BAB 1

6 1 0
                                        

Kyrìa, salah satu kerajaan kecil dari negara Myodest, negara yang terpecah dengan ratusan pulau yang berbeda, begitu juga dengan jenis tanahnya. Menurut cerita dan nyanyian yang di kisahkan turun temurun oleh leluhur, di kisahkan bahwa dewa dan dewi lahir di Myodest yang suci ini.

Mereka lahir di pulau yang berbeda-beda, jika sang dewi terlahir di pulau Xyphius sambil tertawa, maka tanah Xyphius akan subur, tumbuhan apapun akan senang untuk tumbuh disana dan memberi makan para penghuni pulau tersebut. Sementara itu pulau Cyrodes dikenal sebagai pulau yang gersang, dikelilingi oleh batu karang yang menghalang jalur kapal dan tanah yang gersang. Gandum, zaitun dan rempah bahkan tidak bisa hidup meski disiram dengan air suci dari sang dewi Helphytia, kabarnya dewa Hyston lahir disana. Dewa penjaga neraka, wajahnya muram dan tidak pernah tersenyum. Pulau yang malang itu mengikuti sifat sang dewa, begitu juga dengan penduduknya yang malang. Hidup dalam kekurangan dan kekeringan.

Lalu, bagaimana dengan Kyrìa? Entah dewa atau dewi apa yang terlahir disini karena kerajaan ini sendiri hampir terlupakan. Tidak semegah dan sebesar kerajaan lain di Myodest. Satu-satunya hal yang bisa dibanggakan dari Kyrìa adalah leluhur sang raja merupakan demigod atau manusia setengah dewa yang memenangkan perperangan.

Itu saja. Meski begitu, makanan disini lumayan enak. Aku yakin jika sang raja menghidangkan Sytrhp pada tamu dari pejuru Myodest, pasti mereka menyukainya. Roti lembut dari rumput yang banyak ditemukan di pulau ini dihidangkan dengan yogurt dan buah berry, agar lebih mewah terkadang kami menuangkan madu diatasnya. Membuat rasanya lebih manis. Sayang sekali sang raja tidak memikirkan hal itu untuk menonjolkan apa yang dimiliki kerajaan kecil ini.

Meski kecil dan tidak banyak hal menarik disini, aku merindukannya. Bagaimana angin yang hangat itu menghembus, wangi manis dari berry dan anggur setiap musim panen, serta indahnya bintang di malam hari yang dingin. Aku mengingat semuanya dengan jelas, dinginnya air sungai yang berada di hutan dan bagaimana serunya menunggangi sapi di sore hari, lalu manisnya Stythrp buatan ibu di pagi hari sebagai sarapan. Madu-madu itu akan menempel lengket di jari jemariku, dan aku akan menghisapnya bersih sembari tersenyum pada ibu.

Andai aku bersyukur sebelum hari ini tiba, hari dimana aku tidak akan pernah menginjak tanah itu lagi dikemudian hari.

"Bocah, duduk dengan tegap! Kau pikir ini kereta pribadimu?" Bentak sang kusir sembari memukul jeruji pada kereta ini menyadariku akan realita. Aku terbangun dari papan kayu itu dan duduk dengan tegap, melihat bagaimana kereta ini berjalan dengan kasar. Roda kayu ini terus berbenturan dengan kerikil di tanah, bahkan sang kuda terlihat tidak nyaman berlari di atas kerikil-kerikil ini. Aku terduduk sambil menatap kedua tanganku yang diikat keras dan tatapan sinis dari orang-orang yang mengantar kepergian kereta kuda ini. Seperti aku sedang dipertontonkan bagai binatang yang aneh dibalik jeruji yang mengurungku ini.

"Dasar bodoh, jika aku jadi kau aku akan diam saja. Majikanmu memberi uang dan memberimu makan, apapun yang ia perbuat bisa kau tahan. Kau menghancurkan hidupmu sendiri nak" ujar sang kusir sambil menunggangi kudanya. Aku tidak bisa menjawab, aku terus terduduk diam.

.
.
.

Hari berlalu, aku kehilangan hitunganku. Sepertinya sudah seminggu lebih, atau bahkan sebulan? Sudah 5 kali aku diserahkan pada orang yang berbeda. Dengan 5 kereta kuda yang berbeda, dan 5 ekor kuda yang berbeda. Kusir kali ini tidak banyak bicara seperti yang sudah-sudah dan akupun nyaman akan itu. Ia tidak masalah jika aku berbaring malas ataupun tertidur sepanjang perjalanan, ia akan membangunkanku untuk makan dan buang air.

Aku baru menyadari ini ditengah perjalanan. Angin yang berhembus rasanya sangat gerah dan sedikit berbau asin. Tumbuhan yang berlalu lalang juga asing bagiku, tidak pernah kulihat di Kyrìa. Meski begitu dimalam hari dinginnya seperti menusuk hingga ke tulang rusukku. Aku akan meringkuk seperti serangga yang membusuk, memeluk erat kain lusuh yang diberikan sang kusir. Seperti berada di dunia lain, semua hal ini berbeda dengan Kyrìa.

Keesokan harinya, aku terbaring dengan keringat yang terus keluar dari tubuhku. Rasanya sangat tidak nyaman, gerah dan panas. Bagaikan matahari itu berada tepat sejengkal diatas kereta kuda ini, berbaring 30 menit saja rasanya seperti tersiksa, tenggorokanku haus akan air meski sudah kuminum seteguk dua teguk. Sepertinya sang kusir menyadari itu, di tengah perjalanan ia menyelipkan 2 buah dari balik jerujiku.

Buah itu seukuran apel dengan warna merah lembut. Lagi-lagi hal baru yang tidak ada di Kyrìa, aku tanpa pikir panjang langsung memakan buah itu. Tidak bertanya bagaimana memakan ataupun mengupas kulit itu. Tapi kurasakan begitu segar dan lembutnya daging buah itu, air yang keluar terasa sangat manis. Ku makan dengan lahap, tidak mempedulikan bagaimana air tersebut membasahi jari dan tanganku hingga terasa licin dan lengket.

"Terimakasih" ucapku. Itu adalah kata-kata pertama yang berhasil keluar dari mulutku pada sang kusir setelah berapa lama ia membawaku. Ia tidak menjawab ataupun mengangguk, terus menunggangi kuda nya. Tak lama kemudian dari perjalanan yang jauh ini, baru kulihat laut yang luas. Rumah-rumah berdiri indah didekatnya. Begitu kereta kuda ini memasuki jalur utama, kurasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Tatapan para warga yang penasaran, jijik dan sinis tertuju padaku dari balik jeruji.

Aku tersental dan mual, rasanya tidak nyaman. Apakah berita tentangku sudah tersebar hingga kemari?

"Entah hal apa yang kau lakukan di tempat asalmu, tapi sekarang ini adalah rumah barumu. Lupakanlah yang lalu dan hiduplah dengan benar. Nama baru juga bisa kau berikan pada dirimu sebagai awal dari kehidupanmu di tempat ini. Selamat datang di Ssyphtia, tempat dewi Olyphia lahir" Ucap sang kusir.

Mataku terbelalak, sedikit tersentak hingga kepalaku terhantuk langit-langit dari kereta kuda ini. Sempat kurasakan mataku berkaca-kaca, entah apa yang mengharukan dari perkataanya. Tapi rasanya hangat.

"Terimakasih..."

Myosotis of KyrìaStories to obsess over. Discover now