HER LIFE - 01

2 0 0
                                        

Aku berdiri di sebuah kelas, baru saja memasuki ruangan yang berbeda dengan sebelumnya. Aku sedikit tertegun melihat berbagai manusia yang beragam, memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Aku mempelajari mereka satu per satu— tidak, aku hanya memperhatikan, seolah aku berdiri sebagai penonton di tengah panggung kehidupan yang ramai.

Ada yang cantik, tampan, biasa saja, bahkan ada yang tidak memperdulikan lingkungan. Ada yang pemalu, ada yang bergantung dan selalu mengikuti temannya. Ada yang sangat ceria, heboh, datar, dan meski begitu dengan berbagai macam sifat, mereka tetap memiliki teman, terkenal, dan percaya diri. Beberapa dari mereka yang menurutku memalukan karena terlalu heboh, ternyata memiliki banyak teman. Aku sedikit bingung, sekaligus heran dengan standar yang selama ini kupakai sendiri.

Aku menatap tanganku yang kosong. Tiba-tiba sekelebat ingatan buruk dan baik terlintas hanya seperkian detik. Seperti kilatan cahaya yang datang lalu pergi tanpa izin. Aku menghela napas perlahan, mencoba menenangkan sesuatu yang bahkan tidak bisa kusebutkan bentuknya.

"Kunci utamanya adalah sosialisasi, tanpa peduli apa yang orang peduli tentangmu" Ingatan obrolanku dengan sahabat kecilku kemarin untuk persiapan masuk dunia organisasi. "

Manusia itu hanya memperdulikan dirinya" Ucap sebuah buku yang kubaca dan mengingatkan diriku saat ujian sekolah sekolah. "

Sosialisasi dan pedulilah pada apa yang kamu dapatkan dari mereka" Ingatanku saat aku masih SD "I want it i got it" Ingatanku saat SMP dimana aku. 

Tiba tiba aku menyadari sesuatu, Lamunanku terbuyarkan. Aku melihat sekelilingku lagi dengan lebih sadar. Aku duduk ditengah. kiri kananku ada orang yang tidak merasa risih duduk denganku. Tidak seperti biasanya. 

Ah tidak!! itu sudah lama. Sejak kapan aku merasa terbiasa orang-orang menganggapku rendah? menganggapku seperti kotoran? orang memalukan? Benalu?

Aku sedikit tertawa karena diriku. Terdengar getir sekaligus ironis.

Di belakangku juga ada beberapa pria yang tidak lari menjauh hanya karena aku sedekat ini. Yah meski kadang perkataan logis dan kesan tidak berperasaan mereka sangat menyebalkan. Tapi itu adalah hal yang wajar. 

Aku menyenderkan punggungku ke kursi dan menutup mata menikmati kedamaian itu. 

"Hai Ly, Bagaimana perlombaanmu?" 

Sebuah pertanyaan yang membuat kedamaian itu hangus seketika. 

Aku membuka mata dan tersenyum getir "Aku memutuskan tidak lanjut PKM" ucapku saat itu dengan sedikit menyayangkan kemampuanku yang masih level sekian dengan quest epic itu. Pembicaraan kita terus berlangsung dengan sedikit ketidaknyamanan. 

"Oh kamu IPK 3.9?"

Aku mengangguk "kamu?" 

Wajahnya sedikit tidak nyaman, aku merasa bersalah. Apakah dia dibawahku? Aku melontarkan berbagai kemungkinan seperti dosen yang pelit nilai atau bagaimana. 

"Aku ...4" ucapnya sedikit tidak jelas dan suara rendah. 

Aku sedikit tertegun, 3.4? 

Apakah tadi dia menebak ipk ku 3.5 karena ipk dia 3.4? 

Aku sedikit kelabakan, tapi dia klarifikasi 

"IPK ku 4 bukan 3.4" 

Aku speechless selama sekian detik sebelum tertawa bodoh. Ya, ini semester 1 dan dia itu pintar. Bagaimana bisa aku berpikir dia ipk 3? 

Tidak lama, kita kembali di bangku masing-masing. Aku sedikit termenung. IPK 4 ya, kenapa sedikit sakit? entahlah. Aku menyadari bahwa aku masih banyak kurangnya. 

Akhirnya saat materi tiba aku bertanya pada sebuah proker pengembangan. Apakah aku yang memiliki skill kecil ini memiliki chance untuk lolos ikut proker itu? Dan ya ada chance. tapi mungkin bobotnya ada di alasan dan kesibukan. Aku tersenyum, aku masih ada chance berkembang. 

"Kamu suka kak Faiz?" Mendengar pertanyaan itu aku tertawa lagi. 

Tidak, aku mungkin tertarik dan mengagumi. Tapi aku tidak berani menyukai atau memiliki rasa jika aku belum layak dari segi kepribadian, fisik, dan emosional. masih belum pantas. Yah hanya sebatas mengagumi. 

Aku melihat sekelilingku. Jadi meski aku tidak bisa seceria dan seheboh itu, aku tetap memiliki teman. Tidak memiliki teman yang sangat dekat dan digantungkan juga bukan sebuah masalah yang sangat besar. Karena makna teman dekat itu bermacam-macam tergantung orangnya. Mungkin aku pernah blunder, Tapi aku sudah berani mempertanggung jawabkan blunderku, minimal permintaan maaf. Meski aku tidak bisa mengontrol apa yang mereka pikirkan, Aku bisa mengontrol diriku dan tidak memperdulikan hal-hal tidak penting jika itu tidak membangun. Hal yang aku butuhkan hanya rasa keberanian, bukan dikekang oleh rasa takut dan menciptakan ruang safe zone atau comfort zone. Jebakan dan manipulasi ruang yang dimiliki oleh orang yang memiliki ketakutan. 

"Eh kamu Laily ya?" 

Aku terkejut "Ya?" 

"Kita satu departemen loh di UKM. kamu pengmas atau fundrais?" Aku sedikit kebingungan dengan pertanyaan tiba-tiba itu. 

"Ah aku Pengmas, Kamu kok tau kita sedepartemen?" Aku masih kebingungan dan dia hanya tertawa "Tau lah, Kamu kan tadi yang nanya waktu raker. Keren banget"

Mendengar itu aku terkejut, dan menghela nafas sebelum tersenyum. Ah jadi ini balasan dari keberanianku yang mungkin tidak sebanding dengan wajahku yang tidak bisa tenang dan sedikit gemetaran itu. 

Sebelum aku benar-benar keluar dari ruangan ini, Aku tersenyum lega sekali lagi bahwa aku tidak sia-sia disini. Tidak ada trauma atau bayang-bayangan kenangan buruk itu. Aku masih dihargai dan dianggap ada kehadirannya. 

Aku belajar bahwa di organisasi, kuncinya adalah komunikasi dan sosialisasi. Jangan takut untuk sendiri atau merasa tertinggal. Tangkap hal yang bisa ditangkap. Semua tempat pasti ada manfaatnya, sekecil apapun. Aku melihat belakang sebelum benar-benar keluar dari ruangan ini. 

Terima kasih, di ruangan ini aku belajar banyak hal.

____
source pictures : https://pin.it/2XpBlivA8


Their Lives in Their 20sStories to obsess over. Discover now