Langit sore di kampus itu berwarna jingga. Alya baru saja keluar dari kelas terakhirnya. Tas selempang menggantung di bahu, langkahnya pelan menyusuri koridor fakultas yang mulai sepi.
Ponselnya bergetar.
Stevan Calling…
Senyumnya langsung muncul.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya sambil berjalan menuju parkiran motor.
“Wa’alaikumussalam. Udah selesai kelas?” suara Stevan terdengar lelah tapi hangat seperti biasa.
“Baru banget. Kamu gimana? Lembur lagi?”
“Iya. Jakarta kejam, dia tidak pernah tidur” jawab Stevan sambil tertawa kecil.
Alya ikut tersenyum, tapi ada rindu yang diam-diam mengendap di dadanya. Sudah hampir lima bulan mereka tak bertemu.
Obrolan mereka mengalir ringan tentang dosen killer, tentang atasan Steven yang perfeksionis, tentang makanan kos yang mulai membosankan, Sampai akhirnya suara Stevan berubah lebih pelan.
“Aku kangen, Ly.”
Langkah Alya terhenti sebentar.
“Aku juga…”
Hening sesaat. Bukan hening canggung, tapi hening yang penuh rasa.
“Bulan depan aku pulang. Cuma Empat hari sih,” lanjut Stevan.
Jantung Alya berdebar. Empat hari. Setelah berbulan-bulan hanya bertemu lewat layar.
“Serius?” suaranya tak bisa menyembunyikan senyum.
“Iya. Aku juga udah nggak tahan cuma lihat kamu dari HP.” Ucap Stevan.
Kalimat itu membuat wajah Alya memanas. Ia segera mengalihkan pembicaraan, takut nada suaranya berubah.
Setelah panggilan berakhir, ia melanjutkan perjalanan pulang ke kos. Jalanan sore itu ramai, tapi pikirannya terasa sunyi. Semua terasa biasa saja sampai ia tiba di kamar kosnya yang kecil.
Ia menutup pintu, Meletakkan tas, merebahkan diri di kasur, kamar itu terasa terlalu sepi.
Teman sekamarnya sedang pulang kampung. Tidak ada suara selain kipas angin yang berputar pelan.
Alya membuka galeri ponselnya, Foto-foto bersama Stevan muncul di layar, tawa mereka, Wajah mereka yang lebih polos setahun lalu. Saat jarak belum jadi masalah.
Ia menatap lama.
Ada rasa yang berbeda akhir-akhir ini.
Rindunya bukan lagi sekadar ingin berbicara.
Ia ingin dipeluk, ia ingin merasakan kehadiran yang nyata.
Pikiran itu membuatnya cepat-cepat mematikan layar, Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangan yang mulai berani melangkah lebih jauh.
“Jangan aneh-aneh,” gumamnya pada diri sendiri.
Malam semakin larut.
Alya memeluk bantal, mencoba tidur. Namun bayangan pertemuan bulan depan terus terlintas di kepalanya.
Bagaimana jika Stevan menggenggam tangannya lebih lama?
Bagaimana jika tatapan itu terlalu dekat?
Tanpa sadar, ia tertidur dengan pikiran yang masih dipenuhi rindu.
*=========================*
Dalam mimpinya, ia berdiri di sebuah ruangan bercahaya hangat. Tidak ada siapa-siapa, sampai Stevan muncul di depannya, lebih dekat. Lebih nyata.
“Alya…” panggilnya lembut.
Suara itu membuat jantungnya berdegup kencang.
Stevan melangkah mendekat. Tangannya menggenggam jemari Alya. Hangatnya terasa nyata. Ia bisa merasakan napas mereka saling bersentuhan jarak.
YOU ARE READING
ANTARA CINTA DAN DOSA
RomanceCinta seharusnya indah, namun bagaimana jika cinta itu tumbuh sebelum waktunya? Alya, seorang mahasiswi yang sedang mengejar mimpi, menjalin hubungan jarak jauh dengan Arga, pria yang bekerja di Jakarta. Rindu yang awalnya sederhana perlahan beruba...
