PROLOG

70 6 0
                                        


Di kawasan Asoke, gedung kaca agensi itu berdiri seperti istana modern dingin, tinggi, dan berkilau. Siang hari ia memantulkan matahari Bangkok yang menyilaukan. Malam hari ia menyala seperti panggung yang tak pernah benar-benar padam.

Di dalamnya, tak ada yang benar-benar milik diri sendiri.

Senyum diatur.

Tatapan dilatih.

Jarak diukur dalam centimeter yang aman untuk kamera.

Dan cinta jika itu muncul harus disembunyikan rapi seperti naskah yang tak lolos sensor.

Kontrak mereka tebal. Berlembar-lembar pasal tentang eksklusivitas, citra publik, interaksi media sosial, hingga siapa yang boleh duduk di sebelah siapa saat konferensi pers.

Tapi tak ada satu pun pasal yang membahas apa yang harus dilakukan jika perasaan itu nyata.

Jika tangan yang digenggam untuk fanservice terasa terlalu hangat.

Jika ciuman dalam adegan meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus dengan make-up remover.

Jika kebencian yang dijual untuk rating berubah jadi sesuatu yang lebih berbahaya.
Mereka menyebutnya branding.

Padahal yang terjadi jauh lebih rumit dari sekadar strategi pemasaran.

PondPhuwin

Di lantai tujuh, ruang latihan dipenuhi cermin besar yang memantulkan dua bayangan yang terlalu serasi untuk disebut kebetulan.

PondPhuwin adalah “official partner.”

Pasangan andalan. Mesin uang. Chemistry yang disebut alami oleh jutaan komentar.

Setiap gerakan mereka telah dipelajari. Setiap senyum telah dihitung.

Tapi ada sesuatu yang tak pernah masuk ke dalam storyboard.

Tatapan Pond yang bertahan terlalu lama ketika kamera mati.

Cara Phuwin menghindari sentuhan justru ketika tak ada yang melihat.

Batas antara peran dan kenyataan mulai kabur. Dan yang paling berbahaya bukanlah jatuh cinta.

Melainkan tidak tahu lagi apakah itu cinta, obsesi, atau sekadar ketergantungan yang dibentuk oleh tuntutan.

NutHong

Di kondo yang hanya terpisah satu balkon, Nut sering berdiri terlalu lama di luar, pura-pura mencari udara.

Padahal yang ia cari hanyalah cahaya dapur Hong yang masih menyala.
Mereka satu grup. Satu jadwal. Satu manajemen.

Hong selalu cerah di depan kamera ceria, spontan, penuh tawa.

Nut selalu menjadi penyeimbang. Tenang. Rasional.

Tak ada yang tahu bahwa setiap candaan Hong terasa seperti pisau kecil bagi Nut.

Karena setiap tawa itu tak pernah benar-benar untuknya.

Cinta dalam diam adalah jenis cinta paling melelahkan.

Dan di dunia mereka, pengakuan bisa berarti akhir dari segalanya.

SkyNani

Mereka dijual sebagai “High School Frenemy.”

Musuh bebuyutan yang selalu bersaing. Selalu beradu tatapan. Selalu terlihat seperti akan bertengkar atau berciuman.

Fans menyukai ketegangan itu.

Manajemen memintanya diperpanjang.

Awalnya hanya permainan. Improvisasi kecil. Sentuhan bahu yang terlalu lama. Tatapan yang terlalu tajam.

Tapi kebencian yang diulang-ulang bisa berubah bentuk.

Dan ketika Nani suatu malam bertanya, “Kita ini benar-benar saling benci, atau cuma pura-pura terlalu lama?”

Sky tidak punya jawaban yang aman.

Karena terkadang, yang paling sulit diakui bukanlah cinta.

Melainkan fakta bahwa perasaan itu tumbuh dari sesuatu yang seharusnya palsu.

DewTee

Apartemen mereka kecil. Terlalu kecil untuk dua orang dengan ambisi besar dan rahasia yang lebih besar lagi.

Mereka teman kampus sebelum semuanya. Sebelum agensi. Sebelum kontrak.

Sebelum kamera.

Berbagi mimpi.

Berbagi lembar naskah.

Berbagi ranjang karena tak ada ruang lain.

Awalnya hanya kenyamanan.

Bahu yang bisa dijadikan sandaran setelah audisi gagal.

Tangan yang dicari saat dunia terasa terlalu keras.

Tapi kenyamanan bisa berubah menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan, jika dibiarkan, bisa menjadi ketergantungan.

Suatu malam Tee berkata pelan, “Kalau suatu hari kita harus pura-pura nggak pernah ada apa-apa, kamu bisa?”

Dew tidak langsung menjawab.

Karena jawaban jujur tidak pernah cocok dengan dunia yang mereka pilih.

The Unspoken ScriptWhere stories live. Discover now