Bagi Elora, SMA Pancasila itu tempat yang tenang kalau saja satu spesies bernama Aksara tidak pernah dilahirkan.
"Elora, ada kotoran di pipi lo," panggil Aksara dengan wajah serius saat mereka berpapasan di koridor.
Elora refleks meraba pipinya dengan panik. "Hah? Mana? Sebelah mana, Sa?"
Aksara mendekat, tangannya terulur seolah ingin membantu. Begitu jarak mereka tipis, cowok itu malah menyentil kening Elora dengan keras. Plak!
"Kotoran hatinya, maksud gue. Kebanyakan benci sama gue sih lo," seringai Aksara, lalu lari terbirit-birit sebelum sepatu sekolah Elora melayang ke kepalanya.
"AKSARAAAA! GUE SUMPAHIN BAN MOTOR LO KEMPES!" teriak Elora frustrasi.
Elora bukan tipe cewek pendiam yang pasrah. Dia membalas. Siang harinya, saat Aksara sedang tidur lelap di perpustakaan, Elora diam-diam menaruh selotip bening di ujung botol minum Aksara yang terbuka. Begitu Aksara bangun dan mencoba minum dengan haus, airnya tumpah ke seragamnya karena lubangnya tertutup selotip.
Elora tertawa puas di balik rak buku. "Skor satu sama, Aksara!"
Aksara hanya mengusap seragamnya yang basah, menoleh ke arah Elora dengan senyum miring yang menyebalkan. "Mainnya kasar ya, Elora? Oke, game on."
~
