Terlihat wanita jangkung yang sedang mengelap gitar kesayangannya. Lisa memang gemar bermain alat musik dia juga memilik suara yang indah. Lisa duduk diatas kasur yang penuh dengan kertas diatas nya.
Kamar yang penuh dengan poster di dinding, berbagai musisi dia tempel di sana agar menjadi inspirasinya. Lisa meletakkan gitarnya di bawah.
Lisa berjalan ke arah laci kecil untuk mengambil sebuah buku yang menjadi kesibukannya. Tak lupa mengambil pena juga. Dia kembali duduk dan mengambil gitar dan meletakkan nya diatas pangkuan.
Lisa sudah banyak sekali menulis berbagai bait yang bagus, namun menurutnya itu belum pas sekali.
Dan terdengar pintu kamar terbuka. Memperlihatkan seorang wanita dengan setelan seperti pria masuk ke dalam kamar Lisa. Lisa sudah tau siapa yang masuk tanpa mengganggu aktivitas nya.
"Lisa" Lisa menoleh ke arah sumber suara. Dia mengangkat satu alisnya seolah olah bertanya 'ada apa'.
"Kau sibuk sekali, kau tidak melihat berita televisi hari ini?" Tanya Seulgi dengan mata sipitnya itu. Dia duduk di kursi komputer di mana sehari harinya Lisa menulis lagu.
Seulgi mengambil salah satu kertas yang kebetulan ada di meja sana. Dia menyipitkan mata nya. "Ternyata kau masih merindukan nya?" Seulgi tersenyum penuh arti.
"Tidak ada" jawab Lisa yang masih fokus menulis sesuatu. "Aku tau kau Manoban, tapi semakin hari dia semakin cantik" jawab Seulgi.
"Dia memang selalu" Lisa menghela napas dan meletakkan gitar berwarna cokelat ketuaan itu di kasurnya. "Dia juga semakin sukses, aku melihatnya kang" lirih Lisa dengan wajah yang menunduk.
Lisa menghela napas dan menatap Seulgi serius "Dia juga sudah mencapai keinginannya aku turut senang atas apa yang dia perjuangan kan" dia men jeda ucapan nya karena teringat betapa sakitnya mengingat kejadian itu. "Di sisi lain aku sakit, tapi aku juga tidak boleh egois bukan? Itu memang keinginan dirinya aku hanya menemani dia bukan berada di sisi nya" Lisa menutup wajah dengan satu lengannya, tubuh yang bergetar karena Isak tangis.
Seulgi berdiri dan menghampiri Lisa, ia duduk di samping Lisa menenangkan dan memberi pelukan terbaiknya. "Sudah. Itu siklus kehidupan, jika dia saja bisa hidup dengan tenang kenapa kau tidak?" Seulgi mengusap punggung Lisa dengan lembut.
Lisa melepaskan pelukan menghapus sisa air matanya, dia beralih menatap kertas kertas yang berserakan di kamarnya. "Bohong jika aku tak merindukan nya, aku hanya ingin dirasakan kasih sayang olehnya kang"
"Kau bisa merasakan semua kasih sayang bukan hanya dari Jennie, Lisa. Semua orang yang berada di sekitar mu, mereka bisa" Seulgi menatap Lisa iba ia juga merasakan sakit yang sama, karena sudah dua tahun sahabatnya ini mengurung diri di kamar.
Seulgi tidak menyangka pengaruhnya akan seperti ini, Jennie mantan kekasih Lisa meninggalkan nya saat dia sudah bergabung dengan perindustrian. Jennie berpikir jika dia tidak harus mengandalkan Lisa. Jennie tidak ingin berdiri di bawah bayangan Lisa. Sudah cukup Lisa membantu sampai dia masuk ke dalam perindustrian.
Namun Lisa tidak berpikir seperti itu, dia sangat senang jika membantu pacarnya. Lisa juga akan mempertaruhkan apa pun itu untuk Jennie. Sialnya dia kalah dengan seorang pria juga, ternyata Jennie juga terpikat dengan salah satu seniornya. Kai.
Lisa dikhianati oleh cintanya sendiri, perempuan yang selalu ia bangga banggakan kepada teman temannya.
Saat itu juga segala rasa menjadi satu. Lisa berpikir Di mana letak kurang nya .
Tapi cinta tetaplah cinta, Lisa tidak membenci Jennie sekalipun Jennie mengkhianati nya. Dia tetap akan menunggu Jennie kembali di lain waktu. Dia selalu berharap Jennie akan kembali ke dalam pelukannya.
YOU ARE READING
Miss [JenLisa]
RomanceBegitu aneh jika rasa menyesal selalu di akhir, Jennie seorang aktris muda yang saat ini masih aktif di perindustrian. Sebelum masuk ke dalam perindustrian ini, ada seseorang yang setia menemani kariernya sampai Jennie bisa mencapai keinginan nya. N...
![Miss [JenLisa]](https://img.wattpad.com/cover/407967508-64-k277466.jpg)