuka.

Mereka terdiam, menoleh ke pintu terbuka. Terdapat Yanto yang datang dari pintu sambil membawa sate nya.

"Misi, mau sate kalian?" Tanya Yanto.

Para guru tahu kalau Yanto adalah anak paling gak jelas secara tingkah, jadi mereka kelihatan waspada jika Yanto berulah lagi.

"Yanto, udah kami bilang buat jangan masuk ke ruang guru tanpa izin lagi."

"Tapi pak, barusan gua denger kalo pak satrio minta bantuan 1orang buat ikut pergi ke tokyo," jawab Yanto.

Semua guru kaget karena rencana tersebut diketahui Yanto.

"Tapi Yanto, orang yang ikut itu harus orang yang bisa bahasa jepang. Dan lu gak keliatan bisa," gurunya pun ragu.

Uniknya, Yanto secara tak terduga bisa menggunakan bahasa jepang yang bikin para guru kaget. Padahal, Yanto ikutin suatu kalimat di anime yang pernah dia nonton buat dia pakai. Para guru takjub sama kemampuan bahasanya kecuali pak Satrio yang kelihatan curiga.

Besoknya di bandara, Yanto dan pak satrio telah membawa koper pakaian. Selain pakaian, Yanto juga membawa bahan makanan dan alat masaknya.

'Ini pergi ke jepang apa masak di jepang nih anak?' Dalam hati satrio.

Para temen sama orang tua Yanto datang untuk menemuinya. Panji bergegas menuju Yanto sambil nangis.

"YANTO, JANGAN PERGI. KALO LU PERGI, GIMANA DONG BUAT PERGI SAMA-SAMA?" Tangis Panji.

"Temen gak ada akhlak, lu bantu Yanto pergi ke sekolah cuman karena buat makanan doang," balas hendra.

'Temen cepu lu ya,' dalam hati Panji.

Kemudian, Riana kemari sambil membawa handphonenya. Dia sedih karena Yanto bakal pergi ke tokyo.

"Yanto, kalo lu mau main atau ngobrol bareng. Lu bisa kok meski di tokyo dengan hpmu, jadi kita bisa bermain di hp nanti," kata Riana.

Setelah selesai mengurusi Panji, Hendra nemuin Yanto untuk bicara.

"Hey Yanto. Aku tau kalo lu bisa aja terlibat disini, tapi jika mau bantuan, lu bisa panggil kami." Kata Hendra.

Bapak dan ibunya Yanto datang menemuinya dalam suatu obrolan.

"Yanto, bapak bangga denganmu nak. Karena setelah kakakmu pergi ke luar negeri, sekarang lu juga bakal pergi."

Ibunya Yanto kemari untuk bicara.

"Ah Yanto, ibu harap kami bisa ke tokyo bersamamu," jawab ibu Yanto.

Di sisi lain, pak Satrio bertanya pada temannya perihal Yanto ikut pergi.

"Oi Ris, lu yakin Yanto bisa bantu?" kata satrio yang kurang yakin.

"Tenang aja Sat, Yanto kan bisa bahasa jepang ama masak, apa masalahnya?" Tanyanya.

"Bukan itu masalahnya tap-"

Omongannya terpotong oleh suara pemberitahuan pesawat yang melapor tentang pesawat Yanto dan Satrio mau berangkat.

Orang-Orang bergegas menuju pesawat, mau tak mau, Yanto dan Satrio pergi menuju tokyo.

Dan dimulai perjalanan mereka (atau juga bisa disebut permasalahan mereka) menjalani kehidupan di tokyo.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 07 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Tokyo YantoWhere stories live. Discover now