Yang Hilang

12 2 0
                                        

PLAK!

Lima anak muda yang sedang asyik bercengkerama seketika berhenti. Seorang gadis berambut hitam legam berdiri di hadapan mereka, napasnya naik turun, mata sipitnya menatap nyalang ke arah lelaki yang baru saja ditamparnya.

"Jadi, gini kelakuan lo di belakang gue?!" Suara gadis itu meninggi, matanya memanas dikuasai emosi.

Lelaki itu memilih diam sembari mengusap pipinya yang kebas.

"Kalian semua juga tahu kalo Vasant selingkuh sama Gemini?" Gadis itu mengabsen setiap wajah temannya.

Satu anak mengangguk, sisanya memilih bungkam. Sementara itu, gadis berambut pirang sepinggang  berdiri. Wajahnya tidak menyiratkan rasa bersalah sedikit pun.

"Sadar diri aja, Yu. Lo itu udah berubah sekarang, wajar kalo Vasant milih pergi," ujar Gemini menyeringai.

"Wajar lo bilang? Kelakuan kalian itu gak bisa dianggap wajar! Orang yang selingkuh dan ngedukung perselingkuhan itu sampah. Kalian semua sampah!" seru Dahayu dengan penuh penekanan.

"Aku bisa jelasin, Sayang. Ini semua gak seperti yang kamu liat." Vasant berujar dengan lembut.

"Gak usah 'aku-kamu', gak usah panggil gue 'sayang'. Semua bukti yang ada udah lebih dari cukup dari sebuah penjelasan!" tukas Dahayu dan berlalu pergi dari sana.

Vasant tak tinggal diam, dia mengejar gadis kesayangannya. Sepi melumat keempat anak yang tertinggal. Selama tiga puluh menit mereka bergeming di tempat masing-masing. Tidak ada yang saling menyalahkan.

"Vasant benar, Dahayu berubah." Ardhikari—lelaki berambut gondrong—memecah keheningan.

"Seumur hidup gue gak pernah liat Dahayu semarah itu. Kalian liat gak wajah dia tadi? Wajah teduhnya benar-benar hilang!" timpal Gantari menyibak rambut sebahunya.

"Lo gak ngerasain sesuatu yang lain, Ri?" sahut Gemian—kembaran Gemini.

Gantari melipat bibir, tatapan teman-temannya dipenuhi rasa penasaran. Namun, jelas bahwa Gantari tidak merasakan apapun.

"Rencana kita kelewatan gak, sih?" Gemini menjadi gelisah.

"Besok biar gue jelasin, kelamaan kalo harus nunggu tiga hari lagi. Kita bisa pake rencana B." Vasant yang telah kembali duduk di antara teman-temannya.

"Lagian ini juga udah jam sembilan, udah jam malamnya Dahayu. Takut dia tambah ngamuk kalo diganggu," ujar Gantari.

Semua bubar dan memasuki kamar masing-masing. Mereka berenam merupakan mahasiswa semester sembilan di kampus yang sama—berbeda jurusan, tetapi telah bersahabat sejak SMP. Begitu memasuki semester sembilan, mereka memilih mengontrak sebuah rumah agar dapat saling membantu mengerjakan skripsi. Rumah dua lantai itu dikontrakan hanya bagian bawahnya saja, bagian atas ditinggali oleh pemiliknya. Rumah itu sangat besar, bahkan di lantai bawah ada sepuluh kamar yang masing-masing memiliki kamar mandi, tersedia juga dapur, ruang makan, ruangan bersantai, dan ruang tamu.

                                         *****

Pagi harinya, Vasant pergi menemui Dahayu. Lelaki itu berpakaian rapi, siap berangkat ke kampus untuk bimbingan skripsi. Keempat lainnya telah berangkat lebih awal, ada yang pergi ke kampus, ada juga yang pergi bekerja part time.

Ketukan pintu tak kunjung dibalas, Vasant menjadi cemas, tanpa pikir panjang dia segera memutar gagang pintu. Terbuka. Namun, hal itu membuat Vasant mengernyit. Aneh. Tidak biasanya Dahayu membiarkan kamarnya tidak terkunci meskipun dia berada di dalam.

"Sayang, kamu masih mandi?" panggil Vasant dengan lembut dari ambang pintu.

Keheningan membalas panggilan tersebut. Kamar Dahayu selalu tertata rapi, tetapi kali ini terlihat berantakan. Handuk bekas mandi tergeletak begitu saja di lantai, tisu berserakan, pakaian menumpuk di sudut kamar—entah bersih atau tidak. Vasant melangkah perlahan, memeriksa laptop, sepatu, dan beberapa barang yang setidaknya menandakan bahwa gadis itu pergi ke luar.

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Jan 19 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

Yang HilangOù les histoires vivent. Découvrez maintenant