PROLOG

1 1 0
                                        

Edinburgh, Scotland — 1792
Pagi itu, udara Edinburgh dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah dan bunga liar.

   Bonnie Clark membuka jendela kecil toko bunganya dan tersenyum ketika cahaya matahari menyentuh deretan mawar dan lavender di dalam ruangan. Ia selalu datang lebih awal, sebelum kota benar-benar terjaga. Menyusun bunga adalah caranya menyapa hari.

“Bunga-bunga tidak pernah menolak untuk tumbuh,” gumamnya pelan.
Suara lonceng pintu berbunyi.

“Selamat pagi, Nona Bonnie!”
Seorang perempuan tua masuk dengan langkah perlahan. Bonnie segera menghampirinya dan membantu memilihkan seikat bunga kecil berwarna kuning.

“Untuk apa hari ini?” tanya Bonnie lembut.
“Untuk ulang tahun cucuku.”

“Kalau begitu, bunga ini cocok. Warnanya seperti matahari.”

Perempuan itu tersenyum puas. “Kau selalu tahu cara membuat hari orang lain lebih indah.”

Bonnie hanya menunduk malu.
Di jalan depan toko, anak-anak sering berhenti untuk melihat bunga-bunga di jendela. Mereka menyebutnya Toko Bunga Malaikat. Tidak ada yang tahu siapa yang memberi nama itu pertama kali, tapi semua sepakat Bonnie terlalu baik untuk hidup sendirian di kota yang dingin.

   Siang hari, hujan turun tipis. Bonnie meminjamkan payungnya pada seorang pelanggan dan berkata, “Kembalikan kapan saja. Bunga lebih tahan hujan daripada manusia.”

  Sore menjelang, ia duduk di dekat jendela, merapikan kelopak yang jatuh.
Ia merasa hidupnya sederhana Tenang Dan cukup.
Bonnie Clark adalah gadis yang hidup dari bunga, dan bagi Edinburgh, ia tidak lebih dari itu.

SPECIOUS BONNIE CLARK Stories to obsess over. Discover now