BAB 1

451 33 0
                                        

BAB 1: TAKDIR YANG BERPUTAR

Jam lima belas kurang sepuluh di rumah sakit Umum Pekalongan. Ruang praktik dokter spesialis penyakit dalam, dr. Orm Wijaya, masih penuh dengan aroma alkohol dan obat-obatan yang khas. Tangannya yang ramping namun kuat sedang menuliskan catatan medis untuk pasiennya, Ibu Siti, yang menderita diabetes tipe 2. Gerakan jarinya di atas kertas begitu terampil, hasil dari bertahun-tahun latihan dan pengalaman yang dia kumpulkan sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada lima tahun yang lalu.

"Sudah cukup minum obat sesuai dosis ya Bu, dan jangan lupa kontrol minggu depan," ucap Orm dengan senyum hangat saat pasiennya berdiri untuk pergi. Ibu Siti mengangguk dengan senyum penuh rasa terima kasih, tangan kanannya yang keriput menyentuh bahu Orm sebentar sebelum keluar dari ruangan.

Setelah pintu ruangan tertutup, Orm menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya melirik ke arah jendela, melihat langit yang mulai berubah warna dari biru cerah menjadi oranye kemerahan seiring dengan datangnya senja. Pekalongan yang dikenal sebagai kota batik memang memiliki pesona tersendiri saat sore hari – suara adzan yang terdengar dari masjid-masjid di sekeliling, aroma makanan khas kota yang mulai menyebar, dan keramaian kecil di jalanan yang mulai muncul.

Tiba-tiba, dering ponsel yang terletak di atas meja membuatnya terkejut sedikit. Dia mengambilnya dan melihat nama yang muncul di layar – "Ibu Sudarti". Jantungnya sedikit berdebar kencang. Ibunya jarang sekali menelepon di jam kerja kecuali ada hal penting.

"Halo Bu..." ucap Orm dengan nada hati-hati.

"Nak, bagaimana kabarmu? Sudah makan belum?" Suara ibunya terdengar lembut namun dengan nada yang sedikit tegang.

"Baik Bu, baru saja selesai menangani pasien. Belum sempat makan, nanti saja setelah pulang," jawab Orm sambil menata-nata dokumen di mejanya.

"Nak, ada sesuatu yang harus kuberi tahu. Besok sore jam empat tepat, jangan sampai ada janjian apa pun ya. Kamu harus pulang ke rumah, ada tamu penting yang akan datang. Oh iya, ajak juga Dito ya – aku ingin dia ada di sana juga."

Orm mengerutkan kening. Dito adalah adik laki-lakinya yang masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang, dan baru saja pulang ke Pekalongan untuk liburan semester kemarin malam. "Tamu penting? Siapa ya Bu? Apakah ada acara khusus? Dan kenapa Dito juga harus datang?"

"Kamu akan tahu nanti saja Nak. Yang penting, datanglah tepat waktu ya. Jangan sampai terlambat seperti biasanya. Aku sudah menyuruh Ibu Mimin memasak makanan kesukaanmu – termasuk sate kambing yang kamu suka banget." Sebelum Orm bisa bertanya lagi, ibunya sudah mengakhiri panggilan.

Dia menatap layar ponsel yang sudah mati dengan wajah bingung. Ada sesuatu yang tidak biasa dengan nada suara ibunya kali ini. Sejak beberapa bulan terakhir, ibunya sering sekali membicarakan tentang pernikahan. Bahkan beberapa kali dia ditempatkan pada "pertemuan kenalan" yang tidak dia inginkan, selalu dengan didampingi Dito yang suka jadi "penolong"nya saat ingin kabur dari acara tersebut.

Saat dia sedang membersihkan meja, salah satu perawat muda bernama Ratna masuk ke ruangan dengan membawa tumpukan berkas rekam medis – bersama dia adalah dr. Rian, teman sekelas Orm saat kuliah yang sekarang bekerja sebagai dokter spesialis bedah di rumah sakit yang sama.

"Pak Dokter, ini rekam medis pasien yang akan diperiksa besok pagi," ucap Ratna dengan sopan.

"Terima kasih Ratna. Kamu pulang saja ya, sudah cukup lama bekerja hari ini," kata Orm sambil mengambil berkas tersebut.

Rian mendekat dan mengetuk mejanya dengan ringan. "Hei, kamu terlihat tidak enak badan aja. Ada masalah apa?" tanya dia dengan suara rendah agar tidak didengar Ratna.

Orm menggelengkan kepala. "Cuma ada kabar dari rumah aja. Ibuku bilang ada tamu penting besok sore."

Rian mengangkat alisnya dengan sinis. "Jangan bilang lagi tentang pertemuan kenalan ya? Kalau iya, aku siap bantu kamu membuat alasan agar kamu bisa kabur. Seperti dulu saat kita kuliah dan kamu harus menghadiri acara keluarga yang kamu tidak suka."

Orm tersenyum lembut. "Mungkin saja. Nanti kalau benar, aku akan hubungi kamu ya. Oh iya, kamu masih kontak dengan Reno dan Dika kan? Kapan kita kumpul lagi ya? Sudah lama tidak ketemu mereka."

Reno dan Dika adalah teman dekat Orm saat kuliah – Reno sekarang bekerja sebagai dokter di rumah sakit di Jakarta, sedangkan Dika memilih menjadi dokter praktik di kota kelahirannya, Solo.

"Ya dong, mereka juga sering nanya kabarmu lho. Nanti aku buat grup chat aja ya," jawab Rian sebelum keluar dari ruangan bersama Ratna.

Setelah mereka pergi, Orm duduk kembali dan mulai meninjau berkas rekam medis tersebut. Namun, pikirannya tidak bisa fokus. Benak dia terus terganggu oleh panggilan ibunya tadi. Siapa saja tamu penting yang akan datang? Apakah ini terkait dengan pekerjaannya? Atau... apakah ini kembali tentang pernikahan?

Mata kirinya tiba-tiba melihat sebuah foto kecil yang terpampang di sudut mejanya – foto dirinya bersama seorang wanita dengan wajah cantik dan senyum manis saat wisuda kuliah. Wanita itu mengenakan gaun wisuda putih dengan selempang warna emas, sementara dirinya mengenakan jas hitam yang rapi. Tangannya menyandarkan bahu wanita itu dengan penuh cinta. Namanya adalah Lingling Kusuma – wanita yang pernah menjadi segalanya baginya, wanita yang juga pernah membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Orm mengambil foto tersebut dengan hati-hati, jempolnya menyentuh wajah Lingling di foto. Sudah tujuh tahun sejak mereka terakhir bertemu secara langsung. Sejak saat itu, dia tidak pernah berani mencari tahu kabar tentangnya. Dia hanya tahu bahwa Lingling kini bekerja sebagai perancang busana dan memiliki teman dekat bernama Maya dan Rina – Maya adalah seorang desainer interior yang juga teman sekelasnya saat kuliah, sedangkan Rina adalah seorang fotografer yang sering bekerja sama dengannya dalam proyek busana.

"Dia pasti sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang..." bisik Orm pelan sambil menyimpan kembali fotonya ke tempat semula. Dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk fokus kembali pada pekerjaannya. Namun, rasa penasaran dan sedikit rasa takut mulai merayap di dalam hatinya. Apa yang sebenarnya akan terjadi besok sore? Dan mengapa hati dia tiba-tiba berdebar kencang seperti ini?

Jangan lupa vote banyak² ya gaes, biar aku semangat nulisnya nya 🥰🥰😘

"HARAPAN YANG TERLUPAKAN"Stories to obsess over. Discover now