Prologue

323 38 6
                                        

Malam di Bruston terasa tenang. Dari jendela apartemen yang tinggi milik Jericho, kota tampak seperti peta cahaya yang disusun apik; terkendali, terstruktur, rapi. Jericho menyukai tatanan seperti itu. Sebuah kota yang patuh pada sistem, orang-orang yang bisa diatur.

Ketenangan apartemennya dihiasi oleh suara dari televisi di ruang santai, tidak begitu keras atau pelan, sempurna untuk diterima oleh telinga. Siaran langsung konferensi pers Kementerian Energi menjadi pertunjukan yang diputar dalam kotak yang tipis itu. Sama sekali tidak ada niat dalam diri Jericho untuk benar-benar menonton konferensi yang membosankan, dia hanya ingin memiliki latar untuk menemaninya menikmati sepiring pai apel. Sampai akhirnya matanya terpaku kepada wajah utama dari konferensi tersebut.

Kamera menyorot Cillian Hawthorne berjalan menuju panggung dan berdiri tegak di tengah-tengah orang yang tidak begitu penting untuk dikenali. Jas hitam, dasi dengan warna yang tidak mencolok, dan pin lambang negara di dadanya. Ada banyak hal yang Jericho dengar tentang Cillian dari berbagai pihak. Terlalu muda untuk menduduki kursi kementrian, terlalu percaya diri, terlalu visioner.

Jisung menaikkan volume.

"Negara ini tidak memiliki kemewahan untuk ragu," Chenle berkata, suaranya stabil. "Kita tidak bisa menunggu musim dingin membuktikan bahwa kita salah."

Seorang wartawan memotong, "Tetapi, Tuan Menteri, Anda melewati dua tahap verifikasi internal. Banyak pihak mengatakan bahwa itu bukan sekadar keputusan, itu pengabaian prosedur." Wartawan tersebut tidak disorot kamera, kamera tetap menyorot Cillian yang tampak tidak tersinggung. Menjadi seorang politisi berarti harus memiliki kulit yang tebal, tidak mudah merasa tersentil atau tersinggung, itu bukan sebuah keterampilan khusus, jadi sejauh ini Jericho tidak terkesan.

"Saya tidak mengabaikan prosedur." Chenle menjawab, "Prosedur itu penting, tetapi ketika waktunya tidak berpihak kepada kita, keputusan harus diambil, meski keputusan tersebut kontroversial. Kita sedang berlomba dengan waktu, waktu yang ketika dia tiba akan menyulitkan banyak keluarga di tengah dinginnya musim dingin. Prosedur dibuat dengan tujuan untuk melindungi, saya tahu. Namun, ada saat dimana itu bisa melumpuhkan tujuan. Tujuan utama dalam hal ini adalah keberlangsungan hidup ribuan keluarga Hezeron di musim dingin."

Jericho bersandar di sofa. Jawaban itu tidak defensif, bukan pembelaan dibalut kepanikan atau cemas. Bahkan bisa dibilang itu bukanlah jawaban, melainkan narasi. Cillian sedang bercerita dan membingkai ulang pertanyaan yang diajukan dan Jericho mulai tertarik untuk mendengarkan.

Wartawan lain bertanya, "Apakah Anda menjamin tidak ada konflik kepentingan dengan pihak Virex?"

Jeda kecil terselip, jeda yang tidak akan terlalu dipikirkan orang-orang. Namun, oh, Jericho memikirkannya. Jeda itu terkalkulasi; tidak terlalu cepat hingga bisa membuat orang berpikir bahwa dia gegabah, tidak juga terlalu lambat hingga orang berpikir dia ragu. "Saya menjamin bahwa setiap keputusan yang saya buat mengutamakan keberlangsungan negara ini." Cillian berkata.

Tidak menjawab secara langsung.

Tidak menyangkal secara eksplisit.

Hm.

Jericho mematikan televisi. Cillian jelas bukan orang yang takut mengambil risiko, Jericho yakin bahkan anak sekolah pun bisa melihat itu. Namun, bukan itu yang membuatnya menarik bagi Jericho. Hal paling lezat dari Cillian adalah bagaimana laki-laki itu tidak takut untuk terlihat kontrversial. Kebanyakan politisi membangun karier dari kehati-hatian, Cillian membangunnya dari ketegangan. Sungguh menarik.

Setelah painya habis, Jericho membersihkan peralatan makannya lalu membawa dirinya ke kamar mandi untuk menyikat giginya, kemudian dia bawa dirinya ke ranjang. Malam itu Jericho menutup matanya dengan membawa Cillian Hawthorne di benaknya.

Velvet Chains [JiChen | ChenJi]Stories to obsess over. Discover now