Bab 1

39 12 8
                                        


╔═══━━━─── • ───━━━═══╗
☆࿐ཽ༵༆༒⋘ 𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑡𝑎... ⋙༒༆࿐ཽ༵☆
╚═══━━━─── • ───━━━═══╝

Happy Reading!

***

Hari itu berjalan seperti biasa. Zevriel Arden, seorang pekerja kantoran berusia 23 tahun, meraih ponselnya dari meja kerja dan menekan tombol layar untuk melihat waktu. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Lampu kantor masih menyala terang, meski sebagian bangku sudah kosong.

Hanya ada dirinya dan beberapa rekan kerja yang masih bergelut di antara tumpukan berkas dokumen yang menggunung. Suara ketikan keyboard dan gemerisik kertas yang memenuhi ruangan, menuntut perhatian terakhir sebelum mereka bisa pulang.

Zevriel menghela napas pelan. Matanya terasa lelah, namun tangannya tetap bergerak, menyelesaikan apa yang belum rampung seperti hari-hari sebelumnya.

Terdengar suara bariton yang familiar, memecah keheningan.

"Lah! buset, Zev! masih hidup lu?

Zev menoleh pelan. Fero, rekan kerjanya, muncul dari balik kubikel sambil menyampirkan tas di pundak dan menenteng sebotol air mineral di tangan.

"Gue kira lu udah cabut"

"Belum, tinggal nge-revisi laporan klien. Kalau nggak kelar sekarang, besok makin numpuk, nggak mau gua di teror bos sampe pagi" jawab Zev santai.

Fero mendesah panjang. "Gila sih lu, nggak capek? stress sih gua jadi lu"

Zev berhenti mengetik sebentar, senyumnya tipis hampir tak terlihat.
"Capek" Jawabnya jujur. "Tapi kerjaannya juga nggak bakal hilang kalo ditinggal."

"Yaa nggak salah juga sih," Fero mengangguk.

Zevriel memiringkan kepalanya sedikit, alisnya terangkat sebelah dengan sudut bibir yang naik tipis. Bukan senyum ramah, tapi senyum yang terasa seperti sindiran dibungkus sutra. Matanya menyipit halus, berkilat pelan seolah baru saja melemparkan bidak catur paling menyebalkan ke papan permainan.

"Kalau lu mau bantu, sebenarnya mah dari tadi juga bisa"

Fero terkekeh, mengangkat tangannya tanda menyerah.

"Hahaha, udah lah. Tenaga gue habis, istri gue pasti udah nungguin sambil manyun dirumah. Bisa-bisa dikira gue sengaja lembur biar nggak pulang, abis gue nanti" katanya sambil tertawa kecil. "Gue cabut duluan ya. Jangan lupa istirahat!"

Zev terkekeh pelan.
"Hati-hati di jalan"

"Oh ya, nih"

Fero melempar sebotol air ke arahnya. Refleks, Zev berhasil menangkapnya tanpa banyak gerak.

"Minum dulu. Dari tadi muka lu pucet makin ngga enak di pandang"

"Zev menggeleng tipis, sudut bibirnya terangkat.

"Sialan," gumamnya ringan. "Thanks."

Fero berjalan mundur beberapa langkah, lalu menunjuknya dengan santai.

"Jangan jadi orang terakhir terus. Hidup tuh nggak pernah kasih pengumuman sebelum ninggalin seseorang."

Kalimat itu terdengar seperti candaan.

Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa lebih berat dari sekadar lelucon.

Langkah Fero menjauh, lalu menghilang di balik pintu lift. Ruangan kembali tenggelam dalam ketukan keyboard dan dengung pendingin udara.

Zev hanya menatap kepergian rekannya itu sebentar, senyumnya perlahan memudar, sebelum kembali memusatkan perhatian pada layar di depannya.

Ketika akhirnya selesai, jarum jam sudah mendekati pukul sepuluh malam. Dengan napas lega, ia membereskan meja kerjanya dan bersiap pulang.

--


Sesampainya di apartemen kecilnya, Zevriel langsung melepaskan dasi dan menjatuhkan diri ke sofa.

Ruangannya sunyi, terlalu sunyi. Bahkan bunyi jangkrik pun tak terdengar.

Kepalanya terasa berat, punggungnya pegal, dan rasa lelah seperti kabut tipis yang seakan menyelimuti seluruh tubuhnya.

"Hari ini lebih sibuk dari biasanya," Gumamnya pelan sambil melonggarkan kancing kemeja.

Setelah menghela napas panjang, ia bangkit untuk sekadar membersihkan tubuh yang sudah seharian bekerja. Namun langkahnya terhenti saat Tatapannya menyapu seluruh kamar.

Buku berserakan di lantai,
Baju menumpuk di kursi,
Debu mengendap di sudut-sudut ruangan.
Seperti waktu yang sengaja dibiarkan lewat tanpa disentuh.

Bagaimana bisa ia tinggal di tempat seperti ini?

Apartemen itu bahkan tak lagi terasa seperti tempat pulang. Lebih mirip persinggahan sementara bagi seseorang yang terlalu sibuk untuk benar-benar hidup.

"Huff... nasib kalo jarang pulang." gumamnya lirih

Meski lelah, Zev akhirnya memutuskan untuk merapikan beberapa barang setidaknya. membuat ruangan itu sedikit lebih layak untuk ditinggali.

Saat merapikan kasur, tangannya menyentuh sesuatu yang keras.

Ia mengernyit.

Dengan hati-hati, ia menarik benda itu keluar.

Sebuah buku tua.

Sampul yang kusam, penuh goresan, seolah telah berpindah tangan berkali-kali. Warna merah tuanya hampir menggelap, dan di tengahnya terukir sepasang pedang bersilang dengan tinta keemasan yang mulai memudar. Dan judul yang nyaris tak terbaca.

Judulnya samar, nyaris tenggelam oleh waktu.

"Bayangan di Balik Tahta."

Zevriel memandangnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

"Apa ini?"

Ia duduk di tepi kasur. Rasa penasaran yang sederhana perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seolah buku itu tidak sengaja ditemukan.

Melainkan menunggu.

Dengan napas pelan, ia membuka halaman pertama.

Dan takdir, tanpa suara, mulai bergerak.


╔═══━━━─── • ───━━━═══╗
☟➶➶➶➶➶ 𝑇𝑜 𝐵𝑒 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑖𝑛𝑢𝑒𝑑 ➷➷➷➷➷☟
╚═══━━━─── • ───━━━═══╝

Vote kalau kamu suka yahh!
(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)〈⁠(⁠•⁠ˇ⁠‿⁠ˇ⁠•⁠)⁠-⁠→⭐
Satu vote = semangat author +100 ✨

Lyriaeth Where stories live. Discover now