Warning:
- Typo
- alur tidak nyambung
- fandom Countryhumans
- tidak memiliki gender
______________________________________
Indonesia adalah personifikasi yang seharusnya melambangkan surga. Ia diciptakan untuk kebebasan, untuk tawa yang menggema di antara ribuan pulau, dan kedamaian yang mengalir setenang arus sungai-sungainya. Ia adalah sosok yang diinginkan oleh dunia; parasnya cermin dari keindahan alam yang tak terlukiskan, dan sifatnya adalah hangatnya mentari bagi siapa pun yang berkunjung.
Namun, beban menjadi sebuah negara ternyata terlalu berat untuk pundaknya yang tegar.
Perlahan, warna cerah di matanya mulai memudar. Ia harus menyaksikan tubuhnya digerogoti dari dalam. Berita tentang korupsi yang merajalela bagaikan racun di nadinya, laporan pembunuhan, pelecehan, dan beragam kejahatan lainnya menjadi melodi harian yang menyayat hati. Hingga puncaknya, fondasi ekonominya retak. Keuangan yang hancur membuat seluruh sendi kehidupannya runtuh. Indonesia tidak lagi mampu berdiri. Ia tumbang, hancur berkeping-keping bersama harapan rakyatnya.
Hampa. Gelap. Hingga kemudian... seberkas cahaya memaksa masuk.
"Tunggu, ini... di mana...?"
Suaranya parau, nyaris hilang tertelan desir angin yang membawa aroma tanah basah dan melati. Indonesia membuka matanya perlahan. Pandangannya yang semula kabur mulai memfokus, menangkap siluet pohon-pohon rindang dan langit yang begitu bersih—langit yang sudah lama tidak ia lihat.
Ia mencoba bangkit, merintih pelan saat merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Saat menunduk, ia tertegun melihat penampilannya sendiri.
Baju putih lengan pendeknya kini kotor, penuh bercak tanah cokelat. Celana hitam pendeknya yang compang-camping ternoda oleh darah kering—sisa dari kehancurannya yang tragis. Di dekat tangannya, tergeletak sebuah topi petani atau caping yang anyamannya masih terasa kasar dan baru.
Indonesia terdiam, menyentuh tanah di bawahnya dengan jemari gemetar. Tempat ini, aroma ini, bahkan pakaian kotor ini... semuanya terasa sangat familiar. Ini bukan tempat baru. Ini adalah kenangan yang ia kubur dalam-dalam.
"Tunggu... ini di mana...?"
Suaranya serak, nyaris hilang tertelan angin laut yang membawa aroma garam dan rempah. Indonesia membuka matanya perlahan. Langit di atasnya tidak lagi tertutup polusi abu-abu, melainkan biru bersih yang menyilaukan.
Ia bangkit dengan rintihan kecil, merasakan tanah lembap di bawah telapak tangannya. Matanya tertuju pada penampilannya sendiri. Baju putih lengan pendeknya kini kotor oleh tanah cokelat, celana hitam pendeknya ternoda bercak darah kering—sisa dari kematian tragisnya di masa depan. Di sampingnya, tergeletak sebuah topi petani yang anyamannya masih kasar.
Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenal tempat ini. Ini adalah pelabuhan tua sebelum beton-beton raksasa menghimpitnya. Ini adalah masa lalu. Masa di mana ia belum memiliki nama Indonesia. Masa di mana dunia hanya mengenalnya sebagai gugusan zamrud khatulistiwa yang eksotis.
"Heh, kau! Sedang apa rebahan di jalur sana?"
Sebuah suara bariton yang angkuh memecah lamunan Indonesia.
Indonesia menoleh, dan untuk sesaat, napasnya tertahan. Berdiri di sana, dengan seragam biru tua formal yang kaku, medali yang berkilau, dan rambut pirang yang tertata rapi, adalah Netherland. Sosok kolonial yang dulu pernah mencengkeramnya selama berabad-abad.
Netherland awalnya melangkah mendekat dengan niat untuk mengusir gelandangan yang menghalangi jalannya. Namun, semakin dekat ia melangkah, semakin ragu kakinya bergerak.
STAI LEGGENDO
My beloved tulip | CH |
FanfictionUdah Ending! Netherland × Indonesia [ One-Shot ] ____________________________________________ Bagaimana jika sebuah negara yang hancur di masa depan, terbangun kembali di masa kolonialnya sendiri?
