Pagi itu, suasana di kediaman Jeffrey Arya Wicaksana terbilang sangat ricuh. Padahal, rumah tersebut hanya dihuni oleh dua onggok makhluk hidup.
Kenapa bisa seramai itu?
Jawabannya jelas: setan kecil bernama Jenovan Arka Wicaksana.
Anak itu sedang melampiaskan kekesalannya di atas ranjang ayahnya dengan berguling ke kiri dan ke kanan sambil menggerutu penuh emosi. Penyebabnya sederhana, rencana liburan mereka batal. Dan pelakunya tentu saja sang Daddy yang harus dinas ke luar kota secara mendadak.
"DADDY MAH INGKAR JANJI TERUS! DAD TUH GA SAYANG AKU YA!" teriak Jenovan sambil menendang-nendang bantal.
Saat ini mereka berdua berada di kamar Jeff. Awalnya, Jenovan hanya ingin memastikan jam keberangkatan mereka besok. Namun begitu pintu kamar terbuka, yang ia lihat justru pemandangan tak terduga dimana Daddy-nya sedang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.
Banyak. Banget.
Padahal setahu Jenovan, mereka cuma mau ke pantai. Pulang-pergi. Bukan pindah rumah.
Rasa bingung itu berubah jadi bara ketika ia bertanya dan mendengar jawabannya.
"Ada urusan penting yang harus Dad selesain di luar kota, Dek. Cuma minggu ini aja kita batalin liburannya. Kamu bisa main dulu sama Gael ya," jelas Jeff dengan nada lembut, modus merayu.
Jeff sebenarnya sudah memprediksi reaksi dramatis ini. Ia tahu betul putranya. Jenovan itu gampang ngambek, tapi juga gampang dibujuk. Apalagi kalau sudah menyangkut oleh-oleh.
Sayangnya, hari ini bujukan standar tidak mempan.
"CUMA MINGGU INI KATANYA?!" sanggah Jenovan. "Dad sering banget batalin janji liburan gara-gara kerjaan. Inget ya Dad, harta ga dibawa mati!"
Jeff mendengus. "Ck. Emang ga dibawa mati, tapi tanpa harta Dad, kamu juga ga bakal hidup enak kayak sekarang, Jenovan."
"Dan perlu kamu inget juga, Dad tuh lebih sering batalin meeting cuma gara-gara kamu nelepon secara dramatis padahal ujung-ujungnya cuma kepentok pintu."
Jenovan mendengus kesal. "Ya salah Daddy itu mah. Lebay banget sih, jadinya gampang aku pengaruhin."
"Terserah kamu mau bilang apa. Intinya Dad harus pergi sekarang. Jadi mohon kerja samanya ya, anak ganteng."
Jenovan melipat tangan. "Dad pergi cuma sehari, kan?"
Jeff meringis. "Dad harus pergi... seminggu."
"DASAR DUDA GA SAYANG ANAK! AKU MAU KABUR AJA LAH!"
Tanpa menunggu respons, Jenovan langsung meloncat turun dari ranjang, berlari keluar kamar, dan membanting pintu keras-keras. Tak lama kemudian, terdengar suara gerbang dibuka.
Apakah Jeff panik?
Tentu saja tidak.
Ia tahu persis arti "kabur" versi Jenovan. Itu berarti pindah lima langkah ke rumah sebelah rumah sahabatnya, Tyler Bagas Pramudya.
Dengan santai, Jeff melanjutkan kegiatan mengemas barang. Setelah semuanya siap, ia memasukkan koper ke mobil dan bersiap menuju bandara. Tapi sebelum itu, tentu saja ia harus mampir ke rumah Tyler untuk menitipkan sang setan kecil dan berpamitan.
---------
Ketukan pintu disambut cepat. Begitu masuk, Jeff langsung mendapati pemandangan familiar, Tyler duduk santai di sofa sambil mengusap kepala Jenovan yang menempel erat di kakinya. Di sofa lain, Lusiana Kirana Putri dan Gael Raka Pramudya hanya bisa menggeleng melihat kelakuan bocah dramatis itu.
YOU ARE READING
Setan Kecil Daddy
FanfictionHanya menceritakan kehidupan sehari-hari Daddy Jeffrey si duda tampan, mapan, dan beriman dengan setan kecilnya Jenovan.
