Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit Grand Ballroom Hotel Marriot memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan, menciptakan atmosfer kemewahan yang hampir mencekik. Malam itu adalah malam gala tahunan para pebisnis elit, sebuah ajang pamer kekuasaan di mana setiap senyuman memiliki harga dan setiap jabat tangan adalah negosiasi.
Tee, seorang mahasiswa kedokteran tahun ketiga, merasa seperti ikan yang keluar dari air. Ia hadir hanya karena paksaan ayahnya, seorang pemilik perusahaan logistik yang sedang berjuang keras mempertahankan eksistensinya. Mengenakan setelan jas biru gelap yang dipesan khusus, Tee terlihat sangat kontras dengan kerumunan pria paruh baya bertubuh tambun di sana. Wajahnya yang manis dan tatapan matanya yang polos mencuri perhatian banyak orang, namun Tee hanya ingin satu hal: pulang dan kembali mempelajari jurnal anatominya.
Namun, rasa bosannya menguap seketika saat matanya menangkap sosok tinggi yang berdiri di sudut VIP. Sosok itu mengenakan setelan jas hitam tailor-made yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna. Rambutnya tertata rapi, dan profil samping wajahnya terlihat seperti pahatan dewa Yunani.
"Kak Dew?" gumam Tee lirih. Jantungnya berdegup lebih kencang, tapi kali ini karena rasa senang.
Ingatannya melayang ke kejadian sore kemarin. Saat itu, mobil sedan tuanya mogok di pinggir jalan lingkar luar yang sepi. Tee sudah hampir putus asa sebelum sebuah mobil mewah berhenti. Pria bernama Dew itu turun, tersenyum sangat ramah, dan tanpa ragu menyingsingkan lengan kemejanya untuk membantu memeriksa mesin mobil Tee yang berasap. Sikapnya begitu rendah hati, sangat sopan, dan hangat. Bahkan sebelum pergi, Dew sempat mengusap kepala Tee dengan lembut, memberinya semangat untuk kuliah kedokterannya.
Tanpa sadar, Tee melangkah mendekat. Ia ingin menyapa, ingin berterima kasih kembali dengan lebih layak.
"Kak Dew!" sapa Tee dengan senyum cerah yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi saat ia sudah berdiri cukup dekat. "Ternyata kita ketemu lagi di sini! Aku tidak menyangka Kakak juga hadir di acara ini."
Dew, yang sedang membelakangi Tee sambil memegang gelas wine, terdiam sejenak. Ia memutar tubuhnya perlahan. Namun, senyum di wajah Tee perlahan memudar saat ia bertatap muka dengan pria itu. Tidak ada binar hangat di mata cokelat gelap itu. Yang ada hanyalah tatapan datar, kosong, dan sedingin es yang menusuk.
Dew hanya diam, menatap Tee dari ujung rambut hingga ujung kaki seolah-olah sedang memeriksa kualitas sebuah barang dagangan.
"Kak?" Tee memberanikan diri, suaranya sedikit menciut. "Ini aku, Tee. Mahasiswa yang Kakak bantu di pinggir jalan kemarin. Kakak ingat, kan?"
Dew menyesap wine-nya pelan, matanya tidak sekalipun berkedip dari wajah Tee. Suaranya keluar, bariton dan berat, namun nadanya begitu tajam. "Aku tahu siapa kamu, Tee. Tidak perlu diingatkan."
Tee menelan ludah. Aura yang dipancarkan Dew malam ini benar-benar berbeda. Kemarin, Dew terasa seperti pelindung yang menenangkan. Malam ini, Dew terasa seperti badai yang siap menghancurkan apa saja di jalurnya. Intimidasi itu begitu nyata hingga bulu kuduk Tee berdiri.
"Oh... maaf," gumam Tee, langkahnya goyah ingin mundur. "Kakak kelihatan... sangat berbeda malam ini. Mungkin aku mengganggu waktu Kakak."
Dew melangkah maju satu langkah. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa senti. Tee harus mendongak untuk menatap wajah pria yang lebih tinggi darinya itu.
"Berbeda?" Dew mengulang kata itu dengan nada mengejek. "Ini adalah diriku yang sebenarnya, Tee. Yang kamu lihat di pinggir jalan kemarin... itu hanya 'umpan'."
Darah Tee serasa berdesir dingin. "Umpan? Maksud Kakak apa? Aku tidak mengerti."
Dew sedikit mencondongkan tubuhnya, membiarkan aroma parfum maskulinnya yang berat merasuki indra penciuman Tee. Tatapannya kini berubah menjadi tajam, seolah-olah dia adalah seekor singa yang baru saja menyudutkan mangsanya di pojok hutan.
"Singa tidak akan menunjukkan taringnya sebelum mangsanya benar-benar terjebak, kan?" Dew berbisik, nadanya begitu tenang namun penuh ancaman.
"Kemarin aku hanya ingin melihat seberapa mudah kamu dipancing. Dan ternyata, kamu sangat mudah, Tee. Sangat polos."
Ketakutan mulai merayapi hati Tee. Ia merasa ada yang salah dengan situasi ini. Dew bukan pria baik yang ia kira. Dew yang ini... adalah monster yang memakai topeng manusia.
"Kak, tatapan Kakak menakutkan..." Tee berbisik gemetar, kakinya melangkah mundur secara instingtif. "Aku... aku permisi dulu. Papaku pasti mencariku."
Saat Tee baru saja akan berbalik, sebuah tangan besar dengan cengkeraman yang kuat mencekal pergelangan tangannya. Tenaga Dew begitu besar hingga Tee meringis kesakitan.
"Baru saja mulai, mau ke mana?" tanya Dew, suaranya kini naik satu oktaf, menunjukkan dominasi mutlak.
"Sakit, Kak! Lepasin!" Tee meronta, namun cengkeraman itu justru semakin menguat, seakan-akan tulang pergelangan tangan Tee bisa patah kapan saja. "Kak Dew kenapa jadi begini? Lepasin aku!"
Dew justru tertawa kecil, suara tawa yang tidak memiliki kehangatan sama sekali. "Sikap ramah itu melelahkan, Tee. Memasang topeng pahlawan di pinggir jalan itu membosankan. Aku lebih suka gaya seperti ini. Lebih jujur. Lebih... agresif."
"Kamu bukan Kak Dew yang kemarin!" teriak Tee dengan suara tertahan agar tidak mengundang perhatian tamu lain. "Kamu orang asing! Kamu gila!"
Dew menarik tangan Tee, menyeret tubuh mungil mahasiswa itu hingga menempel pada dadanya. Ia menatap Tee tepat di matanya, sebuah tatapan obsesif yang tidak normal. "Aku adalah orang yang akan memilikimu, Tee. Ingat itu baik-baik di kepalamu. Mulai malam ini, hidupmu bukan lagi milikmu."
Napas Tee memburu. "Kamu gila! Lepasin atau aku teriak! Aku akan panggil keamanan!"
Dew justru mendekatkan wajahnya ke telinga Tee, membiarkan napas panasnya menggelitik kulit leher Tee yang sensitif. Ia berbisik dengan nada yang sangat dingin, "Teriaklah, Sayang. Mari kita lihat siapa yang akan percaya pada mahasiswa kecil sepertimu dibanding Dew Jirawat, CEO Prime Corp yang baru saja mendonasikan miliaran untuk kampusmu. Satu kata dariku, dan beasiswamu hilang. Satu kata dariku, dan perusahaan Papamu akan rata dengan tanah besok pagi."
Tee tertegun. Tubuhnya lemas seketika. Gemetar hebat menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat penglihatannya kabur. "Tolong... biarkan aku pergi... apa salahku padamu?"
Dew melepaskan cengkeramannya, namun ia tidak menjauh. Ia justru membelai pipi Tee yang basah dengan punggung jarinya, sebuah gerakan yang seharusnya lembut tapi terasa sangat menjijikkan bagi Tee.
"Tatapan ketakutanmu ini..." Dew bergumam dengan nada kagum yang aneh. "...jauh lebih cantik daripada senyummu kemarin. Aku suka melihatmu hancur seperti ini."
Dengan sisa tenaga yang ada, Tee menyentak tangan Dew dan berbalik lari sekencang mungkin. Ia tidak peduli lagi dengan tata krama, ia tidak peduli dengan tamu-tamu yang menatapnya heran. Ia hanya ingin keluar dari gedung itu.
"Psikopat!" teriak Tee sambil terisak sebelum ia menghilang di balik pintu besar ballroom.
Dew tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak mengejar. Ia justru mengangkat gelas wine-nya tinggi-tinggi, menyesap isinya dengan nikmat sambil menatap pintu tempat Tee menghilang. Sebuah seringai predator tersungging di bibirnya yang tipis.
"Lari sejauh mungkin, Sayang," bisik Dew pada keheningan di sekitarnya. "Lari sampai kakimu lelah. Karena pada akhirnya, semua jalan yang kamu tempuh akan menuntunmu kembali ke pelukanku. Ini baru awal dari perburuan kita."
YOU ARE READING
CEO's Invisible Chain
RomanceDew Jirawat Sutivanichak (CEO) Tee Teeradech Vitheepanich (Dokter)
