Ditengah menjalani life after break-upnya, Eliza selalu menyempatkan diri untuk singgah ke perpustakaan kota setelah selesai bekerja. Entah buku jenis apa yang ia baca, tak pernah sampai selesai, bahkan setiap kata yang dibacapun tidak masuk ke otaknya. Karena berkunjung ke perpustakaan hanyalah alasan untuk menenangkan pikirannya. Setelah hampir dua jam lamanya berdiam diri, akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan kembali menjalani sisa hari seperti biasanya.
Eliza adalah seorang Guru Seni Musik yang mengajar di Sekolah Dasar swasta Korea. Sekarang ia genap berumur 27 tahun. Dulu ia sempat punya life goals menikah diumur 25 thn, nyatanya menemukan jodoh tidak semudah yang ia kira.
Dua bulan yang lalu ia baru saja putus dengan kekasihnya setelah menjalin hubungan 3 tahun lamanya. Alasannya karena sedikitnya waktu mereka bertemu. Eliza merupakan seorang berkebangsaan Korea-Australia, dan separuh usianya ia habiskan di Australia. Sejak kecil, bakatnya dalam bermusik sudah didukung dan difasilitasi oleh orang tuanya. Ketika sudah dewasa, dari pada menjadi seorang musisi, ia lebih memilih menjadi sorang Guru musik. Kiranya akan lebih menyenangkan hidup berbagi pengalaman dengan orang yang ingin belajar dibidang kemampuannya, bahkan akan senang jika diberi kesempatan belajar dan mengajar bersama anak-anak.
Ketika memasuki jejnjang perkuliahan, ia memutuskan untuk kuliah di Seoul Korea dan tinggal dirumah orang tua dari Ibunya, sehingga ia tinggal bersama Kakek-Neneknya. Salah satu alasan ia pindah ke Korea, karena dia ingin merasakan vibes dan kehidupan seperti dalam drama Korea yang sering kali ia tonton, nyatanya hidupnya tidak sama sekali indah sebagaimana dramanya.
Selama 2 bulan ini, ia menjalai hidupnya dengan flat. Jam 8 pagi ia akan pergi ke Sekolah untuk mengajar sampai jam 4 sore. Setelahnya ia akan pulang bersih-bersih diri dan kembali mengajar les piano sehabis maghrib sampai selesai jam 8 malam. Untungnya ia hidup dikelilingi oleh anak-anak yang belajar kepadanya, sehingga ada toping hidup antara senang, sedih, cape, kesal yang ia rasakan dalam menghadapi anak-anak.
Seperti saat ini, setelah ia mengajar les piano, ia menyempatkan diri untuk mampir ke super market diarah jalan pulangnya untuk membeli beberapa kebutuhan rumah dan sedikit camilan. Kebetulan keadaan disuper market tersebut cukup sepi. Di bagian kasir hanya ada dirinya dan satu orang pemuda dengan pakaian sangat tertutup dan memakai masker yang sedang membayar. Terdapat sedikit kegaduhan antara pemuda dan si kasir. Pemuda tersebut juga tampak sibuk mengutak-atik hpnya dan merogohi saku celananya.
Karena dirasa cukup lama, Eliza mendekati kegaduhan tersebut dan memberikan diri untuk bertanya "Maaf, ada yg bisa saya bantu?"
"Tidak" Jawab singkat si pemuda, sambil merogohi sakunya.
Eliza mengalihkan pandangannya kepada sang kasir untuk mencari jawaban, sambil mengangkat alisnya ekspresi bertanya.
"Dia sepertinya lupa membawa uang, aku menyuruhnya bawa barangnya dulu, besok bisa kembali lagi untuk membayar tapi tidak mau. Dia terus merogohi sakunya dari tadi" Jawab kasir yang sepertinya tak jauh beda umur kita berdua.
"Jadikan satu saja dengan punyaku, aku akan membayarkannya dulu" Imbuh Eliza.
Kasirpun segera melakukan transaksi jula beli tersebut dengan Eliza, termasuk barang yang dibeli pemuda tadi.
Pemuda tadi langsung membungkukkan badannya sebagai tanda terimakasih, sambil membenarkan masker dan kupluknya.
Setelah menyelesaikan transaksi, Eliza pun keluar dari super market tersebut. Diikuti oleh pemuda tadi.
"Permisi" Ucap pemuda tadi menghentikan langkah Eliza.
"Iya??" Eliza menoleh kebelakang.
"Maaf" Ucap si pemuda sambil menggeret lengan Eliza tanpa ijin, dan mengajaknya ke belakang super market yang tempatnya agak sepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
562 | Kwon Ohyul
FanfictionJauh dari jangkauan media, seorang Guru musik di Sekolah Dasar swasta Korea berhasil menarik perhatian salah satu idol terkenal di Korea Selatan. Latar kehidupan yang sangat jauh berbeda membuat adanya batas besar anatara mereka. Akankah mereka dapa...
