Hong Hae In's POV
Age 15-17
Jika kalian bertanya kepada siapa pun di sekolah kami tentang Hong Hae In dan Baek Hyun Woo di tahun pertama, mereka pasti akan menjawab hal yang sama: kami adalah bencana yang menunggu untuk meledak.
Aku tidak pernah memiliki musuh. Tidak juga memiliki teman yang terlalu dekat. Bagiku semua sama saja, selama tidak mengusikku.
Tapi, sejak aku menginjakkan kaki di sekolah ini, di kelas ini, dan mengenal satu manusia bernama Baek Hyun Woo, aku baru tahu bagaimana definis manusia menyebalkan.
Hyun Woo adalah segalanya yang tidak aku sukai dari seorang remaja laki-laki. Dia berisik, terlalu percaya diri, dan tampak menganggap seluruh dunia adalah panggung sandiwara yang diciptakan hanya untuk menghiburnya.
Dia selalu tertawa di bangku belakang dengan teman-temannya di jam istirahat, tertidur di jam pelajaran dan selalu dikelilingi wanita kemanapun dia melangkah. Aku tidak pernah melihatnya benar-benar serius dengan apa yang guru sampaikan, tapi anehnya dia selalu mendapat juara pertama. Menyebalkan.
Sementara Hong Hae In? Aku. Aku adalah gadis yang tenang. Duduk di barisan kedua, mencatat setiap perkataan guru dengan rapi, dan merasa bahwa ketertiban adalah kunci dari kebahagiaan hidup. Tapi anehnya aku tidak pernah bisa mengalahkan laki-laki aneh itu. Sangat menyebalkan.
"Hong Hae In! Kau tahu tidak? Kerutan di keningmu itu bisa membunuh lalat yang lewat. Tapi sayangnya, kerutan itu tetap tidak akan membuatmu mengalahkanku."
ejeknya suatu pagi saat dia sengaja menendang pelan kaki kursiku hanya untuk melihatku menoleh dengan marah.
Aku mendengus, membetulkan letak kacamataku tanpa minat.
"Diam. Sebelum pulpen di tanganku pindah ke matamu."
Lalu dia pergi begitu saja sambil tertawa dengan cara paling menyebalkan.
Kami terus seperti itu selama tahun awal Sekolah Menengah Atas. Saling melempar sindiran tajam di koridor, berdebat sengit saat pembagian tugas kelompok, hingga puncaknya terjadi saat naik ke kelas 2, kami kembali satu kelas dan wali kelas kami dengan sengaja menunjuk kami sebagai Ketua dan Wakil Ketua kelas. Dengan alasan sebagai juara 1 dan 2, kami diharapkan akan mengerjakan tugas kami dengan baik jika bekerjasama. Tidak cukup sampai disitu, setelahnya, guru-guru juga mulai dengan sengaja hampir selalu menyatukan kami untuk tugas-tugas kelompok.
Itu seperti hukuman bagiku, dan lelucon baginya.
Namun, ada sesuatu tentang "terjebak" yang sering kali mengubah pandangan manusia. Karena organisasi dan tanggung jawab kelas, kami dipaksa menghabiskan waktu lebih banyak daripada yang pernah kubayangkan.
Momen itu dimulai dari hari-hari di ruang perpustakaan yang sepi. Hanya ada suara halus kicauan burung di luar jendela dan bunyi gesekan pulpen di atas kertas.
Suatu hari, saat kami sedang mengerjakan laporan tugas sejarah yang membosankan, aku jatuh tertidur di atas tumpukan buku karena kelelahan.
Saat aku terbangun satu jam kemudian, aku tidak menemukan wajah Hyun Woo yang sedang mengejekku. Sebaliknya, aku menemukan sebuah jaket seragam yang tersampir rapi di bahuku. Di atas meja, ada sekaleng minuman cokelat yang masih hangat. Sementara Hyun Woo sedang duduk di lantai di pojok ruangan, membaca buku yang aku kenal betul. Buku kumpulan cerita humor yang selalu kubawa di dalam tasku.
"Kau sudah bangun?" tanyanya tanpa menoleh, suaranya jauh lebih rendah dan tenang daripada biasanya. "Aku tidak tahu kau suka membaca buku humor seperti ini. Aku kira kotak tertawamu sudah rusak, makanya kau selalu marah."
KAMU SEDANG MEMBACA
GRAVITY
RomansaThe way gravity keeps me on earth is the way you keep me in your world
