Rumah Yang Sunyi

7 0 0
                                        

Ayahku tidak pernah memukulku.
Dan mungkin karena itu, tidak ada yang pernah benar-benar percaya kalau aku terluka.

Rumah kami selalu rapi. Terlalu rapi.
Tidak ada barang berserakan, tidak ada suara keras, tidak ada emosi yang dibiarkan hidup terlalu lama.

Aku berdiri di dapur sambil mematikan lampu satu per satu, memastikan tidak ada yang terlewat. Itu kebiasaan yang tumbuh bersamaku kebiasaan untuk tidak membuat kesalahan.

Langkah sepatu ayah terdengar dari ruang depan.

Aku menegakkan punggung tanpa sadar.

"Kamu pakai lampu dari sore?" tanyanya tanpa menoleh.

"Iya," jawabku pelan.

Dia meletakkan tas kerja di meja, membuka jasnya dengan gerakan rapi. Wajahnya lelah, tapi tetap terkendali. Selalu terkendali.

"Kamu tau kan listrik sekarang mahal," katanya.

Aku mengangguk.
Aku selalu mengangguk.

Ayah lewat begitu saja, seolah keberadaanku hanya bagian dari furnitur rumah ini. Sesuatu yang ada, tapi tidak penting.

Mataku tanpa sadar berhenti pada foto di dinding ruang tengah.


Aku melihat foto ibu, Senyumnya sangat hangat, kontras dengan dinginnya rumah ini setelah dia pergi.

Aku hampir lupa bagaimana rasanya dipeluk.

Ayah berhenti di depan foto itu.
Wajahnya melunak.

Dan entah kenapa, aku selalu berharap meski sudah berkali-kali kecewa kalau suatu hari tatapan itu akan beralih padaku dengan cara yang sama.

Tapi tidak.

"Kalau kamu nggak lahir, hidup kita pasti lebih mudah" kata ayah.

Aku menelan napas.
Dadaku sesak, tapi tidak ada suara yang keluar.

Ayah melangkah pergi, meninggalkanku berdiri sendiri di ruang tengah.

Aku menatap foto ibu lebih lama saat itu.
Bertanya dalam hati, apakah kehadiranku memang sebuah kesalahan sejak awal.

Rumah SalahDove le storie prendono vita. Scoprilo ora