Prolog

1.1K 210 16
                                        

Hujan turun tanpa suara di atas gedung kaca itu.

Seorang wanita sedang berdiri di sebuah perusahaan gedung tinggi, perusahaan yang namanya selalu muncul di berita setiap harinya.

Wanita itu adalah Charlotte.

Charlotte Austin.

Dia berdiri sambil memegang map tipis di tangannya yang berisi harapan yang terlalu besar untuk sekadar ditampung oleh kertas-kertas di dalamnya.

Waraha Legacy Enterprise terpampang megah di dinding marmer. Perusahaan itu dikenal selektif, hanya menerima yang terbaik.

Charlotte menelan ludah. Tidak ada yang tahu siapa dirinya sebenarnya.

Dia bukanlah anak konglomerat.
Bukan juga pewaris apa pun.

Dia hanyalah seorang gadis yang kehilangan kedua orang tuanya saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Kecelakaan itu merenggut segalanya- rumah, rasa aman, dan masa remajanya. Sejak hari itu, ia bukan lagi anak yang dilindungi. Ia menjadi tulang punggung.

Dua adiknya masih kecil ketika orang tua mereka meninggal. Tangisan mereka malam itu masih sering terngiang di kepalanya. Sejak saat itu, Charlotte belajar menahan tangisnya sendiri.
Ia bekerja apa saja.

Pagi bekerja di sebuah kafe.
Lalu pada sore hari dia mengajar les privat.

Kemudian malamnya dia menyelesaikan kuliah dengan mata yang hampir tak bisa terbuka akibat kelelahan.

Semua demi satu hal, agar kedua adiknya tetap sekolah. Agar mereka tidak merasakan pahitnya kehilangan seperti dirinya.

Blazer yang ia kenakan hari ini dibelinya setelah menabung berbulan-bulan. Sepatu hak rendah itu sudah sedikit aus, tapi ia menggosoknya hingga mengilap semalam.

Ia ingin terlihat pantas dan layak untuk bekerja di sini.

Bukan untuk terlihat kaya. Tapi untuk terlihat layak diberi kesempatan.
Tangannya sedikit gemetar ketika layar digital memanggil namanya.
"Kandidat interview- Charlotte Austin."
Ia menarik napas panjang.
Di kepalanya bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ada biaya sekolah bulan depan.

Ada uang sewa rumah yang hampir jatuh tempo. Ada mimpi dua adiknya yang tidak boleh padam.

Charlotte berdiri.

Langkahnya tenang, meski dadanya dipenuhi doa. Hari ini bukan sekadar interview. Ini adalah kesempatan untuk mengubah hidup mereka.
Dan ia tidak boleh gagal.

_____

Sedangkan di lantai tertinggi gedung pusat Waraha Legacy Enterprise, dan kehidupan yang berjalan sangat berbeda.

Jika Charlotte menghitung setiap rupiah untuk bertahan hidup, maka Engfa tumbuh tanpa pernah perlu memikirkan arti kekurangan.

Sejak kecil, Engfa sudah terbiasa dengan ruang rapat berlapis kaca, makan malam bersama investor asing, dan sorot kamera media bisnis.

Kini, setelah ayahnya mundur perlahan dari posisi eksekutif, tongkat estafet kepemimpinan resmi berada di tangannya.

Ia bukan lagi sekadar anak keluarga Waraha.

Ia adalah wajah baru perusahaan.

Pagi-paginya dimulai dengan laporan keuangan bernilai miliaran. Lau siiangnya diisi dengan negosiasi proyek internasional.

Kemudian .alamnya? Gala dinner, wawancara, atau pesta eksklusif yang hanya bisa dimasuki undangan tertentu.
Hidupnya dipenuhi kemewahan. Mobil sport berjejer di garasi. Jam tangan edisi terbatas melingkar di pergelangan tangannya.

Apartemen penthouse dengan pemandangan seluruh kota menjadi tempat ia kembali setiap malam.

Dan di sampingnya, selalu ada satu nama yang membuat media semakin heboh—

Madison Beer.

Kekasihnya yang cantik.

Terkenal elegan.

Setiap kemunculan mereka bersama menjadi headline. Gaun mahal, senyum sempurna, chemistry yang terlihat seperti dongeng modern kelas atas.

Publik menyebut mereka pasangan ideal.

Namun di balik semua kilau itu, ada ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi.

Engfa menjalani semua dengan ekspresi tenang, percaya diri, ia tahu bagaimana berbicara di depan investor. Ia juga tahu bagaimana tersenyum di depan kamera.

Tahu bagaimana menggenggam tangan Madison dengan sempurna saat difoto.
Tapi ketika pintu penthouse tertutup dan lampu kota hanya menjadi pantulan sunyi di jendela kaca, ada momen di mana ia bertanya pada dirinya sendiri—

Apakah semua ini pilihan?
Atau hanya takdir yang sudah ditentukan sejak ia lahir sebagai Waraha?

Di dunia Engfa, tidak ada kata "kurang".
Namun entah mengapa, hatinya sering terasa… tidak cukup.

______

Tembus 30 vote lanjut

Left Behind In The PastStories to obsess over. Discover now