1. Yang Masih Teringat

3.6K 41 0
                                        

Hari ini, angka di kalender menunjuk pada angka 5, tepat 20 tahun aku hidup. Sebuah angka yang seharusnya dirayakan dengan riuh rendah tawa teman atau kecupan hangat orang tua. Namun, rumah ini sunyi. Hanya ada debu yang menari di bawah cahaya lampu temaram. Ayah dan Ibu sudah pergi beberapa tahun lalu, meninggalkan aku dalam keheningan yang permanen. Kesendirian bukan lagi tamu bagiku; ia adalah penghuni tetap di rumah ini, duduk bersamaku di meja makan yang hanya menyisakan satu piring.

Dalam lamunanku, ingatanku melompat ke masa Sekolah Dasar dulu. Saat itu, sekat antara laki-laki dan perempuan tampak seperti jurang yang lebar. Di lapangan sekolah yang berdebu, anak laki-laki berlarian mengejar bola, berteriak dengan suara serak dan baju yang basah oleh keringat. Aku? Aku berada di sisi lain dunia itu.

​Aku adalah bagian dari lingkaran anak perempuan. Di bawah pohon kersen, kami duduk melingkar dengan boneka-boneka plastik dan potongan kain perca. Aku merasa aman di sana. Kelembutan mereka adalah bahasaku, dan tawa mereka adalah pelindungku. Aku tidak pernah merasa asing di antara mereka; justru, di sanalah aku merasa utuh. Setiap ada sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain, di sanalah Adri—si Dede—akan ditemukan.
​Aku tumbuh dengan bayang-bayang aku adalah bagian dari mereka.

​Perubahan itu datang tanpa mengetuk pintu saat aku memasuki SMP. Dunia boneka perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran baru yang menghentak. Fokusku mulai bergeser. Bukan lagi pada permainan, melainkan pada sosok-sosok yang sebelumnya tak pernah kuperhatikan: laki-laki dewasa.

​Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadaku setiap kali melihat mereka. Pandangan polosku bertransformasi menjadi rasa penasaran yang membakar. Aku sering terpaku saat melihat punggung lebar seorang pria yang sedang bekerja, atau otot-otot lengan yang menegang. Terutama saat melihat mereka bertelanjang dada di bawah terik matahari; ada sensasi asing yang menjalar, membuat bulu kudukku berdiri dan tanganku gemetar.

​Ada dorongan liar untuk sekadar menyentuh kulit mereka, merasakan urat-urat yang menonjol seperti akar pohon yang kuat. Namun, saat itu, aku hanya bisa mematung. Dinding ketakutan akan penghakiman sosial masih terlalu tinggi untuk kulompati. Aku menyimpan gejolak itu rapat-rapat di balik dadaku yang sesak.

​Masa SMA adalah masa pencarian yang melelahkan di tengah kesunyian. Di sekolah, aku tetap menjadi Dede yang pendiam, namun di balik layar ponsel, aku mencoba mencari jawaban. Media sosial menjadi jendela kecilku untuk melihat dunia luar, tempat aku mencoba mencari koneksi dengan pria-pria dewasa yang kuharapkan bisa mengerti bahasa tubuhku.

​Ada banyak nama, banyak foto, dan ribuan baris teks yang terkirim. Namun, semuanya terasa semu. Hubungan itu hanya hidup di dalam sinyal-sinyal dunia maya, begitu kami menyebut trend saat itu. Pertemuan nyata yang kunantikan tak pernah terwujud. Aku hanya berakhir dengan memandangi layar yang dingin, sementara hatiku tetap kosong.

​Lalu, memori itu muncul. Pahad. Dia adalah kakak kelasku saat SD, sosok yang dulu tampak begitu jauh namun tiba-tiba menjadi sangat dekat. Suatu hari, sebuah "permainan" dimulai. Ia mengenalkanku ke dalam sebuah rahasia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku tidak paham saat itu tapi aku menyukainya.

​Momen itu masih terekam jelas; melihat fisik kedewasaannya secara langsung memberikan sensasi yang tak terlukiskan.

Pahad memintaku menyentuh dan memainkan kemaluannya. Untuk pertama kalinya, aku melihat realitas yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku: sesuatu yang besar, kokoh, dan berurat. Itu adalah pertama kalinya aku melihat kemaluan laki-laki dewasa.

Kami sering mencuri waktu di rumahku, berpura-pura menonton TV padahal ada "permainan" lain yang sedang berlangsung di bawah selimut. Kini, Pahad hanyalah orang asing. Jika berpapasan, kami saling membuang muka, seolah memori itu telah terkubur bersama masa lalu

​Kenangan lain yang tak kalah tajam adalah tentang Duta. Dia bukan hanya tetangga, tapi juga masih kerabat. Duta adalah sosok yang maskulin, sering mengajakku bermain layangan di sawah hingga senja menjemput. Di balik debu dan angin sawah itu, ada godaan yang selalu terselip.
​Suatu sore, keheningan sawah menjadi saksi. Ia menarikku ke sebuah gubuk tua. Di sana, tanpa banyak kata, sebuah pengalaman baru tercipta. Sebuah interaksi yang jauh lebih dalam dan lama, menanamkan sensasi yang membekas di ingatanku hingga hari ini.

Duta memintaku untuk.menghisap kemaluannya. Awalnya aku menolak tapi aku juga penasaran.

Hal pertama yang kuingat adalah. Rasanya begitu hambar, penuh dimulutku, aku hanya mengulumnya sebatas kepala kontolnya saja. Aku hampir muntah saat Duta menahan kepalaku sampai kontolnya masuk semua di mulutku. Tidak sampau keluar karena saat itu panggilan terdengar mencari kami.

Kini, Duta sudah membangun hidupnya sendiri, dia sudah menikah. Setiap kali kami bertemu, hanya ada basa-basi formalitas. Kami berdiri sebagai dua orang yang berbeda, menyembunyikan memori masa lalu yang pernah terajut di kesunyian gubuk itu.

 Kami berdiri sebagai dua orang yang berbeda, menyembunyikan memori masa lalu yang pernah terajut di kesunyian gubuk itu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Dede : Pencinta Lelaki Stories to obsess over. Discover now