1 dekade silam, Qin Hena telah melihat harapan yang digantung telah rata dengan tanah. Menyisakan satu reruntuhan yang coba dia kembalikan dalam gantungan.
Seorang anak yang selamat telah mengabdi kepada kepolisian dengan dalih berutang budi.
Beke...
Reminder : Cerita ini ditujukan untuk Wrionvity Project Gen 5. Akan ada pembunuhan, mutilasi, kelicikan, perbudakan, penculikan, dan hal yang tidak menyenangkan lainnya. Tidak bermaksud untuk menggiring opini pembaca. KEBIJAKAN DIPERLUKAN!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
=^.^=
"Pagi menyapa diri dengan segelas susu dan madu. Setiap pecahan kaca yang terberai di lantai mengingatkanku pada dirimu yang telah tiada lama." - Moon Cat.
Tangan halus menggenggam album foto yang sudah lama dia simpan dalam laci kesayangannya. Waktu itu menunjukkan 18 Agustus 2000. Putra kedua mereka lahir dibalik ketenangan gelap.
Dini hari sunyi namun penuh drama sesak nafas. Perawat berbondong mengambil air hangat. Membantu persalinan Nyonya Qin yang hampir saja kehilangan nyawanya akan perdarahan hebat. Rumah sakit yang tenang kini penuh doa dalam diam.
Tuan Qin terus menggumamkan doa, sedangkan putra pertama mereka menyaksikan dengan tatapan ringis. Begitu lama mereka dalam ruangan membuat Tuan Qin tidak sabar mengetahui kabar wanita yang dia cintai.
Dokter Wanita SpOG keluar. "Tuan Qin, masuk dan temani istri Anda."
Pada akhirnya pukul 1 pagi, bayi lahir dengan selamat. Mata terpejam, tenang, dan tidak bernafas sama sekali. Dokter menyingkir setelah memutus ari-ari. Memukul pelan dada bayi. Rasa kekhawatiran memuncak ketika berlalu menit tanpa pergerakan. Oksigen sudah dialirkan.
Dalam sudut pandang Nyonya Qin dia hanya melihat kaki bayinya, membayangkan bagaimana kaki kecil itu menapak tanah.
"Dia tidak bergerak sama sekali." Dokter sudah mulai putus asa. Dua dokter Obgin yang menemani hanya merasa bahwa dunia mereka hancur.
Dengan berat hati sang dokter menggendong bayi yang sudah dia balut tebal dengan kain putih. Tuan Qin menahan tangis sekuat yang dia bisa. "Putra Kedua Qin lahir prematur setelah mengalami perdarahan hebat. Saya tidak menyangka hal ini akan terjadi."
Nafasnya tersengal dan tangannya gemetar. Walau begitu, Nyonya Qin meraih bayinya pelan. Mendekap bayi yang sudah dia jaga sepanjang hidupnya. Air mata jatuh membasahi bibir bayi mungil. Tuan Qin mendekap keduanya. Hanya mengelus kepala bayi yang tidak bernywa.
Kepalan tangan mengenggam jemari besar Nyonya Qin, kuat dan penuh tekanan seakan dia sedang meraih nikmat dunia. Tubuh kecilnya tersentak. Bayi itu mencoba membuka mulutnya.
"Sayang, mama di sini nak." Kecupnya pada kening kecil.
Namun, tiada suara yang dia lepaskan. Hanya tangisan dan mulut terbuka sempurna. Sejak saat itu keputusan paling menyakitkan ditanda tangani bahwa Putra Kedua mereka tidak memiliki pendengaran dan suara.
Dari usia 1 tahun Hena menggunakan alat bantunya. Walau suaranya hanya seperti cicitan burung kecil. Bayi kedua mereka aktif. Hena lahir 211 hari kehamilan. Saat itu Nyonya Qin banyak mengalami gangguan kehamilan dan tetap memertahankan nyawa kecil itu.