Prolog

20 8 0
                                        

TAHUN 1890

Kerajaan itu berdiri megah di balik tembok tinggi, seolah ingin memisahkan satu nyawa dari dunia luar. Di dalamnya, seorang pangeran tumbuh dalam perlindungan berlebihan—bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang takut pada apa yang tersembunyi di dalam darahnya.

Alaric Veyron.

Sejak lahir, ia tak pernah benar-benar bebas. Setiap langkahnya diawasi. Setiap napasnya dijaga. Tidak ada yang pernah memberitahunya alasan pasti—selain satu hal yang terus berulang di benaknya: demi keselamatan kerajaan.

Malam itu, keselamatan berubah menjadi pelarian.

Perang merobek keheningan. Api menyala di kejauhan. Derap kuda dan teriakan prajurit bercampur menjadi satu. Di tengah kekacauan, Alaric berlari bersama pengawalnya, menembus hutan yang basah oleh kabut dan ketakutan.

Sampai dua sosok menghadang jalan mereka.

Bukan manusia.

Dua kuda hitam berdiri diam, matanya menyala redup. Dan di antara mereka, seorang perempuan melangkah maju. Rambutnya gelap, wajahnya cantik dengan ketenangan yang salah tempat. Pedang di tangannya memantulkan cahaya api perang.

“Keluarlah, pangeran lemah.”

Suara itu dingin, tajam—bukan ancaman, melainkan kepastian.
Pertarungan meletus. Lima menit yang terasa seperti keabadian.

Ketika pengawal Alaric menahan perempuan itu, sang pangeran berlari—jauh, tanpa menoleh. Ia hampir percaya dirinya selamat.

Hampir.

“Jangan coba-coba lari.”

Pedang itu melesat, menghentikan langkahnya tepat di depan kaki. Perempuan itu sudah berdiri di hadapannya, napasnya tenang, tatapannya menembus.

“Siapa kamu?” tanya Alaric, suaranya bergetar. “Cantik… tapi mengerikan.”

Perempuan itu tersenyum singkat. “Aku hanya memastikan kau melihat dunia yang tak pernah diizinkan ayahmu kau sentuh.”

Nama itu kemudian terucap—pelan, namun mematikan.

Seraphyne Aethernox.

Hutan kembali sunyi setelah pertarungan itu berakhir. Tubuh pengawal tergeletak tak bergerak, sementara kabut perlahan menelan jejak darah. Alaric berdiri kaku, napasnya belum stabil, matanya terpaku pada perempuan di depannya.

“Apa maumu sebenarnya?” tanyanya akhirnya. “Membunuhku?”

Seraphyne Aethernox menurunkan pedangnya. Untuk pertama kalinya, ekspresinya tidak setajam sebelumnya—namun jauh lebih berbahaya.

“Aku datang bukan untuk membunuhmu,” ucapnya datar. “Aku datang untuk menuntut hak.”

“Hak apa?”

“Takdir.”

Alaric terkekeh pendek, getir. “Takdir macam apa yang datang dengan pedang dan darah?”

Seraphyne melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Tatapannya mengunci mata Alaric, membuatnya sulit berpaling.

“Ayahmu membunuh ratu kami,” katanya pelan. “Sebagai gantinya, kerajaan Aethernox menuntut satu hal.”

Alaric menelan ludah. “Apa?”

“Kau.”

Angin malam berdesir. Kata itu menggantung, berat.
“Kau akan bertunangan denganku,” lanjut Seraphyne tanpa ragu.

“Pernikahan ini bukan soal cinta. Ini tentang keseimbangan. Tentang mengakhiri perang yang ayahmu mulai.”

Alaric terdiam. “Dan kalau aku menolak?”

IMMORTAL BLADE ⚔️Bağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin