Prolog

7 1 0
                                        

HAPPY READING

Suatu malam, seorang anak keluar dari kamarnya sambil menangis karena ketakutan oleh suara petir. Ia menuruni tangga, berniat pergi ke kamar abangnya. Namun, di tengah perjalanan, ia melihat siluet seorang pria paruh baya sedang menelepon.

Tangisnya langsung terhenti. Ia mendekati pria itu perlahan. Tapi saat jarak mereka semakin dekat, senyum anak itu berubah menjadi ekspresi takut. Pria itu menyadari keberadaan si anak-dan menatapnya tajam.

Ketakutan, anak itu langsung berlari sambil menangis, mencoba menghindar sejauh mungkin. Ia berusaha kembali ke kamarnya, namun sebelum sempat membuka pintu, sebuah tangan menariknya ke dalam salah satu kamar dan menutup mulutnya.

"Ssst... diam," bisik seseorang.

Anak itu panik dan menoleh ke belakang-ternyata yang menariknya adalah kembarannya sendiri. Ia sedikit lega, namun kembali tegang saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Kembarannya segera menariknya ke bawah tempat tidur.

Pria yang tadi mencarinya masuk ke kamar dan terus mengelilingi ruangan. Ia membuka pintu lemari satu per satu, sambil bersenandung lagu anak-anak Korea yang biasa dinyanyikan saat bermain petak umpet:

"Kkokkkok sumeora, meorikarak boilla..."
(Diam, diam sembunyilah. Aku bisa melihatmu dari balik rambutmu...)

Lagu itu terdengar menakutkan bagi kedua anak yang bersembunyi di bawah ranjang. Pria itu berhenti tepat di depan mereka. Ia menoleh ke kiri dan kanan, lalu menunduk, hampir saja mengecek kolong tempat tidur.

Tepat sebelum ia membungkuk lebih jauh, ponselnya berbunyi. Ia berdiri, mengangkat telepon itu, lalu berjalan keluar dari kamar.

Kedua anak itu menghela napas lega dan keluar dari persembunyian.

Kembarannya menatap si anak dan bertanya, "Ada apa?"

Belum sempat dijawab, tiba-tiba muncul asap tebal. Mereka melihat kamar tempat mereka berada mulai terbakar-perlahan tapi pasti. Panik, mereka segera berlari ke arah pintu, tapi pintu terkunci dan tak bisa dibuka.

Mereka menoleh ke arah jendela, namun api sudah menyambar tirai dan kayu-kayunya.

Kembarannya memeluk si anak dengan erat.

Si anak mulai terbatuk, menghirup terlalu banyak asap, tubuhnya lemas, dan matanya hampir tertutup. Tepat sebelum ia kehilangan kesadaran, ia melihat kembarannya tertimpa balok kayu besar yang terbakar-tepat di hadapannya.

Lalu semuanya gelap.

Maaf kalau ga jelas atau garing semoga kalian suka🙏
Maaf kalau lagunya salah author lupa itu pun liriknya dari gpt🙂🙏

SILENT SCARS.  (On Going)Where stories live. Discover now