'Purnama kesembilan, dan rinduku padamu masih bertatih mengenal kata pamit.'
Seorang anak muda dengan kulit cerah menutup buku notanya sebaik menuliskan kata-kata itu. Matanya memandang ke depan, melihat laut nan luas yang terbentang di hadapan matanya. Laut yang jika saja tiada penghadang, dia sudah terjun ke dalamnya sejak lapan bulan yang lalu.
Dia mengambil posisi. Mengeluarkan buku Surah Yasin yang sejak tadi disimpan di dalam begnya. Perlahan, dia membaca satu per satu bait ayat Al-Quran tersebut. Bersaksikan laut biru di hadapannya.
Laut indah yang menurutnya punya banyak sekali luka, parut dan memori. Baginya yang hanya satu dari lima yang hancur.
YOU ARE READING
Polaroid
Teen FictionHariz muak dengan hidup. Bangun pagi terasa seperti penyeksaan baginya. Baginya, hidup terlalu tidak bermakna untuk dijalani dengan sungguh-sungguh. Sehingga suatu hari, dia bertemu dengan Azim, Adam, Adrian dan Daniel. Manusia-manusia aneh yang ent...
