Bandung sore itu tidak jauh berbeda dari dulu. Langitnya abu-abu, dan udara lembab menempel di kulit seperti kenangan yang enggan pergi. Aku berdiri di bawah atap halte, menatap orang-orang yang berlalu dengan tergesa. Tak ada yang istimewa,kecuali satu hal: bau hujan selalu mengingatkanku padanya.
Namanya Nara.
Perempuan dengan tawa yang selalu datang lebih cepat dari pikirannya, seperti ia takut kehilangan momen untuk bahagia. Dulu, kami sering berteduh di halte yang sama ini,remaja SMA yang terlalu muda untuk memahami arti kehilangan, tapi terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
Aku masih ingat caranya menatap langit dan berkata, “Hujan itu egois, ya. Dia turun kapan pun dia mau, tanpa peduli siapa yang belum siap.”
Waktu itu aku hanya tertawa, tapi kini, setiap kali hujan datang, kata-katanya terasa seperti kutukan kecil yang menempel di dinding ingatanku.
Delapan tahun berlalu.
Aku bekerja di sebuah studio desain kecil di tengah kota, hidup dalam rutinitas yang tak banyak berubah. Orang-orang bilang aku sudah berhasil move on,karena aku tidak pernah lagi menyebut namanya, tidak pernah lagi mencari wajahnya di antara keramaian. Tapi sebenarnya aku hanya belajar diam lebih lama, bukan lupa.
Malam-malamku sering diisi oleh kebiasaan aneh: menulis surat-surat yang tak pernah kukirim. Tentang hari-hari yang tak sempat kami habiskan, tentang hal-hal kecil yang seharusnya bisa aku katakan dulu, sebelum semuanya hancur oleh waktu.
Surat-surat itu kusimpan dalam laci, bertumpuk tanpa tujuan. Mungkin karena aku takut menghapusnya berarti menghapus bagian diriku sendiri.
Dan hari ini, ketika hujan turun lagi di Bandung, aku merasa seolah seseorang mengetuk pintu ingatan yang telah lama kututup.
Bukan karena aku masih mencintainya,tapi karena sebagian dari diriku masih hidup di masa ketika dia tersenyum.
