BAB 1: CAWAN EMAS YANG BERACUN

81 3 3
                                        

Malam itu, langit Jakarta seolah ikut tunduk di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit Bramasta Tower. Di lantai paling atas, di dalam ballroom berlapis marmer Italia dan kristal Swarovski, sebuah perayaan megah sedang berlangsung. Cahaya lampu gantung memantul di permukaan lantai yang mengkilap, menciptakan ilusi bahwa siapa pun yang berdiri di sana sedang berpijak di atas bintang-bintang.

Namun, bintang utama malam itu hanya satu: Leonardo Bramasta.
Pria berusia 30 tahun itu berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip kota. Setelan jas tailor-made berwarna biru gelap yang ia kenakan tampak melekat sempurna di tubuh tegapnya. Wajahnya adalah perpaduan antara ketampanan klasik dan kekakuan batu granit. Rahangnya tegas, dan matanya—sepasang netra hitam yang tajam—mampu membuat direktur bank paling berpengalaman sekalipun berkeringat dingin hanya dengan satu tatapan.

"Tuan Leonardo," sebuah suara lembut namun penuh hormat menginterupsi lamunannya.

Leon tidak menoleh. Ia hanya sedikit menggerakkan sudut matanya. "Bicara, Aura."

Aura Bramasta, sang adik pertama yang kini dikenal sebagai desainer papan atas, berdiri di samping kakaknya. Ia mengenakan gaun merah rancangannya sendiri yang tampak sangat anggun. "Semua tamu sudah hadir. Perwakilan dari Wijaya Group juga ada di sana. Mereka tampak... tidak senang dengan kemenangan kita atas proyek pelabuhan itu."

Leon mendengus tipis, sebuah suara yang lebih mirip ancaman daripada tawa. "Ketidaksenangan mereka adalah bukti keberhasilanku, Aura. Di dunia ini, hanya ada pemangsa dan mangsa. Dan Bramasta tidak pernah menjadi yang kedua."

"Aku tahu, Kak," Aura tersenyum tipis, meski ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Tapi kau harus ingat, harimau yang terluka adalah yang paling berbahaya. Jangan terlalu meremehkan Wijaya."

"Mereka sudah tamat, Aura. Besok pagi, aku akan menandatangani dokumen yang akan menghapus nama mereka dari bursa saham," ucap Leon dingin. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah ia baru saja memutuskan untuk membuang sampah, bukan menghancurkan mata pencaharian ribuan orang.

Tak lama kemudian, dua adik lainnya mendekat. Cindy, mahasiswi kedokteran yang selalu tampak rapi dengan kacamata berbingkai tipisnya, dan Anggun, si bungsu yang masih mengenakan seragam SMA karena baru saja pulang dari rapat OSIS, namun tetap terlihat berkelas dengan blazer tambahannya.

"Kak Leon! Selamat ya!" Anggun langsung memeluk lengan kakaknya tanpa rasa takut—hanya ketiga adiknya inilah yang berani menyentuh Leon dengan santai. "Ketua OSIS-mu ini bangga punya kakak sehebat ini."

"Fokuslah pada ujianmu, Anggun. Jangan terlalu banyak mengurusi pesta," balas Leon, namun tangannya mengusap kepala Anggun dengan gerakan kaku yang menunjukkan kasih sayang tersembunyi.

"Kak, kau pucat," Cindy menyela, menatap Leon dengan insting medisnya. "Kau terlalu banyak bekerja. Setelah pesta ini, kau harus istirahat total. Aku tidak mau kakakku pingsan karena kelelahan."

Leon hanya mengangguk singkat. "Aku baik-baik saja, Cindy. Pergilah bergabung dengan tamu yang lain. Jaga martabat keluarga."

Ketiga adiknya pun berlalu, meninggalkan Leon kembali dalam kesunyian otoriter-nya.

Detik-Detik Kehancuran

Seorang pelayan dengan sarung tangan putih mendekat, membawa nampan perak berisi beberapa gelas wine.

"Wine terbaik untuk malam kemenangan, Tuan Bramasta?" tanya pelayan itu dengan kepala tertunduk dalam.

Leon mengambil satu gelas. Ia terbiasa dengan kemewahan, dan wine ini adalah vintage yang ia pesan khusus dari Prancis. Ia menggoyang gelas itu perlahan, memperhatikan bagaimana cairan merah tua itu merayap di dinding kaca—seperti darah yang tenang.

Rahasia Kecil Kakak Besar Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang