Sejak hari pertama masuk SMA Konoha, Tenten yakin satu hal: Sasuke Uchiha adalah masalah besar dalam hidupnya.
Mereka satu kelas. Satu bangku ujian.
Dan entah kenapa, selalu berada di peringkat yang saling mengejar. Jika Tenten peringkat dua, Sasuke peringkat satu. Jika Sasuke turun, Tenten yang naik. Tidak pernah akur, tidak pernah sejalan.
“Uchiha, kamu sengaja ya ngerjain soal pakai cara ribet biar kelihatan pinter?” sentak Tenten sambil menyilangkan tangan.
Sasuke melirik sekilas, wajahnya datar seperti biasa. “Kalau kamu nggak paham, itu bukan salahku.”
“Dasar sombong!”
“Dasar berisik.”
Pertengkaran kecil itu sudah jadi pemandangan sehari-hari di kelas. Guru sampai menghela napas tiap kali mereka mulai adu mulut. Tapi anehnya, tak ada yang benar-benar membenci. Bahkan mereka sendiri tak tahu kenapa selalu peduli satu sama lain.
Contohnya sekarang.
Jam istirahat kedua, Tenten baru sadar ia lupa membawa dompet. Perutnya berbunyi pelan, tapi cukup memalukan. Ia menunduk, pura-pura sibuk membaca buku, berharap Sakura tak menyadarinya.
Tanpa suara, sebuah kotak makan diletakkan di sudut mejanya.
Tenten mengangkat kepala. Sasuke sudah berdiri, bersiap pergi.
“Eh—ini maksudnya apa?” tanyanya ketus.
“Lebihan,” jawab Sasuke singkat. “Kalau nggak mau, buang aja.”
Tenten mendengus, tapi begitu Sasuke pergi, ia membuka kotak itu. Isinya onigiri dan ayam goreng—favoritnya. Ia menggigit bibir, kesal sekaligus… hangat.
“Dia tuh sebenarnya baik, tahu,” bisik Sakura yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya.
Tenten langsung menutup kotak makan itu. “Biasa aja. Jangan salah paham.”
Sakura hanya tersenyum penuh arti.
Sebaliknya, Sasuke juga memperhatikan Tenten lebih dari yang ingin ia akui. Saat melihat tali sepatunya putus sebelum pelajaran olahraga, Sasuke tanpa berkata apa-apa melempar tali cadangan ke mejanya.
“Pinjam dulu,” katanya dingin.
Tenten menatapnya curiga. “Kamu kenapa hari ini aneh?”
“Jangan GR.”
Namun sore itu, hidup mereka berubah.
Panggilan mendadak dari orang tua membuat suasana rumah Tenten terasa berat. Sasuke duduk di seberangnya, sama-sama bingung.
“Kalian sudah cukup umur,” kata ayah Sasuke tegas. “Keluarga kita sepakat menjodohkan kalian.”
“Apa?!” Tenten berdiri. “Menikah?!”
“Jika menolak,” sambung ayah Tenten, “hak waris kalian dicabut dan diserahkan ke yayasan sosial.”
Ruangan itu sunyi.
Sasuke mengepalkan tangan. Tenten menelan ludah. Mereka saling pandang—rival, teman, orang yang paling sering membuat jengkel… dan kini, calon pasangan hidup.
“Aku nggak setuju,” kata Tenten pelan.
“Aku juga,” jawab Sasuke.
Namun dunia tak memberi mereka pilihan.
Dan tanpa mereka sadari, rivalitas mereka baru saja naik level—bukan lagi sekadar sekolah, tapi pernikahan rahasia yang akan mengubah segalanya.
Next
YOU ARE READING
Rival Seumur Hidup
RomanceTenten dan Sasuke adalah rival sejak hari pertama sekolah. Satu kelas, satu sekolah, dan terlalu sering bertengkar untuk disebut akur. Namun di balik semua itu, perhatian kecil selalu muncul-diam-diam dan tanpa pengakuan. Semuanya berubah saat orang...
