Udara pagi selalu terasa menusuk kulit Sunoo. Bukan hanya karena dinginnya, tapi karena tubuhnya yang dipenuhi luka lebam membuat setiap hembusan angin terasa seperti pisau kecil yang menggores pelan-pelan. Ia terbangun di atas kasur tipis yang sudah lama kehilangan empuknya, seprai kusam itu berbau lembap dan sedikit amis—bau darah kering yang tak pernah benar-benar hilang.
Sunoo meringis pelan saat mencoba menggerakkan tubuhnya. Tulang rusuk kirinya masih terasa nyeri. Punggungnya seperti ditusuk ribuan jarum, dan pergelangan tangannya membiru, bekas cengkeraman kasar semalam. Nafasnya tertahan beberapa detik, menahan rasa sakit yang sudah seperti teman lama dalam hidupnya.
“Seperti biasa…” bisiknya lirih.
Setiap pagi selalu sama. Bangun dengan tubuh remuk, hati kosong, dan pikiran yang sudah pasrah.
Ia bangkit perlahan, menahan rasa perih di sekujur badan. Cermin kecil di sudut kamar menjadi saksi bisu setiap penderitaan yang ia simpan sendiri. Sunoo menatap bayangannya: wajah pucat, mata sembab, bibir pecah, dan lebam samar di rahang yang berusaha ia tutupi dengan kerah jaket nanti.
Ia tidak menangis. Sudah lama air mata terasa sia-sia.
Dulu, hidupnya tidak seperti ini.
Saat ibunya masih hidup, rumah itu memang sederhana, tapi hangat. Ibunya selalu tersenyum walau lelah. Selalu memastikan Sunoo makan, selalu membelai rambutnya ketika ia pulang sekolah. Bahkan ketika ibunya menikah lagi, Sunoo masih percaya hidupnya akan baik-baik saja.
Ayah tirinya dulu terlihat ramah. Pendiam, tapi tidak kejam. Sunghoon, kakak tirinya, juga hanya dingin, tidak pernah ramah, tapi tidak pernah menyakitinya.
Semua berubah setelah kecelakaan itu.
Hari ketika ibunya pergi untuk selamanya.
Hari ketika dunia Sunoo runtuh tanpa peringatan.
Sejak saat itu, ayah tirinya berubah menjadi sosok yang tidak ia kenali. Alkohol menjadi teman setia pria itu. Bau minuman keras selalu menyelimuti rumah. Dan Sunoo… menjadi sasaran kemarahannya.
Sunoo berjalan ke kamar mandi kecil, membasuh wajahnya dengan air dingin. Pantulan di cermin membuat dadanya terasa sesak. Ia menatap lebam-lebam yang tidak bisa lagi dihitung jumlahnya.
“Aku masih hidup,” gumamnya pelan.
Seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia yakinkan pada dirinya sendiri.
Di luar kamar, terdengar suara langkah berat. Sunoo membeku seketika. Jantungnya berdetak kencang.
Sunghoon.
Kakak tirinya itu lewat tanpa melirik sedikit pun. Tatapannya selalu kosong, dingin, seperti Sunoo hanyalah udara. Sunoo pernah berharap Sunghoon akan menolongnya, setidaknya sekali. Tapi kenyataannya, Sunghoon hanya diam. Melihat. Lalu pergi.
Dan diam itu terasa sama menyakitkannya dengan pukulan.
Sunoo menggenggam erat handuk kecilnya.
“Mungkin… dia memang tidak menyukaiku,” pikirnya.
“Mungkin kehadiranku cuma beban.”
Setelah bersiap, Sunoo mengenakan jaket panjang untuk menutupi lebam-lebamnya. Ia mengambil tas kecil berisi dompet dan sisa uang yang ia sembunyikan di sela buku. Uang yang selalu menjadi alasan kenapa ia dipukul. Uang yang tidak pernah cukup. Uang yang membuat hidupnya seperti neraka.
Ia bekerja di minimarket kecil tidak jauh dari rumah. Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk makan dan bertahan. Sayangnya, hampir semuanya selalu dirampas.
Saat membuka pintu, suara dari ruang tengah terdengar.
“Kalau pulang telat, siap-siap saja…”
Suara ayah tirinya serak dan penuh bau alkohol. Sunoo tidak menjawab. Ia hanya menunduk, lalu melangkah pergi. Lebih cepat ia keluar dari rumah itu, lebih baik.
Di jalan, udara pagi yang dingin menyentuh kulitnya. Ia menarik napas dalam-dalam.
Di luar, dunia terlihat normal. Orang-orang berjalan, tertawa, hidup dengan bebas.
Sedangkan ia… terjebak.
Sudah hampir satu tahun hidupnya seperti ini.
Satu tahun disiksa.
Satu tahun diperas.
Satu tahun hidup tanpa pelukan, tanpa perlindungan.
Ia ingin kabur.
Sangat ingin.
Tapi ke mana?
Ia tidak punya siapa-siapa.
Sunoo menatap langit pagi yang cerah.
“Kalau aku pergi… apa ada tempat yang mau menerimaku?”
Pertanyaan itu selalu muncul, dan selalu berakhir tanpa jawaban.
Langkahnya terus berjalan menuju minimarket, membawa tubuh yang penuh luka dan hati yang semakin mati rasa.
Dan di rumah itu, ia tahu, malam nanti akan terulang lagi.
Sama seperti kemarin.
Sama seperti hari-hari sebelumnya.
Tanpa akhir.
YOU ARE READING
"From Hell to Your Embrace"
RomanceDi balik senyum cerianya, Sunoo menyimpan luka dan trauma dari rumah yang penuh kekerasan. Hidupnya adalah tentang bertahan dan berpura-pura baik-baik saja. Sementara itu, Sunghoon, yang terlihat dingin dan tak peduli, sebenarnya selalu menjaga Suno...
