PART 1

23 1 2
                                        

BAB 1: AWAL YANG JUJUR

Kelas itu diterpa cahaya pagi yang hangat, menyelinap melalui jendela besar dan melukis garis-garis emas di atas meja kayu yang sudah usang. Suasana riuh rendah khas sebelum perkuliahan dimulai sudah memenuhi ruangan. Di pojok dekat jendela, Bima duduk sendirian. Tatapannya kosong menembus kaca, menyaksikan daun-daun bergoyang pelan seolah ia sedang mengamati sebuah dunia yang bergerak dalam keheningan.

"Bro..." suara di sebelahnya memecah lamunannya. Ery, sahabatnya, menyender dengan santai sambil menggambar coretan abstrak di pinggiran buku catatan. "Gue tau lo introvert. Tapi jangan sampe tumbuh akar di pojokan kelas juga dong."

Bima tidak menoleh. Nada datarnya seperti sudah diukur. "Gue cuma menikmati pagi."

"Yang lo nikmati itu kesendirian," Ery membalas dengan pelan, matanya berbinar nakal. "Nanti kena karma, lo nikah sama kursi plastik."

Tawa kecil terdengar dari tengah kelas. Salsa, dengan jilbabnya yang rapi, sedang heboh membetulkan letak brosnya sambil bercerita pada Tiara dan Alya. "TIARA! Nih orang satu lagi, cowok dari kelas seberang ngajak gue jalan. Tapi nanyanya gini: 'Kalau nggak sibuk, kamu mau nemenin aku ke kantin?' KAN ANEH! KANTIN DOANG!"

Tiara tertawa ngakak, suaranya menggemakan keseluruhan sudut ruangan. "HAHAHA, Idih cuma ke kantin doang, minimal ke resto kek."

Alya, yang sibuk mencatat sesuatu di buku tugasnya, melotot sejenak. "Udah deh, cowok sekarang tuh banyak yang kayak sinyal: kuat bentar, terus ngilang."

Di barisan belakang, Dimas asyik mengunyah keripik kentang diam-diam, sementara Kevin sibuk mengatur lensa kameranya, mencari angle terbaik untuk menangkap cahaya pagi yang dramatis.

"Kevin, fotoin gue dong pas makan keripik dong," pinta Dimas dengan suara berdebu. "Nanti caption-nya: 'Menikmati hidup sebelum dosen masuk.'"

Tanpa ekspresi, Kevin menjawab, "Gue lebih tertarik motret cahaya dari jendela. Lo terlalu chaos."

Reyhan, yang bersandar di kursinya dengan gaya sok cool, menambahkan, "Kelas ini pagi-pagi udah kayak warung kopi. Rame tapi nggak ada yang serius belajar."

Nadira, yang sejak tadi asyik dengan novel tipis di tangannya, akhirnya angkat bicara tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman buku. "Justru ini yang bikin hidup. Kalo sepi terus, kelas kek kuburan."

"Kalian rame banget!" Zahra memperingatkan sambil menatap jam tangannya. "Bu Ami tuh bentar lagi masuk loh. Ini mata kuliah penting!"

Seperti dipanggil oleh kekhawatiran Zahra, pintu kelas terbuka. Bu Ami masuk dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Map berwarna coklat tua digenggamnya erat. "Assalamualaikum Semuanya," sambutnya hangat.

"Wa'alaikumsalam, Bu!" sahut kelas serempak.

"Sebelum kita bahas materi," lanjut Bu Ami, meletakkan map di meja, "saya mau kalian tulis satu cerita pribadi. Bebas. Mau lucu, sedih, absurd. Yang penting jujur."

Keributan langsung terjadi. "BUUUU! Curhat?" teriak Tiara dengan dramatis. "Nanti ketahuan siapa yang masih keinget mantan dong!"

Salsa langsung mengangkat tangan. "Pas banget. Gue udah punya draft buat 'Kisah Nyata Gue dan Si Penipu Emosi.'"

Alya menghela napas. "Gue mau nulis soal tugas kelompok. Judulnya: 'Sendirian dalam Ramai.'"

Sementara semua sibuk dengan ide mereka, Bima masih menatap halaman kosong di depannya. Pikirannya berputar-putar di tempat yang gelap, di lorong-lorong kenangan yang ia simpan rapat-rapat. Ery meliriknya, lalu menepuk punggungnya pelan.

"Lo mau nulis soal apa, Bim?"

Bima menghela napas, gumamannya hampir tak terdengar. "Gue belum tau. Mungkin tentang... orang yang kelihatan baik-baik aja, tapi sebenernya enggak."

Saat Langit Tak Lagi BiruStories to obsess over. Discover now