Tak tak
Suara itu mengundang atensi Yoona yang baru saja keluar dari kamar. Merapatkan kardigan yang hangat dan lembut. Rahangnya menegang kala menangkap siluet tubuh Sehun yang sibuk dengan sebuah pot bunga.
Cetakk
"Kau sudah bangun? Tidak biasanya kau bisa terbangun tengah malam." Senyum tipisnya tampak teduh di bawah lampu malam.
"Sedang apa kau disini?"
Dia mengamati, memori terulang seperti roll film. Chanyeol melakukan kebiasaan itu ketika bersantai.
"Begitu banyak daun kering yang belum sempat digunting. Ini akan mengganggu daun barunya. Ah, guntingnya mulai berkarat, aku akan mengambil yang baru."
"Ini milik Chanyeol. Bukan milikmu."
Yoona merebut paksa kemudian diletakkan kasar di meja membuat Sehun terkesiap.
"Biar kutegaskan padamu. Kau. Adalah, Oh Sehun. Bukan Chanyeol. Segila apa psikismu, kau tetap Oh Sehun. Berhenti membuat dirimu bodoh hingga tidak mengenali dirimu sendiri."
Rahang tegas pria itu mengeras, tatapan yang perlahan tajam itu menghujam wanita di hadapannya. Kemudian menunduk, hela nafas panjang menetralkan gemuruh dalam benaknya.
"Aku ingin menjelaskan. Tapi, aku selalu dikalahkan oleh fakta bahwa apapun yang kukatakan adalah salah karena orang-orang hanya akan melihat tubuh Sehun, dan bukan aku yang terjebak di dalam sini."
Yoona tetap menolak apa yang dianggapnya omong kosong.
"30 Mei, tepat di hari ulang tahunmu aku melamarmu. Di bawah ledakan kembang api dan disaksikan ombak kecil di tepi pantai. Dan di hari pernikahan kita, Sehun tidak bisa hadir karena jadwalnya. Kita terlalu lelah hingga melewatkan malam pertama. Kita bahkan baru melakukannya seminggu setelahnya ketika menghabiskan bulan madu di Maldives..
..Kau dengan gaun putih berpita cherry terjatuh membuat sisi gaun robek. Kau tidak ingin menggantinya karena gaun itu pemberianku. Kalung daun clover yang sangat kau sukai, kau menyimpannya di kotak musik sebelum memindahkan ke kotak perhiasan. Tanda lahir yang ada di tubuhmu.. aku mengetahuinya. Jika semua tidak nyata, lalu apa yang ada dalam ingatanku ini, Yoona?"
Netra kembarnya berkaca, nyaris berlinang air mata jika saja dia tak juga pergi. Menutup rapat kedua telinga selagi berteriak.
"DIAM!! KAU ITU SEHUN, KAU ITU SEHUN!"
Nafasnya memburu, tak tahan dengan segala ketidakwarasan. Dunia seperti panggung sandiwara yang mempermainkan perasaan serta hidupnya.
"Pergilah. Dan jangan muncul lagi di hadapanku."
***
Kondisi tubuh Chanyeol semakin memburuk, tanda-tanda vitalnya melemah, cedera traumatik di beberapa bagian membuatnya menjadi penghuni ICU sejak Sehun keluar rumah sakit. Segala peralatan medis menempel, hanya itu yang dapat menopang harapan hidup yang tersisa sekian persen.
Nyaris tiga bulan berlalu. Yoona masih setia di sisinya, bekas air mata mengering sebagai saksi lebih banyak sakit. Pria yang telah menghabiskan hidup bersamanya selama setahun ini, terlihat tenang dalam lelapnya.
Di tempat lain yang berbeda, Sehun menjalani sesi latihan dan pertandingan di Singapura. Dia tumbang hanya dengan satu pukulan, sementara Ryujin sebagai manajer ikut memberi semangat. Namun, terulang lagi.
Ryujin merasa aneh, "Hei, Oh Sehun! Ayo bangkit dan pukul dia!"
Pria itu terhuyung, walau berat, dia pun bangkit. Membawa dirinya ke arah lawan dan melayangkan pukulan serampangan.
YOU ARE READING
SHORT STORIES || YoonHun
Short StoryBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
