Aku sering mikir, kenapa perpisahan nggak selalu datang dengan ribut.
Kadang, semuanya selesai cuma karena dua orang berhenti berjalan ke arah yang sama.
Aku dan dia bukan cerita yang penuh teriakan.
Kami lebih mirip obrolan yang tiba-tiba berhenti di tengah kalimat.
Nggak ada kata putus yang diucapkan dengan tegas, nggak ada pintu yang dibanting keras-keras. Yang ada cuma jarak, waktu, dan aku yang terlalu lama menunggu.
Aku pernah bahagia.
Aku pernah merasa pulang.
Dan meski akhirnya nggak jadi “kita”,
aku nggak bisa bilang semua itu bohong.
Cerita ini bukan tentang menyalahkan.
Ini tentang dua orang yang pernah saling memilih,
lalu pelan-pelan belajar melepas.
Kami pernah ada.
Dan itu nyata.
ČTEŠ
Kita Pernah Ada
FanfikceAda pertemuan yang terasa seperti pulang, tapi berakhir seperti lewat. Ini cerita tentang kami yang pernah ada-dan aku yang belajar merelakan.
