Moving

38 2 0
                                        


Tinggal di kota metropolitan adalah impian bagi semua orang, setidaknya menurut kebanyakan orang, tapi tidak bagiku. Wilayah kota yang besar dan penduduk yang padat menjadi pusat ekonomi dan sosial. Jumlah penduduk yang tinggi membuat kota itu tampak sangat padat dan sesak. Oh tentu saja lebih banyak peluang kerja, dan mudah untuk berkembang di sana. Tapi selain itu terdapat hal lain yang menjadi pertimbangan bagiku, kemacetan, polusi udara, hiruk pikuk perkotaan yang tidak pernah tenang, dan tekanan pada lingkungan. Ugh tidak bisa aku bayangkan. 

Karenanya aku memilih tinggal di pinggiran kota yang lebih tenang, yaah tidak jauh dari pusat kota juga, sih. Tapi di sini lebih memberikan ketenangan dan stabilitas mental, setidaknya bagi introvert seperti aku. Tidak masalah jika salary tidak setinggi di kota metropolitan, kenyamanan adalah poin penting bagiku. 

Di sini aku memilih untuk tinggal di One-room building. Bangunan seperti rumah yang memiliki 4 lantai, dan lantai paling atas digunakan sebagai rooftop: terdapat kebun mini dan bangku yang bisa kami gunakan. Pada setiap lantai terdapat dua kamar dan aku menempati lantai tiga. Sudah beberapa bulan aku tinggal di sini, dan kamar di sebelahku masih kosong. Selain harga yang terjankau, tinggal di sini sangat tenang dan nyaman, jauh dari gangguan dan kebisingan jalan.

Sekarang adalah akhir pekan, menjadi hari yang paling ditunggu oleh semua orang, termasuk denganku. Di hari ini aku bisa beristirahat dan melakukan apapun yang aku inginkan, bahkan bisa tidur selama apapun yang aku inginkan. Pagi ini, oh tidak terlalu pagi, sebenarnya ini sudah jam 10 siang. Aku pulang dari supermarket setelah belanja kebutuhan. Saat melewati kamar sebelah, terdapat beberapa kotak dan barang di luar pintu. Akhirnya ada yang menempati kamar itu, aku menjadi tidak sabar karena memiliki tetangga baru. 

Oh? Aku melihat ada kaset barbie terselip di antara barangnya. Sepertinya dia perempuan, kami bisa berteman akrab nanti, atau mungkin aku bisa memberinya salam hangat dengan membawa makanan sebagai tanda perkenalan kami. 


***


Pagi hari, di hari minggu, aku hanya ingin menikmati ketenangkanku di kamar seorang diri, salah satunya dengan tidur. Tapi sepertinya mustahil dengan keinginan itu. Karena aku mendengar suara musik yang sangat kencang dari kamar sebelah. Oh Tuhan, ini masih pagi. 

Siapa orang gila yang memutar 'A Glimpse of Us by Joji' di pagi hari? Iya, lagu galau di pagi hari, kalian tidak salah dengar.

Selain tidak bisa tidur dengan keadaan lampu menyala, aku juga tidak bisa tidur dengan suara berisik. Tidakkah dia tahu jika tembok ini tidak kedap suara? Dan apa masalah yang dia miliki hingga galau di pagi hari seperti ini. Toh orang putus cinta tidak biasanya segila ini. Lama-lama aku juga bisa ikutan gila, saking stressnya. 

Aku mencoba menjalani hari dengan se-normal mungkin, lagipula aku juga tidak bisa kembali tidur setelah diganggu jadi lebih baik aku melanjutkan hari dengan memasak sarapan. Aku makan selalu sambil menonton, karena itu lebih baik daripada hanya makan sendirian dan bengong. Tapi justru membuat suara dari televisiku teredam dengan suara musik kencangnya.

Kapan dia akan berhenti? dan siapa orang beruntung yang telah menyakitinya ini?

Matahari kini sudah sangat terik, berada tepat di atas kepala dan musiknya masih menyala. Mari aku sebutkan lagu yang sudah dia putar hari ini, ada: Adele - Someone like you, Olivia Rodrigo - Driver Lisence & Traitor, Lewis Capaldi - Someone You love, James Arthur - Cars outside, dan lagu lainnya yang aku tidak familiar. 

Aku menghela nafas dengan berat, melepas masker wajah yang aku gunakan. Sepertinya kali ini aku benar-benar harus turun tangan dan menghentikannya. Tapi aku kan orangnya tidak enakkan. Aku bingung, haruskah aku hentikan dia atau aku biarkan saja? Tapi dia kan sudah menyetel lagu tanpa henti sedari pagi. Benar, aku harus menegurnya.

Bagaimana jika dia marah? Bagaimana jika dia memukulku? Bagaimana jika dia tidak terima aku menegurnya? Oh seramnya lagi jika dia ternyata lelaki berbadan besar, bertato, wajah suram, dan membawa pisau lalu aku diculik dan dibunbun seperti di film-film thriller yang sering aku tonton? Ngeri sekali jika itu benar. Tapi seharusnya sih tetanggaku perempuan, karena biasanya yang galau berlebihan itu perempuan, dan aku juga melihat kaset Barbienya. Tapi perempuan kan bisa seram juga? 

Baiklah, aku telah memantapkan diri. Semangat Serena!

Aku sudah berada di depan pintunya, tanganku bergerak untuk menekan bel tapi berhenti di udara. Bagi orang yang pemalu dan introvert sepertiku, menyapa orang asing atau orang yang baru pertama aku temui adalah hal yang berat. 

Aku menghembuskan nafas, berpaling sejenak dari pintu yang saat ini terlihat seperti gerbang neraka bagiku. Aku mencoba untuk menanangkan diriku dan menyemangati diriku sendiri, bahkan rasanya seperti keringat dingin sekarang. Oke Serena, kamu bisa.

Ayo tekan belnya dalam hitungan ketiga. Satu... dua... tiga... Ah sial kenapa aku tidak mau melakukannya sih? Kan hanya tinggal menekan bel, beritahu tujuanmu, sudah lalu pergi. Kenapa begini saja susah sekali, sih. Oke, aku ulangi lagi. 

Satu... Dua.... Ding-dong.

Akhirnya aku bisa melakukannya. Tapi aku menunggu beberapa saat dan pintu di depanku tidak juga terbuka. Apakah pemiliknya tidak mendengar atau suara musik di dalamnya terlalu kencang?

Aku mencoba menekan sekali lagi bel tersebut. Aku menunggu lagi, satu detik, dua detik, satu menit tapi pintu tak kunjung terbuka. Ah sepertinya memberanikan diri dan berusaha membuatku membuang waktu dengan sia-sia. Sepertinya kali ini aku harus pergi dan kembali lagi nanti, atau esok hari. 

Baru saja aku berbalik untuk bersiap pergi, dari belakangku aku mendengar suara derit pintu yang terbuka. Ah akhirnya aku tidak jadi membuang waktuku. 

Aku kembali berbalik ke arah pintu yang saat ini telah terbuka. Mataku membelalak terkejut, kakiku menetap di lantai, membeku, tepat setelah aku melihat pemilik kamar yang saat ini berdiri di ambang pintu.

Oh sial, dia laki-laki.






FriendsweetWhere stories live. Discover now