Aku melihat air yang tenang di bawah kakiku, seolah itu hanyalah pijakan bagi seseorang untuk meneruskan langkah. Tapi bagiku, tidak ada lagi langkah yang perlu dipertahankan sejak semuanya pergi.
Semakin lama aku menatap ke bawah, semakin besar keinginanku menjatuhkan tubuh ini bersama luka-luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Entah seberapa tinggi jembatan ini.
Entah seberapa dalam dan dinginnya air yang akan menelanku.
Aku tidak ingin memikirkannya lagi. Aku harus segera melakukannya.
“Oke… aku akan menghitung sampai tiga. Satu… dua… tiga.”
Tubuhku terlepas dari pijakan.
Dalam satu detik yang terasa begitu panjang, udara seperti menahan napasku sebelum akhirnya permukaan air menghantam keras. Dingin memeluk, menelan, menarikku semakin dalam.
Saat mataku mulai terasa berat dan perlahan menutup, aku mendengar suara lain menyusul jatuh ke air, tak jauh dariku.
Lalu tiba-tiba sesuatu menggenggam lenganku dengan erat.
Aku membuka mata.
Kenapa ada seseorang tepat di hadapanku?
Sosok itu memeluk tubuhku.
Hangat...
Di tengah air yang membeku, kehangatan itu terasa asing sekaligus menyakitkan. Tangannya melingkar kuat di punggungku, menahanku agar tidak kembali tenggelam lebih jauh.
Kenapa…?
Bukankah aku sudah memilih pergi?
Gelembung udara keluar dari mulutku. Pandanganku buram, tapi samar-samar aku bisa melihat wajahnya.
Terlalu dekat.
Terlalu nyata untuk sebuah khayalan sebelum mati.
Jangan.
Aku ingin mengatakan itu, tapi bibirku tak lagi patuh.
Ia menarikku naik, paksa. Seolah hidupku masih sesuatu yang berharga untuk direbut kembali.
Dadaku mulai terasa panas. Kepalaku berdenyut. Air seperti menolak melepaskan kami, menyeret kaki ke bawah, meminta tubuhku tetap tinggal.
Tapi pria itu lebih keras kepala.
Pelukannya semakin erat.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya hilang…
ada seseorang yang tidak membiarkanku pergi.
___________________
TIDAK UNTUK KEDUA KALINYA
Air memercik keras saat tubuh itu jatuh.
Untuk sesaat aku tidak bergerak. Pemandangan itu terlalu mirip dengan sesuatu yang pernah menghantuiku bertahun-tahun—seseorang yang juga menghilang di hadapanku, sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak.
Bukan kali ini.
Kakiku bergerak lebih cepat daripada pikiranku. Aku bahkan tidak ingat bagaimana caranya aku sudah berada di udara, membiarkan dingin menelan seluruh tubuhku.
Mataku mencari dengan panik.
Di sana.
Ia turun perlahan, seolah memang ingin dimiliki oleh dasar yang gelap itu.
Tunggu aku...
Aku meraih tubuhnya dan menariknya mendekat, memeluknya erat sebelum dunia merenggutnya dariku lagi.
Aku tidak peduli siapa dia.
Aku tidak peduli kenapa dia ingin mati.
Yang aku tahu hanya satu—
aku tidak akan kehilangan lagi.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Cinta Atau Obsesi ?
RomantizmNara tidak pernah meminta wajah yang terlalu mirip dengan masa lalu seseorang. Namun sejak pertama kali Dev menatapnya dengan sorot yang asing, ia tahu-ada yang sedang dibandingkan. Dev belum sepenuhnya selesai dengan cintanya yang dulu. Dan tanpa s...
