Prolog

19 3 0
                                        

Prolog

Aksa Ranggasatya Adiprana adalah pria yang hidup dari kendali.
Tinggi, atletis, selalu rapi dalam setelan mahal—ia tampak sempurna di mata dunia. Presiden Direktur di salah satu anak perusahaan milik keluarganya, lulusan luar negeri, cerdas dan disiplin. Namun di balik ketenangan wajah dan sorot mata dinginnya, Aksa menyimpan temperamen yang mudah meledak dan luka lama yang tak pernah sembuh. Ia percaya cinta adalah kelemahan. Perempuan adalah risiko. Dan empati—hal yang tak ia butuhkan.

Alyn Padma Pranayara adalah kebalikannya.
Gadis dua puluh dua tahun dengan kecantikan yang tak berisik. Ia tertutup, sederhana, dan terbiasa bekerja tanpa mengeluh. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat—keluarga yang terlilit hutang membuatnya rela mengorbankan diri, menukar kebebasan demi keselamatan orang-orang yang ia cintai. Alyn tidak pandai melawan. Ia hanya pandai bertahan.

Aksa menikahi Alyn bukan karena cinta.
Ia membelinya—begitu yang ia yakini.

Bagi Aksa, Alyn hanyalah objek yang sah dimiliki, dikendalikan, dan dipatahkan. Makian menjadi bahasa sehari-hari. Amarah menjadi cara memastikan Alyn selalu ingat posisinya. Dan Alyn belajar hidup dalam diam, menahan luka tanpa pernah benar-benar dipeluk.

Sampai suatu hari, Aksa melihat sesuatu yang tak pernah ia beri:
senyum Alyn yang sumringah—nyata—untuk orang lain.

Di hadapannya berdiri Damar Prawiranegara, teman Aksa sendiri. Seorang dokter yang memandang Alyn dengan ketulusan, mencintainya karena kesederhanaan yang Aksa anggap remeh. Senyum itu menyalakan perasaan asing di dada Aksa. Panas. Menggigit. Tak terkendali.

Murka pun lahir.
Dan Alyn kembali menjadi sasaran.

Namun di balik amarah itu, Aksa menyadari sesuatu yang berbahaya:
Alyn bisa pergi. Alyn bisa dicintai. Dan untuk pertama kalinya, ia takut kehilangan sesuatu yang selama ini ia anggap benda.

Maka Aksa memilih caranya sendiri—menyiksa dengan jarak, mengikat dengan perhatian, dan perlahan merebut hati Alyn agar perempuan itu tak pernah berani meninggalkannya.

Bukan karena cinta.
Melainkan karena Aksa Ranggasatya Adiprana tak pernah menerima kekalahan.

Yang Tidak Setara - AksalynDes histoires addictives. Découvrez maintenant