Li Wei merupakan putra sulung dari keluarga Li, salah satu keluarga terpandang yang telah lama berdiri di dekat pusat kekuasaan. Ayahnya menjabat sebagai penasihat kaisar, sementara banyak kerabatnya memiliki hubungan erat dengan istana. Beberapa wanita dari garis keluarganya bahkan pernah menjadi selir kekaisaran. Nama keluarga Li dihormati, disegani, dan memiliki pengaruh yang tidak kecil di ibu kota.
Sejak kecil, Li Wei tumbuh di tengah kemewahan yang tidak pernah kurang sedikit pun. Ia mengenakan pakaian terbaik, menerima pendidikan dari guru-guru ternama, dan hidup tanpa perlu mengkhawatirkan masa depannya. Banyak orang menganggapnya sangat beruntung.
Akan tetapi, Li Wei tidak pernah menyukai keramaian politik yang dipenuhi kepentingan tersembunyi. Ia lebih menyukai ketenangan daripada pujian, lebih menghargai kejujuran daripada kekuasaan. Baginya, kehormatan sebuah keluarga tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang mereka miliki, melainkan dari seberapa bersih nama yang mereka tinggalkan bagi generasi berikutnya.
Pandangan itu mulai diuji ketika sebuah skandal besar mengguncang seluruh keluarga Li. Pamannya, seorang pejabat yang selama ini dikenal dermawan dan berwibawa, terbukti menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri. Bertahun-tahun ia menutupi tindakannya di balik senyum ramah dan reputasi yang terjaga baik. Ketika semua kebusukan itu akhirnya terungkap ke permukaan, kepercayaan masyarakat terhadap keluarga Li pun ikut runtuh seketika.
Orang-orang mulai berbisik-bisik di jalanan. Mereka mempertanyakan apakah keluarga Li benar-benar sebersih yang selama ini mereka tunjukkan. Mereka mulai meragukan setiap penghargaan dan jabatan yang pernah diterima keluarga itu. Bahkan beberapa bangsawan yang sebelumnya sering berkunjung dan menjalin hubungan baik, kini perlahan mulai menjaga jarak.
Li Wei menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri. Ia melihat ayahnya bekerja tanpa henti siang dan malam untuk memulihkan kepercayaan istana. Ia melihat para pelayan menundukkan kepala lebih dalam dari biasanya ketika berjalan di luar kediaman. Ia juga melihat bagaimana nama keluarga yang dibangun dengan susah payah selama beberapa generasi, tercoreng hanya karena keserakahan satu orang.
Sejak hari itu, Li Wei mengambil keputusan yang tidak disukai oleh banyak kerabatnya. Ia menolak menggunakan pengaruh keluarga untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ia menolak terlibat dalam permainan politik yang penuh tipu daya dan janji kosong. Dan yang terpenting, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti ia akan mengembalikan kehormatan keluarga Li-bukan dengan kekuasaan atau harta, melainkan dengan tindakan nyata yang dapat membuat orang kembali percaya pada nama mereka.
Ruang utama kediaman keluarga Li dipenuhi suasana yang sangat tegang. Hujan turun deras di luar jendela, sementara seluruh anggota keluarga berkumpul untuk membahas skandal yang telah menghancurkan nama baik mereka. Li Wei berdiri di hadapan mereka dengan wajah yang tetap tenang, meskipun pandangannya terasa tajam.
"Karena Paman Zhang, seluruh keluarga kita kini menjadi bahan ejekan di mana-mana," ucapnya dengan nada yang terdengar dingin.
Beberapa kerabat langsung mengangkat kepala dengan ekspresi tidak senang. "Li Wei, jaga ucapanmu!" tegur salah seorang pamannya dengan nada tinggi.
Li Wei menoleh perlahan ke arah pria itu. "Jaga ucapan? Saat rakyat kehilangan hak dan uang mereka, saat nama keluarga kita diinjak-injak, tidak ada seorang pun yang menyuruh Paman menjaga tindakannya."
"Ia tetap keluargamu," kata bibinya dengan suara pelan, seolah ingin melunakkan keadaan.
"Itulah justru masalahnya." Li Wei mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Jika orang lain yang melakukan korupsi itu, aku hanya akan merasa marah. Namun karena pelakunya adalah keluarga kita sendiri, aku merasa sangat malu."
Wajah beberapa kerabat berubah menjadi tidak nyaman. Salah seorang sepupunya akhirnya berdiri dengan sikap menantang.
"Kau berbicara seolah-olah dirimu lebih baik dari kami semua."
"Aku tidak merasa lebih baik. Aku hanya tidak cukup rendah untuk membela seorang pencuri," jawab Li Wei sambil menatapnya tajam.
"Li Wei!"
Bentakan itu menggema memenuhi ruangan. Ayahnya menatapnya dengan pandangan penuh peringatan, namun Li Wei tetap berdiri tegak tanpa berkedip sedikit pun.
"Bukankah ini kenyataannya?" lanjutnya dengan suara yang tetap tenang namun tegas. "Bertahun-tahun kita menikmati kehormatan dan kepercayaan yang diberikan kepada keluarga ini. Lalu satu orang merusak semuanya hanya karena keserakahannya. Sekarang sebagian dari kalian masih sibuk mencari alasan untuk membelanya."
"Ia adalah saudara kita!" seru salah seorang kerabat lain.
"Dan rakyat yang dirugikan itu juga manusia yang memiliki hak untuk hidup layak." Tidak ada seorang pun yang berani menjawab kalimat itu. Li Wei menghela napas panjang, seolah melepaskan beban yang selama ini ia tahan. "Aku membenci apa yang telah dia lakukan. Aku membenci bagaimana satu tindakan bodoh itu membuat Ayah harus menanggung penghinaan setiap hari. Aku membenci bagaimana nama keluarga Li kini disebut dengan nada curiga di mana pun aku melangkah. Dan yang paling kubenci adalah kenyataan bahwa orang seperti itu membawa nama keluarga yang sama denganku."
Ruangan kembali terasa hening. Tidak ada yang bisa membantah ucapannya, karena jauh di dalam hati mereka semua tahu bahwa luka yang ditinggalkan oleh skandal itu tidak hanya merusak kekayaan dan kedudukan keluarga Li. Ia juga merusak kebanggaan yang selama ini mereka jaga dengan sepenuh hati.
YOU ARE READING
Seribu Luka Dari Orang Yang Sama
FantasyLi Wei adalah putra sulung keluarga terpandang yang dekat dengan istana, hidup dalam kemewahan dan kehormatan. Namun semuanya runtuh ketika pamannya terungkap melakukan korupsi besar yang menyeret nama keluarga Li dalam aib dan kehilangan kepercayaa...
