Waktu itu. Semuanya masih berwarna dengan tawa ringan anak-anak sedikit kesan taman bermain yang selalu menjadi favorit, tak ada yang menyangka akan ada waktu di mana anak kecil merasakan sesuatu yang dirasakan orang dewasa. Apa namanya? Cinta? Bahkan jika terdengar pun seperti guyonan belaka.
"Aku suka Kak Gela! Kakak mau nggak jadi pacal aku?"
Kala itu beberapa orang tua yang tak sengaja mendengar hanya menertawai, anak kecil yang tak mengerti sama sekali tak peduli hingga orang yang dipanggil Gela pun hanya bisa terdiam menatap aneh.
"Kamu itu masih kecil, nggak boleh pacaran." jawabnya.
"Kalau sudah besal?"
Menatap penuh harap sebenarnya tak ada gunanya apalagi kini terlihat jelas jarak umur itu. Dan siapa yang menganggap itu sebuah keseriusan? Umur 6 tahun yang berbicara huruf 'R' saja masih kesulitan.
Tak ada jawaban karena sebelum Gela menjawab sudah ditarik lebih dulu oleh sopirnya yang baru datang. Mengenaskan. Anak kecil yang pemberani ini pulang dengan mainan bunga-bungaan ditangannya, pulang dengan kesedihan– dan jangan lupakan bibir yang terus maju.
"Kenapa hm? Pulang-pulang kok nangis?" pria berusia tiga puluh tahun itu menghampiri anaknya yang baru saja sampai di depan pintu rumah.
Tak ada jawaban. Hanya isak tangis kecil yang keluar dari mulut si pemberani itu.
"HAHAHAHA!"
"Nggak usah ketawa ya setan! Sani!"
Tanpa peduli sekitar tawa itu kian meledak. Sani memegangi perutnya sendiri saking geli mendengar cerita masa kecil sahabatnya yang di luar nalar.
"Nyesel gue cerita sama lo," sahabat Sani itu mendengus kecil.
Sani masih tertawa, menertawai nasib anak kecil yang pemberani itu alias sahabatnya sendiri. Biana.
"Oke-oke," Sani menghela nafas susah payah,"gue nggak ketawa– HAHAHA!"
Biana rasanya sudah muak sekarang, ia memilih berdiri meninggalkan sahabatnya sendiri di kantin, biarlah nanti orang-orang mengira Sani itu gila yang nanti akan diseret ke rumah sakit jiwa. Dan kini kaki Sani rasanya lemas hanya untuk mengejar sahabatnya sendiri.
"Bian tungguin gue!" tawa Sani sama sekali tak mereda, sesekali harus membenarkan irama nafasnya yang bersahutan dengan rasa geli yang menggelitik.
Dan ya, lagi-lagi Biana sedikit menyesal telah menceritakan hal ini pada Sani. Kaki jenjangnya berjalan cepat menuju kelas, sorot mata yang tajam dan rahang mulus terbentuk. Biana sudah kelas 2 SMA sekarang, tubuhnya menjulang tinggi tak seperti 11 tahun lalu yang pendek dan mulutnya cadel hingga mengucapkan huruf 'R' saja tidak jelas.
Kelas tak begitu ramai begitupun lorong sekolah, Sani yang sedari tadi terus mengejarnya sampai kesulitan untuk berlari karena anak itu belum berhenti tertawa! Sial sekarang Biana merasa malu
"Bi!" Biana terhenti. Bukan, itu bukan suara Sani melainkan segerombolan gadis sekolah di hadapannya.
"Bi habis ini kita ke taman ya?"
"Bi ini coklat buat kamu!"
"I love you Biana!"
Setelah mengucapkan hal-hal itu mereka semua melewati Biana dengan wajah berseri bahkan ada yang mencubit pipinya. Di belakang sana Sani justru tertubruk hingga terjatuh oleh para gadis itu. Sedangkan Biana sendiri kebingungan dengan hadiah yang diterimanya, di rumah saja belum ia buka sudah mendapat hadiah baru. Ternyata sulit juga jadi orang keren.
YOU ARE READING
You Shit
General Fiction"mau jadi pacar aku Kak?" "dih, ogah. pacaran sama anak kecil,"
