Orang gila mana yang nekat berdiri di dermaga amis Incheon pada pukul dua pagi? Mungkin hanya jurnalis investigasi yang sudah kehilangan akal sehatnya, atau seseorang yang sudah tidak lagi memiliki rasa takut. Dan aku, Yoo Chaewon, sepertinya adalah kombinasi buruk dari keduanya
Kabut di Pelabuhan Incheon malam itu terasa lebih tebal dari biasanya, membawa aroma garam laut yang bercampur dengan bau besi berkarat dari ribuan kontainer yang menjulang seperti nisan raksasa. Aku merapatkan trench coat tipis yang kupakai, mencoba meredam gemetar di bahuku yang bukan hanya karena suhu di bawah nol derajat, tapi juga karena adrenalin yang memacu jantungku hingga ke tenggorokan.
Aku sudah mengejar rumor transaksi gelap ini selama tiga bulan terakhir. Aku mengabaikan setiap tatapan meremehkan dari para senior di kantor berita, bahkan menghapus setiap pesan ancaman anonim yang masuk ke ponselku seolah itu hanyalah sampah digital.
Bagiku, sebuah berita eksklusif adalah oksigen. Dan malam ini, di bawah lampu yang berkedip sekarat, aku akan menghirup oksigen itu dalam-dalam, atau mati tercekik oleh kebenaran yang kutemukan sendiri.
*****
02.30 AM
Kamera di tanganku terasa berat. Di balik lensa yang retak di sudutnya ini, aku merekam sebuah dosa yang seharusnya terkubur selamanya. Transaksi gelap di dermaga nomor tujuh. Uang, jabatan dan hukum yang baru saja diinjak-injak oleh mereka yang mengenakan lencana kehormatan.
"Satu foto lagi," bisikku pada diri sendiri.
Namun, sebelum jariku sempat menekan tombol shutter, suara langkah kaki yang berat namun teratur memecah kesunyian di belakangku. Suara sepatu pantofel mahal yang beradu dengan jalanan bersalju tipis.
Tap. Tap. Tap.
Langkah itu tidak terburu-buru. Tenang dan dominan.
Aku membeku. Seluruh sensor di tubuhku meneriakkan satu kata: Bahaya. Sebelum aku sempat untuk melarikan diri, sebuah bayangan panjang dari belakang tubuhku menyelimuti, menghalangi cahaya redup dari lampu jalan yang berkedip di atas kami.
"Lensa yang bagus," sebuah suara bariton yang berat dan serak memecah keheningan tepat di belakang telingaku.
"Sayangnya, kau mengarahkannya ke arah yang salah, Agassi."
Aku berbalik dengan sentakan kasar, jantungku hampir melompat keluar. Di sana, berdiri seorang pria yang tampak sangat tidak selaras dengan kekumuhan pelabuhan ini; Kang Shin Jin.
Ia berdiri dengan postur sempurna dalam balutan long coat hitam berbahan cashmere yang mahal. Rambutnya masih terlihat rapi meski diterpa angin laut yang kencang. Tatapan matanya yang sedingin es, yang sering kulihat di layar televisi saat ia membacakan tuntutan di pengadilan jauh lebih mematikan daripada moncong pistol mana pun.
Shin Jin menghela nafas perlahan sambil melangkahkan kakinya, mencoba mengikis jarak aman yang ada di antara kami. Aroma amberwood yang kuat tiba-tiba menyerang indra penciumanku, menghapus bau amis laut dalam sekejap.
Ia menatapku, matanya menyipit seolah sedang menginspeksi serangga kecil yang mengganggunya. Ia tidak tahu siapa aku. Dan tatapan itu, tatapan yang meremehkan itu, jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE GREY JURISPRUDENCE
Fiksi Penggemar"Keadilan mungkin buta, tapi aku bisa melihat betapa berdarahnya tanganmu, Jaksa Kang." Di jalanan Seoul yang dingin dan basah oleh hujan, Jaksa Senior Kang Shin Jin adalah penguasa. Bagi publik, dia adalah tangan besi hukum. Bagiku, dia hanyalah m...
