1. Kehadirannya

456 57 16
                                        


Jennie selalu pulang ketika jam dinding hampir menyentuh tengah malam. Seragam kerjanya berwarna abu-abu muda, rapi meski lipatannya tak lagi setegas dulu. Lencana kecil bertuliskan Customer Service masih tergantung di kerah. Rambutnya diikat rendah, sederhana, bukan karena ingin terlihat rapi melainkan karena itu yang paling praktis setelah seharian berbicara tanpa henti pada orang-orang yang tak pernah ia kenal.

Malam ini, ia masih menerima satu panggilan terakhir saat ia akan memasuki villa. Nada suara pelanggan di seberang terdengar kesal. Jennie mendengarkan, meminta maaf, mencatat, dan menenangkan dengan suara yang tetap lembut meski kepalanya berdenyut. Ia menutup telepon kemudian menghela napas kasar ke udara.

Setiap langkah yang ia ambil menjajaki anak tangga, lampu hidup menerangi perjalanannya menuju lantai tiga, tepat unitnya berada.

Jennie memasukan sandi pada pintu kayu kokoh, gagangnya mengilap karena sering disentuh. Begitu masuk, suasana langsung berubah menjadi lebih hangat, bukan karena kemewahan, melainkan karena kebiasaan yang terjaga.

Apartemen itu sangat sederhana tapi cukup nyaman.

Ruang tamu menyatu dengan dapur, dipisahkan oleh meja makan kecil untuk dua orang. Kompor listrik dua tungku berdiri rapi, microwave tua diletakkan di atas rak, dan kulkas berukuran sedang berdengung pelan. Tidak ada barang yang berlebihan, tapi semuanya punya tempatnya masing-masing.

Sofa dua dudukan menghadap televisi kecil. Di sandaran sofa, ada selimut tipis yang sering Jennie gunakan saat kelelahan. Jendela besar menghadap deretan apartemen lain. Malam ini tirainya setengah terbuka, membiarkan cahaya kota masuk secukupnya.

Di kamar tidur, tempat tidur berada di sisi kiri, rapi dengan seprai abu-abu pucat. Di sisi kasur Ahyeon sudah tertidur, kamar itu mereka bagi tanpa banyak keluhan. Di dinding, ada satu kalender dan foto kecil Jennie dan Ahyeon tersenyum kaku, seperti orang yang tidak terbiasa berfoto tapi ingin menyimpan bukti bahwa mereka baik-baik saja.

Jennie meletakkan tas kerjanya, melepas sepatu, lalu duduk sebentar di sofa. Ia menunduk, menarik napas dalam, mencoba menenangkan tubuhnya yang terasa berat. Handphonenya kembali bergetar, pesan dari supervisor tentang jadwal lembur akhir pekan.

Ia membaca pesan itu lama, lalu meletakkan handphone terbalik di meja.

"Besok," gumamnya pelan.

Jennie berdiri lalu berjalan pelan menuju kamar, di sana Ahyeon sudah terlelap. Tangannya terangkat mematikan lampu kamar, menyisakan lampu dapur yang redup.

Jennie berbaring di sofa, masih mengenakan seragam kerja. Ia berniat hanya memejamkan mata sebentar sebelum pindah ke tempat tidur.

Namun pagi datang lebih dulu.

Ahyeon bangun ketika matahari sudah cukup tinggi. Ia mengira ibunya masih tidur. Jennie sering begitu setelah shift malam. Ahyeon berjalan ke ruang tamu sambil menguap, ia masih mengantuk.

Saat ia hendak menyiapkan sarapan sendiri, matanya tidak lepas dari sosok Jennie yang terbaring di sofa.

Namun tidak ada pergerakan apa pun dari sang eomma, meski sudah berlalu beberapa menit.

Ahyeon mendekat untuk membangunkan eommanya, tapi tubuh itu terasa dingin. Terlalu dingin.

Ahyeon memanggilnya, mengguncang bahunya, panik yang datang tiba-tiba membuat napasnya berantakan.

Tapi tidak ada jawaban. Tidak ada gerakan kecil yang biasa meyakinkan bahwa rommanya hanya terlalu lelah.

Dokter menyebutnya kelelahan akut. Jantung yang bekerja tanpa jeda terlalu lama.

Putaran WaktuWhere stories live. Discover now