Pagi di pantai itu terlihat seperti halaman kosong. Langitnya luas dan pucat, seolah belum diputuskan warnanya hari itu. Angin datang perlahan dari laut, membawa bau asin yang lembut. Ombak naik turun dengan ritme yang tenang-datang, menyentuh pasir, lalu kembali lagi seolah laut tengah bernafas panjang.
Joelle suka datang ke tempat-tempat yang indah. Alasannya sederhana: mendapatkan pemandangan indah yang akan ia taruh di lembaran sketsa miliknya.
Ia duduk di atas pasir yang sedikit dingin, membuka tas kain yang selalu ia bawa, lalu mengeluarkan buku sketsa miliknya. Sampulnya sedikit kusam, sudut-sudutnya melengkung karena terlalu sering dibuka. Hampir setiap halaman berisi gambar: jalan kecil yang sepi, bangku taman, jendela rumah tua, atau langit yang diambil dari sudut tertentu.
Dengan pensil di tangannya, ia mulai menggambar garis pertama. Garis pertama yang kemudian menjadi bentuk ombak. Lalu garis pantai. Lalu bayangan batu besar yang berdiri sendirian di ujung pasir.
Hari itu terlihat sama seperti hari-hari sebelumnya.
Namun, ketika Joelle mengangkat kepalanya untuk melihat laut, ia menyadari sesuatu yang berbeda.
Ada seseorang menghalangi pandangannya di sana.
Seorang laki-laki berdiri beberapa meter dari garis air sembari menghadap laut. Ia mengenakan jaket tipis berwarna gelap, rambutnya bergerak kecil tertiup angin, di tangannya ada kamera yang digantungkan pada tali di lehernya.
Joelle menatapnya sejenak.
Laki-laki itu mengangkat kameranya, mengarahkannya ke laut, lalu menekan tombol shutter. Suara klik kecil terdengar samar di antara bunyi ombak.
Joelle menunduk lagi ke buku sketsanya.
Namun, tanpa benar-benar ia sadari, tangannya mulai menggambar sesuatu yang beda-bukan lagi ombak, bukan batu di ujung pantai-melainkan siluet seseorang yang tengah memegang kamera.
Beberapa menit berlalu sebelum laki-laki itu akhirnya berjalan mendekat ke arah pasir yang lebih kering. Joelle bisa merasakan bayangannya berhenti tak jauh darinya duduk.
"Pantai ini selalu terlihat berbeda setiap harinya," kata laki-laki itu tiba-tiba, membuat Joelle mengangkat kepalanya.
Dari jarak dekat, laki-laki itu terlihat lebih muda dan tinggi dari yang ia kira. Matanya tenang, tapi ada sesuatu di caranya memandang laut-seolah ia tengah melihat apa yang tak orang lain lihat.
Joelle memiringkan kepalanya, "Terlihat sama di mataku. Lagian, ini pertama kalinya aku datang ke sini." Laki-laki itu hanya tersenyum, seolah setengah setuju.
"Kalau dilihat cukup lama, semuanya akan terlihat berbeda," katanya. Ia mengangkat kameranya sedikit, "Karena itu aku terus memotret."
Joelle menatap kamera itu sebentar, lalu kembali melihat buku sketsanya. "Aku menggambar."
Laki-laki itu sedikit mencondongkan tubuhnya, mencoba melihat halaman yang sedang Joelle kerjakan. Di sana ada gambar pantai yang belum selesai. Dan di sisi kiri gambar pantai itu, ada sketsa seseorang yang berdiri dengan kamera di tangan.
"Sepertinya aku pernah melihat orang itu." Laki-laki itu menunjuk gambar itu.
Joelle menatapnya sebentar sebelum menjawab datar, "Mungkin."
Angin kembali bergerak melewati pantai. Ombak datang dan pergi seperti biasa. Dan laki-laki itu akhirnya ikut duduk di pasir, tak jauh dari Joelle.
"Aku Marshall," katanya.
Joelle menoleh sejenak, "Joelle."
Nama itu singkat ketika diucap, tapi Marshall mengulanginya dalam pikirannya seolah mencoba mengingat bunyinya.
Beberapa saat mereka hanya duduk diam. Marshall kembali memotret langit dan laut, sementara Joelle kembali menggambar. Tak ada percakapan lagi setelah itu.
Namun anehnya, keheningan itu tak terasa canggung. Seolah mereka berdua memang seharusnya berada di sana, pada pagi yang sama, di pantai yang sama.
Ketika Joelle akhirnya menutup buku sketsanya dan berdiri untuk pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah laut-Marshall masih di sana, menatap ombak melalui lensa kameranya-Joelle berjalan meninggalkan pantai tanpa mengatakan apapun.
Namun, di halaman yang baru ia pakai pagi itu, ada gambar baru yang belum pernah ia buat sebelumnya.
Seorang laki-laki di tepi laut, memegang kamera dan ombang yang datang tanpa henti.
To be continued...
YOU ARE READING
When The Waves Look At Us [Marjames]
Fanfiction"There's no place for us in this world, Marshall." - Joelle. "This is our place. The beach and the ocean are our place, Joelle." - Marshall. That was the day the ocean finally looked at them.
![When The Waves Look At Us [Marjames]](https://img.wattpad.com/cover/408710973-64-k871352.jpg)