We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

1.7K 82 2
                                        

Shanon menghela napas panjang, usai menutup novel tebal yang sejak siang tadi dibacanya hingga sore ini.

"Klise." Gumamnya jengah.

Jika sejak awal tahu alur cerita novel itu biasa saja—sumpah deh, Shanon tidak akan mau menghabiskan waktu berharganya untuk membaca hampir 400 halaman seperti ini. Waktu itu bisa saja ia gunakan untuk melakukan hal yang jauh lebih produktif.

Huh! Ini semua karena teman-teman satu tempat lesnya!

Mereka bilang, cerita dari novel berjudul 'The story of Claudie' itu sangat-sangat seru. Mereka bahkan secara berapi-api menyarankan Shanon agar ikut membacanya juga.

Jadinya kan, Shanon penasaran! Makanya ia langsung ikut pre-order, lalu membacanya begitu bukunya sampai.

Tapi apa?

Perkataan teman-teman satu tempat lesnya itu—menurut Shanon—bullshit.

Novel berjudul 'The story of Claudie' itu, sama sekali tidak seseru yang mereka ceritakan.

Sebaliknya, novel itu hanyalah kisah klise tentang tokoh protagonis perempuan yang dikejar-kejar banyak pria berpengaruh, dicintai di sana-sini, lalu pada akhirnya berakhir bahagia bersama satu tokoh pria yang sejak awal sudah jelas akan menjadi pasangan utamanya.

Benar-benar pola cerita yang terlalu mudah ditebak.

Shanon menyesal telah menghabiskan waktunya untuk membaca novel itu.

Namun terlepas dari semua kekesalannya, ada satu hal yang sempat menarik perhatiannya.

Para tokoh figuran.

Jika dipikir-pikir, bukankah hidup sebagai mereka terasa menyedihkan? Mereka hanya penghias cerita, tidak penting dan tidak berpengaruh, bahkan sering kali tidak memiliki dialog berarti.

"Kasihan." Shanon lagi-lagi bergumam.

Kalau dipikir lagi, hidup seperti itu pasti membosankan.

Shanon sendiri jelas ogah berada di posisi seperti itu.

Selama hampir 16 tahun hidupnya, Shanon selalu dipandang sebagai sosok yang sempurna. Bukan semata karena wajahnya yang cantik—bahkan sering dibilang mirip Dewi—melainkan juga karena kecerdasannya, attitude-nya, serta latar belakang keluarganya yang dikenal luas sebagai raksasa di dunia Medis.

Sorotan publik sudah menjadi bagian dari hidup Shanon sejak lama.

Namun bagi Shanon, sorotan itu seharusnya tidak datang hanya karena wajah atau latar belakang keluarga.

Bagi Shanon, sorotan itu harus datang dari value dirinya sendiri: prestasi, kemampuan, pengaruh—bukan sekadar hal yang sudah ia miliki sejak lahir.

Hah~ memikirkan hidup para figuran membuat Shanon jadi mengantuk.

Gadis cantik itu perlahan bangkit dari ranjang, lalu melangkah pelan menuju dapur di lantai dasar. Shanon akan membuat susu putih hangat—konsumsi wajibnya sejak kecil, di kala waktu luang ataupun hendak tidur.

Di sela-sela langkahnya itu, pikirannya kembali tertuju pada para tokoh figuran dalam novel—terlebih khusus novel berjudul 'The story of Claudie' yang barusan selesai dibacanya.

"Kasihan." Gumamnya lagi, seraya berbelok menuju anakan tangga.

"Kalau aku jadi figuran—"

Langkahnya tiba-tiba terpeleset.

"Akh—"

Tubuh mungil Shanon langsung kehilangan keseimbangan.

Pegangan tangga luput dari genggamannya.

Dalam satu tarikan napas pendek, tubuh Shanon terhuyung lalu terjatuh.

Segalanya terasa terlalu cepat. Tangga seolah berputar. Tubuhnya terguling, meluncur tanpa kendali.

Pandangan Shanon bergetar hebat. Kepalanya terasa membentur keras beberapa kali di sepanjang anak tangga.

Suara benda jatuh, napasnya yang tercekat, dan degup jantungnya sendiri saling bercampur dalam satu kekacauan yang memekakkan.

Rasa dingin merambat perlahan ke ujung-ujung jari. Langit-langit mansion tampak berputar samar di atas kepalanya. Semua cahaya perlahan memudar.

Dan Shanon pun tak lagi merasakan apa-apa.

-

𝐓𝐨 𝐁𝐞 𝐂𝐨𝐧𝐭𝐢𝐧𝐮𝐞𝐝🎀

Ivory Or Shanon?Stories to obsess over. Discover now