Hiruk-pikuk kota Jakarta selalu menjadi pemandangan yang khas. Matahari yang mulai bergeser ke arah Barat, mulai memancarkan terik yang menghangatkan. Meski terlihat semrawut, Kota Jakarta justru mampu menjadi ruang untuk memaknai kehidupan yang sebenarnya.
Melihat ke kanan, banyak pedagang yang masih berusaha menjajakan usahanya. Melirik ke kiri, banyak mobil dengan berbagai merk berjejer, menunggu kemacetan. Sedang melirik ke depan, ia melihat Pramusapa yang menjawab pertanyaan penumpang dengan ramah sembari jarinya terus mengetuk-ngetuk tiang penyangga.
Pukul 16.40, waktu pulang kerja yang paling ditunggu Nadin. Di tengah padatnya TransJakarta sore ini, ia berusaha menekan jari-jari kaki yang tertutup sepatu itu karena terasa pegal. Beruntungnya saat ini ia mendapatkan tempat duduk, karena jaraknya hingga halte tujuan nanti masih cukup panjang.
Nadin membuka ponselnya, melihat dari notifikasi siapa saja yang mengirimkannya pesan. Satu yang membuat ia menghela nafas, jengah. Pesan dari Tya, sepupunya. Perempuan itu selalu bersemangat untuk menjodohkannya, entah apa alasannya. Ia selalu jengah dengan semua sepupunya yang berusaha menjodoh-jodohkan itu.
'Apa gue keliatan nggak laku banget ya?' Pikir Nadin setiap kali para sepupunya berusaha menjodohkan ia dengan siapapun.
Masalahnya, ini tak sekali-dua kali, tapi sudah berkali-kali. Nadin pun sudah mengutarakan keresahannya ini, tapi mereka memang begitu, kata ibunya.
Ingin sekali Nadin memblokir nomor sepupunya itu. Tapi bisa-bisa ia diamuk oleh ibunya, karena diduga berupaya memutus hubungan keluarga. Mau bagaimana lagi, yang bisa ia lakukan saat ini hanya perlu menerima setiap ucapannya saja.
30 menit kemudian, ia sampai di halte tujuan akhirnya. Ia segera memesan ojek online untuk sampai ke rumahnya. Berharap bisa merebahkan tubuhnya yang sudah remuk ini di kasur kesayangannya itu.
Namun angan hanyalah angan. Rebahan itu hanya sampai pada keinginan.
"Anterin lah Din, kasian ibu kalau sendiri,"
"Ya kan ada bapak, emang bapak nggak bisa? Adin baru pulang kerja, pak," keluhnya.
Sebenarnya ia tak tega menolak untuk mengantar ibunya pergi undangan, karena di satu sisi ia tak ingin ibunya pergi sendirian.
"Bapak nggak bisa, Din. Mau ada rapat sama pak Ginanjar, kan bentar lagi tujuh belasan,"
"Sama si Eja aja kalo gitu. Kemana dia?"
"Jangan atuh Din, kasian si Eja, baru juga main sama temennya,"
Nadin menghela nafasnya. Ia muak mendengar orangtuanya selalu mengasihani adik laki-lakinya itu. Lelaki yang terpaut usia dengannya 4 tahun, dan saat ini sedang masa libur kuliah. Tedja Rahman namanya.
Mau tidak mau, Nadin harus mengiyakan permintaan ayahnya itu. Ia menggeleng pelan ketika ayahnya berbisik untuk sekaligus ia mencari kenalan di sana.
Tak sepupu-sepupunya, bahkan ibu dan ayahnya pun selalu menekan Nadin untuk mencari kenalan agar segera menikah. Hingga ia bosan mendengarnya. Buru-buru Nadin bersiap, bahkan ia melupakan rencana untuk masak mie sepulang kerja yang telah diagendakan sejak pagi tadi.
Di sela-sela adegan bersolek, ponselnya terus bergetar, dengan malas ia mengangkat panggilan sahabatnya, Ayu.
"Ape?"
"Sayangku cintaku, kamu di mana?" tanyanya.
"Mau nganter ibu kondangan, kenapa?"
"biasa, Din," ujar seseorang dari sana, selain Ayu. Itu sahabatnya juga, Gia.
Nadin sudah tahu arah pembicaraannya ini mau kemana. Ia menghela nafas, lelah. Terbesit di pikirannya untuk menolak permintaan sahabatnya itu. Tak sekali dua kali Nadin selalu menemani perempuan itu untuk sekadar berkencan dengan lelaki yang dikenalnya lewat aplikasi online atau media sosial.
"Kenapa nggak sama si Gia aja?" tanyanya.
"Sorry ye gue mau ngedate," ucapnya dengan nada meledek.
"Please yaa.. please banget!!"
"Yaa, info aja lokasi sama jamnya," jawab Nadin pasrah.
"Yes, thank you sayangku cintaku, semoga kamu diberikan rezeki yang berlimpah, diberi jodoh.."
Belum sempat Ayu menyelesaikan ucapannya, buru-buru Nadin mematikan panggilan itu. Cukup malas ia mendengar ucapan Ayu yang berbicara soal jodoh, tak ada habisnya.
Kadang Nadin heran, ia rasa dirinya juga memiliki paras yang lumayan cantik. Sikapnya pun masih tergolong ramah. Jadi, apa yang membuatnya sedikit lebih sulit untuk berkencan? ia pun tak tahu. Di antara kedua sahabatnya, Nadin-lah orang yang dianggap lurus-lurus saja. Tak memiliki kekasih, juga tak ada yang sedang mendekati.
Jangankan orang lain, bagi Nadin, ia juga kehabisan akal untuk berpikir mengapa bisa begitu.
Setelah dirasa penampilannya sudah rapi, ia segera keluar kamar dan menghampiri ibunya yang sedang bercengkrama dengan sang bapak. Sekilas ia mendengar ucapan ibunya tentang kekhawatiran mereka akan pasangan hidupnya kelak.
Wajar saja, banyak perempuan seumurannya di lingkungan mereka sudah berumah tangga bahkan memiliki anak. Sedangkan Nadin, di umur yang sudah 25 tahun ini masih terlihat begitu santai bahkan seolah tak peduli.
"Bu, ayo. Jangan terlalu lama ya, Adin ada janji sama Ayu nanti malem," tuturnya.
"Iya, ibu juga nggak mau lama." jawabnya yakin.
Padahal, lama menurut ibu-ibu, jauh berbeda dengan lama menurutnya.
Pukul 20.25, Nadin sampai di kafe tempat ia berjanjian dengan Ayu. Ia menelisik seluruh bangku yang ada di area outdoor itu. Suara live music mengalunkan lirik dari lagu milik Juicy Luicy - Lantas, disambut hangat oleh beberapa pengunjung yang turut bernyanyi.
"Adin," panggil Ayu dari meja paling ujung.
Nadin melangkahkan kakinya menuju Ayu. Ia melihat lelaki di hadapan Ayu yang ia duga adalah kenalan gadis itu. Tubuhnya tegap dan sepertinya cukup tinggi. Satu hal yang Nadin sadari, lelaki itu agak sedikit mirip dengan adiknya Ayu.
"Han, kenalin, ini Nadin. Din, ini Farhan," ujar Ayu.
Farhan mengulurkan tangan kepada Nadin yang langsung diterima oleh gadis itu. Setelahnya Nadin hanya sibuk berkutat dengan laptopnya. Memang selalu begitu. Nadin maupun Gia yang berperan untuk menemani Ayu memang murni hanya menemani. Tidak ikut campur dengan persoalan Ayu lebih lanjut.
Satu hal yang tak Nadin sadari, sejak awal ia datang, ada seseorang yang memperhatikan gerak-geriknya. Tersenyum, merasa puas karena dapat melihat Nadin, lagi. Setelah sekian lama.
YOU ARE READING
RANUM BERPAUT
RomanceKata 'Dewasa' selalu berkaitan erat dengan penuh pertimbangan. Setiap masa, setiap kata, hingga setiap rasa selalu menjadi pertimbangan. Tak ayal, itu pula yang terjadi pada perempuan berusia 24 tahun, akrab disapa Nadin. "Iya, nanti dipikirin." M...
