Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Before the Chaos

19 2 2
                                        

[ Perspective: Veyren ]

.

.

.

.

.

.

Aku terbangun dengan rasa pahit yang menggantung di ujung lidah, seperti mimpi yang belum selesai namun sudah dipaksa bangun. Langit-langit kamar itu putih pucat, terlalu bersih, terlalu diam. Bukan kamarku. Bukan tempat yang pernah kuakrabi dengan tawa palsu atau godaan tipis yang biasa kulontarkan pada Oliver.

Kasurnya terasa dingin, seakan menyimpan sisa-sisa kesunyian yang tak punya nama. Aku duduk perlahan, rambut coklatku menjuntai menutupi sebagian wajahku. Ada aroma asing di udara. Steril. Hampa. Seperti ruang yang tidak pernah disentuh kehidupan.

Di samping kasur, ada laci kecil.

Aku membukanya.

Di dalamnya, hanya ada secarik kertas.

Tanganku meraihnya. Jantungku berdetak seperti ketukan sendok pada cangkir porselen, tajam dan mengganggu.

Tulisan di kertas itu singkat. Terlalu singkat. Seperti ancaman yang sengaja dipadatkan.

Aku belum sempat mencerna maknanya ketika-

PRANG!

Suara piring pecah.

Suara itu membelah sunyi seperti pisau tipis yang mengiris kain sutra. Tajam. Mendadak. Hidup.

Aku menoleh ke pintu kamar.

Seseorang di luar.

Atau sesuatu.

Aku berdiri. Kakiku menyentuh lantai dingin yang terasa seperti permukaan danau beku. Setiap langkahku menggema pelan, seperti bangunan ini menelan suara dengan lahap.

Aku membuka pintu.

Lorong panjang menyambutku.

Banyak pintu. Banyak kamar.

Deretan sunyi yang berjajar seperti rahasia.

Lampu-lampunya redup, berpendar kuning pucat, membuat bayanganku memanjang dan tampak lebih kurus dari biasanya. Seperti versi diriku yang telah kehilangan sesuatu.

Aku berjalan perlahan menyusuri lorong itu. Tidak ada suara lain selain langkahku sendiri.

Sampai akhirnya lorong itu berakhir pada sebuah ruangan yang lebih luas.
Kafetaria.

Aroma makanan samar bercampur dengan ketegangan yang bisa dirasakan bahkan sebelum didengar.
Dan di sana-

Ishaa.

Alana.

Ishaa berdiri dengan bahu tegang, wajahnya merah oleh bara emosi yang nyaris meluap. Ia seperti cangkir yang diisi terlalu penuh, tinggal menunggu satu getaran kecil untuk tumpah.

Alana berdiri di hadapannya.

Tenang.

Terlalu tenang.

Seperti laut yang tampak damai padahal menyimpan arus yang bisa menyeret siapa pun ke dasar.

"You think that's funny?!" suara Ishaa bergetar, tajam namun terkendali.

Alana menatapnya tanpa ekspresi yang berarti.

"I never said it was."

Ishaa mengepalkan tangannya.
"You always act like nothing matters."

Unexisted GameCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang