Bab 1. Galodo

24 7 3
                                        

Galodo

"Yun, Yun, Yun ...!"

Suara itu datang seperti bisikan dari dasar sumur. Jauh, berlapis air, namun begitu dikenali. Yuni terbangun dengan dada berdebar, napasnya tercekat. Kasurnya sudah dingin dan basah. Air merayap di lantai kamar, menyentuh pergelangan kakinya, membawa bau tanah yang amis.

Hujan belum berhenti sejak entah kapan. Hari-hari terasa melebur, seperti kalender yang dilumat air. Rumah ini memang selalu pertama kali kemasukan air karena posisinya lebih rendah dari jalan, terlalu dekat dengan sungai yang akhir-akhir ini tak pernah jinak.

"Bu ...?" panggil Yuni lirih, setengah sadar.

Tak ada jawaban. Hanya suara hujan yang menampar atap seng, dan gemuruh lain yang lebih besar, lebih berat, seperti sesuatu yang diseret paksa dari hulu.

Lampu padam. Seketika kamar itu berubah menjadi kotak hitam. Yuni meraba dinding, mencari saklar yang sudah tak berguna. Air naik cepat, bercampur lumpur, dingin, menekan lututnya. Dari luar kamar, sesuatu menghantam-gedebuk!-pintu bergetar, engselnya menjerit.

"Yun!"

Suara itu kembali, kini lebih dekat, lebih cemas. Suara ibu.

Tubuh Yuni gemetar. Ada bagian dari dirinya yang ingin percaya. Ingin berlari ke pelukan itu seperti dulu, ketika hujan hanya berarti dingin dan ibu selalu siap dengan selimut. Padahal ibu sudah lama meninggal.

Pintu kamarnya jebol. Air menerobos masuk seperti makhluk hidup yang marah. Yuni terseret, kepalanya membentur sesuatu, mungkin meja, mungkin lemari. Ia menjerit, tetapi suaranya langsung ditelan arus.

Jendela kamarnya terkunci terali besi-pengaman dari maling, kebiasaan lama di kampung ini. Kini besi itu berubah menjadi perangkap. Yuni mencoba meraih apa pun, kukunya mengais udara dan dinding yang licin. Air mendorongnya keluar kamar, menyapu lorong, ruang tamu, semua yang pernah ia kenal.

"Pegang tangan ibu, Yun ...!"

Suara itu terdengar lembut, hampir seperti doa.

Yuni menangis. Air masuk ke mulutnya, pahit, berlumpur. Dalam kegelapan total, ia tak tahu mana atas, mana bawah. Hanya rasa dingin, keras, berputar. Rumahnya lenyap, digantikan arus bandang yang menyeretnya ke luar, ke malam tanpa bentuk.

Ia terombang-ambing bersama kayu, atap, dan benda-benda yang dulu punya tempat. Kakinya menghantam sesuatu, sakitnya menyambar. Ia berusaha mengapung, mengingat bagaimana ibu dulu mengajarinya berenang di sungai yang sama, ketika sungai masih ramah.

"Yun ...!" Kini suara itu retak, seperti datang dari dalam kepalanya sendiri.

Tenaganya hampir habis saat tubuhnya terbentur keras. Sesuatu menahan. Yuni refleks memeluknya-batang pohon. Kulitnya kasar, basah, berlumut. Ia mengaitkan lengan dan kakinya sekuat yang ia bisa, napasnya terengah, tubuhnya gemetar hebat.

Arus masih menarik, mencoba melepaskannya. Gelap masih menutup mata dunia.

Di sana, tersangkut di pohon, Yuni terisak sendirian. Tak ada ibu. Tak ada suara selain air dan hujan. Hanya ingatan yang terus memanggil, agar ia tidak menyerah.

Batang pohon itu berderit setiap kali arus menghantam. Yuni memejamkan mata, bukan untuk tidur, tapi untuk menahan pusing yang berputar. Lengannya kaku, jemarinya nyeri seperti mau patah. Ia tak tahu sudah berapa lama bergelantungan di situ, menit atau jam, semuanya larut dalam gelap.

Hujan mulai mengecil, tapi sungai belum mau menyerah. Galodo masih membawa sisa-sisa rumah, seng, kasur, bahkan lemari yang sesekali menghantam batang pohon tempat Yuni berpegangan. Setiap benturan membuatnya menjerit tanpa suara.

Galodo Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang