Sekolah ini kalau siang kelihatan megah banget, kayak kastil di film-film. Tapi kalau jam segini? Bangunan tuanya kerasa kayak monster batu yang lagi nungguin mangsa. Angin malem niup kencang di koridor, bawa bau tanah basah sama bau... karat besi yang tajam banget di hidung.
Di atap gedung paling tinggi, ada sembilan orang yang berdiri diem. Anginnya dingin parah, tapi anehnya nggak ada satu pun dari mereka yang gemeteran. Badan mereka kerasa panas, jauh lebih panas dari manusia normal.
Di tengah, Lex berdiri sambil merem. Dia bukan lagi murid pindahan yang kelihatan kalem kayak waktu pertama masuk kelas.
Ada beban berat di pundaknya, beban yang harusnya nggak dibawa sama cowok seumuran dia. Pas dia buka mata, warnanya bukan hitam lagi. Ada kilat emas redup yang ngeri tapi juga cantik di balik kegelapan.
"Gue denger lagi, Lex," bisik Hyunsik di sampingnya. Tangannya ngeremas pagar besi pembatas sampai besinya bengkok. Napasnya kedengeran berat, antara takut sama pengen lepas kendali.
"Suara detak jantung orang-orang di bawah sana... berisik banget di kuping gue. Gue nggak kuat."
Zayyan cuma nunduk, ngelihatin telapak tangannya yang gemeter hebat. Dia bisa nyium bau keringat dingin dari temen-temennya sendiri, dan itu bikin tenggorokannya mendadak kering banget. Rasanya haus, tapi bukan haus air putih biasa. Dia pengen... sesuatu yang lain.
Mereka jadi inget hari-hari awal sekolah.
Waktu mereka pikir getaran aneh di dada itu cuma rasa setiakawan biasa. Waktu mereka pikir lari mereka yang cepet banget itu cuma karena bakat atletis.
Waktu mereka pikir bekas cakaran di tembok gudang olahraga itu cuma ulah kucing liar.
Sial, ternyata mereka senaif itu.
Sekarang, di bawah langit malem yang pekat, mereka tahu semuanya. Ada kutukan kuno yang bangun di dalam darah mereka. Rahasia yang terlalu gede buat ditutupin cuma pakai seragam sekolah atau senyum palsu di depan orang-orang.
Di langit, awan pelan-pelan geser. Ada cahaya pucat yang mulai ngintip. Dan itu bukan matahari.
Wain jadi yang pertama sadar. Dia noleh ke arah yang lain, matanya udah berubah total jadi mata binatang yang liar.
"Udah waktunya," desis dia pelan.
Pas bulan purnama sempurna muncul dari balik awan, cahaya peraknya langsung nyiram atap sekolah.
Detik itu juga, rasa sakitnya mulai dateng. Rasa sakit pas tulang mereka kayak dipatahin terus disusun ulang. Rasa sakit pas kulit mereka kerasa ditarik paksa buat numbuhin bulu. Dan yang paling nyiksa... rasa takut kalau mereka bakal kehilangan jati diri mereka sebagai manusia.
Satu per satu, sembilan bayangan itu tumbang ke lantai, nahan erangan yang nyesek banget di dada. Tapi Lex tetep berdiri paling lama. Dia natap bulan itu dengan tatapan nantang, ada setetes air mata yang jatuh sebelum akhirnya dia ikutan ambruk, ngebiarin raungan liar pertama pecah di tengah sunyinya malem.
Di SMA XODIAC, legenda itu bukan cuma cerita pengantar tidur lagi. Sembilan serigala udah bangun, dan malem ini baru aja dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nine Shadows, One Moon (XODIAC)
Fiksi Penggemar"Sembilan bayangan yang berbeda. Satu rembulan yang menyatukan." Di SMA XODIAC, Lex hanyalah murid baru dengan tatapan yang terlalu tajam untuk remaja biasa. Namun, kedatangannya memicu getaran aneh yang membangunkan insting liar delapan pemuda la...
