zaskia

2.9K 7 0
                                        

Zaskia duduk di sudut gudang yang gelap dan berdebu itu, jilbabnya yang rapi masih menutupi kepalanya, tapi rok panjangnya sudah tersingkap hingga pahanya yang mulus terbuka lebar. Napasnya tersengal-sengal, tangan kanannya merayap ke bawah celana dalamnya yang basah kuyup. Jari-jarinya lincah menggosok klitorisnya yang membengkak, sementara jari yang lain menusuk masuk ke dalam lubang vaginanya yang licin dan panas. 'Ahh... ohh...' desahannya tertahan, matanya terpejam rapat, terlalu asyik dengan kenikmatan yang membuncah itu untuk menyadari pintu gudang yang terbuka pelan.

Asep, Tono, dan Jaka bertiga berhenti di depan pintu, telinga mereka menangkap suara jeritan pelan yang aneh dari dalam. 'Apa itu?' bisik Asep, yang paling penasaran di antara ketiganya. Mereka bertiga saling pandang, lalu diam-diam menyusup masuk. Cahaya redup dari koridor kampus menyusup melalui celah pintu, cukup untuk menerangi pemandangan yang membuat hati mereka berdegup kencang.

Di sana, Zaskia-gadis berjilbab yang selalu tampak alim dan santun di kelas, yang sering memimpin doa di masjid kampus-sedang asyik memainkan dirinya sendiri. Tubuhnya yang montok bergoyang pelan, payudaranya yang besar naik-turun di balik baju kurungnya, putingnya mengeras menonjol di kain tipis itu. Jarinya kini bergerak lebih cepat, menusuk-munusuk vaginanya dengan ritme yang haus, cairan kenikmatannya menetes ke lantai gudang yang kotor.

'Zaskia?!' seru Tono pelan, tapi cukup untuk membuat gadis itu tersentak. Matanya terbuka lebar, wajahnya memerah karena malu dan syok. Tangan kanannya masih terjepit di antara pahanya, jari-jarinya basah oleh sari tubuhnya sendiri. 'K-kalian... apa yang kalian lakukan di sini?!' pekiknya, buru-buru menarik roknya turun, tapi gerakannya kikuk dan terlalu lambat.

Asep tersenyum licik, matanya tak lepas dari paha Zaskia yang masih setengah terbuka. 'Kami yang seharusnya tanya itu. Kamu lagi apa di sini, Zaskia? Masturbasi sendirian di gudang tua ini? Wah, siapa sangka gadis suci seperti kamu punya sisi liar begini.' Jaka tertawa pelan, mendekat lebih dekat, sementara Tono mengunci pintu gudang dari belakang agar tak ada yang mengganggu.

Zaskia bangkit tergesa, tapi kakinya lemas karena orgasme yang hampir mencapainya tadi. 'Pergi! Ini bukan urusan kalian!' katanya, suaranya gemetar. Tapi ketiga pria itu tak bergeming. Mereka mengelilinginya seperti serigala yang mengintai mangsa, mata mereka penuh nafsu yang tak tertahankan.

'Diam dulu,' kata Asep, tangannya meraih lengan Zaskia dengan lembut tapi tegas. 'Kami lihat kamu lagi butuh banget. Kenapa sendirian? Biar kami bantu. Kamu layani kami bertiga, dan rahasia ini aman. Kalau tidak... yah, siapa tahu besok seluruh kampus tahu betapa mesumnya Zaskia yang alim itu.' Ancaman itu disampaikan dengan senyum manis, tapi nada suaranya dingin.

Zaskia menelan ludah, hatinya berdebar antara takut dan... sesuatu yang gelap di dalam dirinya yang justru terbangkitkan. Sisi gelapnya yang selama ini ia sembunyikan, yang membuatnya datang ke gudang ini untuk melepaskan hasrat terlarang. 'K-kalian gila... aku nggak mau...' gumamnya, tapi matanya melirik ke celana mereka yang sudah menggembung di bagian depan.

Tono mendekat dari sisi lain, tangannya menyentuh pinggang Zaskia. 'Ayo, Zaskia. Kami tahu kamu pengen. Lihat, kamu masih basah gini.' Ia meraih tangan Zaskia yang lengket dan membawanya ke selangkangannya sendiri, memaksa gadis itu merasakan ereksi yang keras di balik kain. Zaskia menggigit bibir, napasnya kembali memburu.

Jaka tak mau ketinggalan. Ia membuka resleting celananya, mengeluarkan kontolnya yang panjang dan tebal, sudah menegang penuh. 'Mulai dari sini. Hisap dulu, Zaskia. Tunjukkan betapa pandainya lidahmu.' Zaskia ragu sejenak, tapi dorongan nafsu yang tak terbendung membuatnya berlutut pelan. Mulutnya terbuka, lidahnya menyentuh ujung kontol Jaka yang berdenyut, lalu menjilatnya dari bawah ke atas dengan rakus.

'Ahh, enak...' desah Jaka, tangannya meraih jilbab Zaskia agar tak lepas. Asep dan Tono tak tinggal diam. Asep membuka baju kurung Zaskia dari belakang, meremas payudaranya yang lembut dan besar, jarinya memilin putingnya hingga mengeras. 'Payudaramu ini... sempurna untuk diremas begini,' katanya sambil mencubit pelan, membuat Zaskia mengerang di sekitar kontol Jaka.

Tono menarik rok Zaskia sepenuhnya, merobek celana dalamnya yang basah. 'Lihat ini, vaginanya sudah menganga minta dientot.' Jarinya langsung menusuk masuk, mengaduk-aduk dinding dalam yang licin, sementara ibu jarinya menggosok klitorisnya. Zaskia menggeliat, mulutnya semakin dalam menelan kontol Jaka, air liurnya menetes ke dagunya.

Mereka bertiga bergantian. Setelah Jaka hampir mencapai klimaks di mulut Zaskia, Asep menariknya berdiri dan membalikkan tubuhnya. 'Sekarang giliran aku.' Ia mendorong Zaskia membungkuk, tangannya memegang pinggulnya, lalu kontolnya yang tebal menusuk masuk ke vaginanya dari belakang dengan satu dorongan kuat. 'Ahh! Ketat banget... kamu emang perawan pura-pura ya?' ejek Asep sambil memompa pinggulnya cepat, suara benturan kulit bergema di gudang.

Zaskia menjerit pelan, campuran sakit dan nikmat membuat matanya berkaca-kaca. 'Lagi... lebih dalam...' pintanya tanpa sadar, sisi gelapnya kini mengambil alih. Tono memanfaatkan momen itu, mendorong kontolnya ke mulut Zaskia, membuat gadis itu menghisap sambil tubuhnya digoyang Asep. Jaka meremas payudaranya dari samping, mencium lehernya yang terbuka.

Mereka bergiliran merasakan setiap lubang Zaskia. Setelah Asep menyemprotkan spermanya di dalam vaginanya, Tono mengambil alih posisi itu, mengentotnya dengan ritme ganas hingga Zaskia orgasme berkali-kali, cairannya menyembur ke lantai. Jaka finis di mulutnya, memaksa Zaskia menelan setiap tetes pejuh panasnya. Mereka bahkan mencoba lubang belakangnya, melumasi dengan air liur dan sari tubuh Zaskia sebelum menusuk pantatnya yang sempit.

Setelah satu jam yang penuh desahan dan erangan, Zaskia terkapar lemas di lantai gudang, tubuhnya penuh bekas ciuman dan remasan, cairan putih menetes dari vaginanya dan mulutnya. Asep, Tono, dan Jaka tersenyum puas, menarik celana mereka. 'Ini baru permulaan, Zaskia. Besok lagi, ya? Kamu milik kami sekarang.'

Zaskia hanya mengangguk lemah, senyum samar di bibirnya. Sisi gelapnya telah terbebas, dan ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

zaskiaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora