Prolog

36 19 11
                                        

Rumah itu tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Bukan karena dindingnya rapuh, atau atapnya bocor saat hujan datang, Tapi karena isinya… penuh dengan suara yang saling menyakiti.

“Semua ini salah kamu, Lalita!”
Suara itu lagi, Keras, Tajam, Menusuk seperti biasa. Lavanya hanya diam di balik pintu kamarnya. Tangannya mengepal, tapi tubuhnya tak bergerak. Ia sudah terlalu terbiasa mendengar pertengkaran itu seolah menjadi lagu harian yang tak pernah ingin ia dengar.

Neneknya tidak pernah berhenti menyalahkan ibunya.
Dan ibunya… hanya bisa diam.
Sejak ayahnya pergi tanpa kabar, semuanya berubah.
Tidak ada lagi tawa di meja makan.
Tidak ada lagi cerita sebelum tidur.
Yang tersisa hanya tatapan lelah dan kata-kata yang terlalu pahit untuk diucapkan.

Lavanya menarik napas pelan, menatap langit-langit kamarnya yang kosong. Kalau saja… semuanya bisa kembali seperti dulu. Di sudut rumah lain, terdengar suara pelan. Gaura menangis lagi Entah karena dimarahi, atau karena merasa dirinya memang tidak pernah benar-benar diinginkan di rumah ini. Sementara Svarga, hanya bisa diam di kursinya, menatap tanpa banyak kata.

Dan Lavanya?
Ia hanya berdiri di tengah semuanya.
Tidak cukup kuat untuk memperbaiki, tapi juga tidak cukup tega untuk pergi. Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Lavanya menutup matanya perlahan.

“Kalau memang ada Tuhan…” bisiknya lirih, “boleh nggak… kirim satu orang aja buat bantu aku?”
Bukan pahlawan Bukan orang sempurna Cukup… seseorang yang bisa membuat semuanya terasa sedikit lebih ringan.

Ia tidak tahu, bahwa doa itu akan didengar Dan seseorang itu… akan datang lebih cepat dari yang ia bayangkan.

Mungkin Besok Atau Tidak Pernah Datang Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora